Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Mira Emosian


__ADS_3

"Awaannn!"


Brak!


Mira membuka pintu kamar mencari keberadaan nama yang dia panggil.


"Awan! Keluar gak!"


Mira gedor-gedor pintu kamar Awan, tidak direspon.


Hana ikut keluar mencari tahu masalah mereka.


"Ada apa sih malam-malam berisik, Mira ... Astagfirullah. Kenapa?"


Perbedaan yang sangat menonjol. Ibunya penyabar, anaknya pemarah.


Mira menunjukkan unggahan foto selfie Awan beberapa menit lalu.


Hana melihat dan berkomentar, "Ya terus kenapa sama fotonya bikin kamu marah?"


"Baca caption-nya, Mah!" Mira menunjuk kalimat di bawah foto pose keren Awan memegang sapu ijuk terbalik.


'Bersiap perang melawan jurig sekolah. Good luck, Awan Ganteng! #JurigOnSchool #Perang #YokIkutan! '


"Astagfirullah, maksudnya apa ini?" Hana ternganga selesai membaca.


Mira memukul pintu kamarnya lagi. "Awan serius masih di sekolah? Udah gak waras itu anak! Awaannn!"


Bugh! Bugh!


Seolah tahu keributan terjadi di rumah Awan menelepon Mira.


'Hello, my sister!'


Mira meniup poni panjangnya dan bertanya lembut, "Di mana lo sekarang?"


'Lagi jalan'


Emosi Mira yang semula naik sedikit kembali normal.


"Lo gak ada di sekolah, kan?" Mira bersuara berat lagi. "Apa maksud postingan foto barusan?"


'Lagi jalan di sekolah'


"Jangan berani pergi ke mana-mana lagi!"


'Mau gue hempasin semua jurig di sini'


Mira ke rak sandal dekat pintu terus ngotot mau susul Awan ke sekolah.


"Tunggu di sana! Gue berangkat sekarang!"


Berpakaian piyama kotak-kotak dilapisi cardigan rajut, Mira pergi.


"Oh iya. Mama, kalau nanti jam sembilan aku belum pulang Jefri suruh susul cari Awan."


"Kamu berani pergi sendirian?"


Sejujurnya tidak. "Jefri masih tidur, kan? Ingat pesan aku. Jam sembilan!"

__ADS_1


"Iya, mama ingat. Hati-hati di jalan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumussalaam."


Mira jarang pergi malam hari seorang diri rela naik taksi cuma mau menelan orang hidup-hidup.


Setibanya di sekolah Mira sangka bangunan besar luas itu akan memperlihatkan kesan gelap dan seram.


Akan tetapi tidak sepenuhnya demikian.


Entah ada acara kemah atau ekstrakurikuler yang aktif malam hari, rasa takut Mira berkurang banyak.


Lilin-lilin di setiap tiang lantai dasar memberikan cahaya terang.


Mira telah memasuki sekolahnya di mana lapangan tengah gedung A terdapat 15 orang berlatih pencak silat.


Suara mereka menggema. Ada pun perempuan di dalam barisan, hanya tiga. Mira kagum sampai lupa tujuan awal datang kemari.


Mereka terlihat pemberani dan punya banyak nyali melawan kejahatan di dunia.


"Padahal kemarin kelas gue masih viral. Mereka gak takut gitu latihan malam-malam?" lirihnya bertanya dengan batin sendiri.


Pemandangan sedap mata ini rupanya tidak berlangsung lama usai menemukan Awan di antara mereka.


Menunggu Awan selesai lama sekali. Dia sampai mengantuk di bangku panjang, selonjoran tidur di sana.


Awan pamit ke teman-temannya yang mau pulang sehabis latihan.


Botol minum yang masih dingin Awan tempelkan ke pipi Mira sampai dia terbangun kaget.


Mira mengerjap beberapa kali. Dia ada di sini atas kehendak sendiri tapi tidak percaya seberani itu.


"Lo bikin orang khawatir mulu! Gue pikir lo sendirian di sekolah makanya gue susul! Gak taunya lagi latihan."


Awan duduk menyodorkan camilan ringan untuk menutup mulut Mira supaya tidak mengoceh.


"Lo gak nanya alasan gue mendalami silat?"


"Kamu nanya?"


"******."


"Mungkin lo dapat hidayah makanya ikut ekstra pencak silat. Tempo hari gue liat lo ngeluarin jurus-jurus random bawa sapu segala berantem sama makhluk astral."


"Gue mau melindungi orang-orang yang gue sayang."


Mira merasa hangat menjalar ke kulitnya begitu Awan mengatakan tujuan dia belajar beladiri.


"Berarti lo sayang gue dong?" goda Mira.


Sambil menutup tas Awan bilang, "Ada yang lebih sayang lo selain gue. Lo kudu bersyukur."


"Iya... "


Awan melempar jaket miliknya. "Lo ke sini buru-buru karena salah paham, gak kedinginan?" Dia mengomel.


Mira menggeleng, melapisi tubuhnya lagi dengan jaket tebal Awan.

__ADS_1


"Gak terlalu. Ada banyak lilin di sini."


"Lo rentan demam kena dingin dikit. Lain kali keluar pakai jaket atau sweater!"


"Ada alasannya gue cuma pakai baju tidur. Menurut lo, gue masih sempet pilih baju di lemari? Gue khawatir barangkali lo kenapa-kenapa. Lagian, lo masih baru di sini ... Anggap aja yang terjadi kemarin perkenalan mereka."


"Gak ada perkenalan-perkenalan beda dunia."


"Fani dulu juga begitu."


"Jangan samain mereka... "


"Banyak dari mereka takut sama kalian berdua karena mainnya langsung usir."


"Lo maunya mereka diapain? Dipelihara?"


"Ogah."


"Mau pulang gak?"


"Mauu!"


Mereka pindah ke parkiran. Masih jam delapan, artinya Jefri tidak perlu menyusul mereka.


"Lo heran gak, liat Jefri gak takut sama sekali ketemu setan?"


Pertanyaan Awan seperti orang yang baru kenal Jefri tiga hari.


Mira bantu dia pakai helm dengan benar. "Bunda, Mama, Om Pras, mereka pernah bilang Jefri jembatan buat mereka. Jembatan gak pernah tutup buat perlintasan mereka."


"Kenapa gak diputus aja ya?"


"Jefri takut gagal move on."


Awan berdecak. "Serius."


Bzzzt!


Punggung Mira terasa ditabrak sesuatu yang tak terlihat oleh kasat mata sampai terhuyung ke depan.


Beruntung Awan langsung menangkap tubuhnya.


"Mir, gapapa?"


Mira menangkap ingatan orang lain yang cukup mengerikan.


Awan memindai sekitarnya dengan teliti siapa yang mengincar Mira tapi ada begitu banyak sampai dia kesulitan.


"Tapi gapapa, kan? Masih bisa ditahan?"


"Gue cuma kaget." Sakit sih tidak.


"Mau pulang malah diincer setan. Lo sih ke sini segala."


Mira diboncengi Awan. "Gue serba salah di mata lo, Wan."


"Gue tinggal di sini mau gak?"


"Awan!"

__ADS_1


__ADS_2