Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Korban Jatuh Lagi


__ADS_3

"Bukan kebetulan dia datang, Mira."


Fani mendatanginya di sekolah, menunggu Jefri selesai piket.


"Biarin aja, gue juga gak tau harus ngapain pas dia datang."


"Sepertinya sesuatu akan terjadi."


"Fani. Jangan memprediksi ketentuan yang Tuhan siapkan. Apa pun itu, gue gak mau berhubungan lagi sama Mirza."


"Ayahnya pernah mengganggu keluarga kalian. Itu perbuatan tercela."


Sebagai hantu pun Fani tahu sihir tidak baik bagi korban dan pelakunya.


"Segala sesuatu ada timbal balik, sebab dan akibat supaya adil."


Fani mengangguk setuju. "Sampai kapan dia berada di sekitarmu?"


"Itu gue gak tau ... Dia pasti ada olimpiade renang makanya survei di sini."


Jefri dan temannya selesai melaksanakan piket. Mereka tos sebelum berpisah arah.


"Mau dengar pertanyaan pertama?" Jefri bertanya pada Fani.


Fani menyatukan tangan antusias. "Apa, Jefri?" Jarang-jarang dia diajak bicara olehnya.


"Sampai kapan kamu terus berkeliaran di sekitar kita?"


Semangatnya berubah menjadi keresahan.


"Mengapa kamu selalu menutup diri dengan semua orang?"


Jefri melihat-lihat dari balkon sembari istirahat sejenak. "Kamu bukan orang, Fan."


"Mira memberi izin aku main ke mana saja."


"Lo gak pernah main sama Juan?" Gantian Mira tanya dia.


Wajah Fani tertekuk cemberut kesal nama Juan disebut. Tangannya sedekap dada membuang pandangan dari mereka.


"Aku tidak berteman dengan laki-laki pemarah."


"Katanya Jefri juga pemarah," goda Mira.

__ADS_1


"Mereka berdua sama saja. Pemarah."


"Jefri cuma sensi kalau ngomong sama lo. Juan beda, ada alasan lain."


"Dia membenciku bertahun-tahun," adu Fani.


Jefri memutar badan, maju selangkah ke depan Fani. "Jangan lupa kamu pernah hampir melukai Mira."


Sunggingan tipis dari Jefri mampu membuat Fani mundur terbata.


"I-itu kan dulu. A-aku tidak sengaja."


"Jangan terlalu mencolok kalau mau terus ada di sini," ucap Jefri.


Fani teleportasi ke belakang Mira dan kepalanya mengintip sedikit ke samping.


"Semua laki-laki di sekitarmu sangat menyebalkan, Mira. Huft!"


"Bukan menyebalkan. Tapi mereka, laki-laki gak mudah melupakan masa lalu."


Jefri melangkah pergi dahulu.


Fani menghilang, Mira menyusul sepupunya sampai parkiran.


"Gak lah."


"Cuma hari ini dia datangnya?"


"Bilangnya sih besok ke sini lagi sampe olimpiade mulai. Sabtu sore kalau gak salah."


"Kalian masih saling chat ternyata... "


Apa dia terciduk?


"Mirza sering chat, tapi gak pernah gue bales. Suer. Hari ini doang gue kepo dia muncul tiba-tiba."


Bayangkan saja dari Bogor ke Jakarta bukan jarak yang dekat buat sekadar bertemu mantan kecuali Mirza seorang stalker.


Mengetahui urusan Mirza adalah adanya olimpiade renang dan sangat kebetulan pertandingan antar sekolah, Mira sebut takdir.


"Sebelum dia berulah lagi gue lebih jaga jarak sekarang. Balikan? Gak akan."


Jefri merasakan energi aneh sampai padanya.

__ADS_1


"Kenapa?" Mira perhatikan raut muka Jefri was-was dengan sekitar. "Ada hantu jahat?"


"Tunggu sebentar di sini."


Belum sempat bertanya Jefri keburu pergi lari.


"Jefri!"


Mira takut juga ditinggal sendirian di parkiran sekolah berhantu. Kemarin lihat arwah tanpa kepala menghadang di dekat palang, sangat mengerikan.


"Yah ilah!" Akhirnya Mira susul dia entah ke mana tadi.


Jefri berhenti di tengah lapangan agar bisa fokus merasakan energi.


Bola api melayang dari belakang Jefri terbang ke atas atap gedung A.


Leher pria itu menengadah tepat di mana salah satu teman sekelas Mira yang pernah Jefri lihat berdiri membelakangi tepi.


"Ngapain sih?" Mira menghampiri Jefri.


Angin senja bertiup halus membuat rambut panjang Mira berhembus.


Jefri melihat Mira di sebelah kirinya hendak mendekat dan beralih mendongak ke atas.


Tak ada waktu untuk mencegah apa yang terjadi selanjutnya.


Brak!


Tubuh lelaki terjun bebas ke bawah berlumuran darah dari kepala.


Mira berhenti. Seluruh tubuh kaku bercampur perasaan panik, takut, dan tercengang menjadi satu menyaksikan sebuah tubuh jatuh tidak jauh dari hadapannya.


Jefri tidak langsung menghampiri korban tersebut. Dia masih berdiri di tempat sambil menatap ke atas sebab melihat sosok jin baru penuh kobaran api di tubuh semunya.


"Ha- Hadi.. "


Mira jatuh terduduk mengenali siapa dia.


"Hadi! Ya Allah. Hadi!"


Mira merangkak mendekati Hadi yang amat pucat dengan tangis pecah.


"Hadi. Astagfirullah. Ya Allah, Hadi kenapa lo- Jefri! Ini gimana Hadi, Jef?"

__ADS_1


Mereka sama sekali tak menyangka ada korban lagi setelah Johan.


__ADS_2