
Jefri menarik kasar tangannya dari leher Juan. "Siapa bilang?" Matanya melotot berusaha menyanggah pernyataan Juan. "Itu dugaan lo, bukan gue."
Awan mendorong pelan bahu Jefri dari depan, menjauhkan mereka supaya tidak berkelahi. Kalau sampai mereka baku hantam tidak ada yang bisa memisahkan.
"Berhenti," ucapnya melihat Juan yang napasnya tak beraturan.
Mira lebih percaya diri sendiri, dia yang melihat Mirza pertama kali.
Bahu Jefri naik turun meredam emosi. Dia pergi meninggalkan sepupunya yang sama kalut.
Mira menghampiri Awan, menyuruh dia pulang mengikuti Jefri.
"Samperin Jefri, Wan."
Awan sempat memandang Juan membelakangi sambil berkacak pinggang. Temperamennya sangat buruk.
Selesai membereskan dua orang. Tersisa seorang lagi yang terkenal keras kepala.
Mira belum tahu mau bicara apa untuknya. Di satu sisi Juan menduga pasti memiliki alasan, tetapi Mira tak ingin dengar.
Tanpa berbalik Juan akhirnya berkata, "Makasih untuk makanannya. Gak ada yang mau gue jelasin. Pulang aja."
"Gue harap lo berhenti cari apa pun."
Mira ke luar dari kontrakan Juan berbelok ke rumahnya.
Keributan barusan berubah hening dalam waktu singkat. Secepat itu keadaan berubah. Juan sama sekali tak menyesal membahas Mirza dan sekolah mereka. Berkali-kali Juan tegaskan pada mereka, apa pun yang terjadi di masa lalu belum berakhir kecuali kita yang mengakhiri.
__ADS_1
Masalahnya adalah ... kematian Mirza bukan yang terakhir.
***
"Dari awal gue gak seneng Juan di sini. Baru sehari pindah bikin persaudaraan terpecah belah!" Awan menggerutu saat jalan di teras sampai tendang pintu supaya terbuka.
Brak!
"Bukan cuma dia yang mau cari tau sekolah. Tapi gak sekarang juga, gak ada persiapan matang dan rencana- ,"
Jebret!
Jantungnya hampir copot dengar Jefri banting pintu kamar.
Awan beralih masuk ke kamar Jefri. Di dalam pria itu membuka jendela lebar-lebar dan berdiri diam cukup lama menghirup udara malam.
Sepertinya menghibur bukan pilihan tepat. Mira pasti mengerti. Awan hendak pergi ke kamarnya sendiri, tapi berhenti karena pertanyaan Jefri.
Bola mata Awan bergerak tak tenang mencari alibi kuat. "Hah? Yang tadi maksudnya?"
"Iya?" Jefri maju selangkah.
"Andai iya pun gue gak bisa apa-apa." Hari ini mari singkirkan pikiran negatif tentang Mirza.
"Apa?"
"Kita udah berjuang dua tahun terakhir. Gue akui sempet ragu Mirza meninggal karena riwayat penyakit. Kecuali diagnosa dokter, kita semua tau energi Mirza habis karena mantra pisau. Itu pun gak tau betul apa gak."
__ADS_1
"Lo berdua- " Jefri mengusap rambut dengan perasaan muak. Alasan mereka tidak bisa dibenarkan.
"Biarin Juan urus urusannya. Terserah dia, itu keputusannya."
"Terus kalau dia kenapa-kenapa lo tetep biarin dia urus semua sendiri?" sahut Jefri.
Awan menunduk pasrah. "Hm. Gue rasa begitu." Ia dan Juan buat perjanjian tidak bawa hubungan keluarga di sekolah, kecuali para guru sudah mengetahui.
Mira mendengarkan dari luar. Hari berganti sangat cepat hingga mengubah pola pikir mereka. Jawaban Awan tepat, biar Juan mencari jawaban atas keraguannya.
Mira akan melihat dari jauh bagaimana proses Juan bertindak. Jika sudah jelas dan Juan berada dalam bahaya dalam prosesnya baru Mira bersedia membantu.
Mereka bukan tidak bersedia membantu dari awal. Hanya Juan yang berpikir bahwa kematian Mirza tidak wajar, maksudnya bukan karena komplikasi setelah perut tertusuk.
"Sanjaya ikut ngilang. Ke mana dia?" Awan bergumam kebingungan.
Menyebut nama Sanjaya, benar bahwa sosok bangsawan berwibawa itu turut menghilang di hari yang sama saat Mirza meninggal.
"Gue mau istirahat." Awan pergi menutup pintu dan berpikir apa mungkin karena energi mereka terkait, satu meninggal, satunya lagi lenyap.
"Jefri baik-baik aja?"
"Lo udah denger percakapan kita." Buat apa lagi bertanya.
"Sekolah lo gak ada masalah, kan? Kurangi matahin sapu kelas. Gue sama Jefri sering ditelepon Pak Adit."
Dengan mata sayu Awan menjawab, "Itu dia. Perbaiki hubungan kalian ... Seenggaknya dengan cara itu kalian bisa ambil keputusan kayak dulu. Anak SD marahan paling lama sebulan. Lo berdua dua tahun, gak jenuh saling menghindar mulu?" Terakhir hela napas beratnya mewakili perasaan hari ini.
__ADS_1
Mira ingin seperti dulu. Ia menghindar bukan marah, tapi merasa sangat bersalah hingga tidak berkeinginan berinteraksi dengan orang lain. Kesendirian yang menghimpit Mira ia anggap hukuman setimpal untuk menebus kesalahannya.
Baik Mira maupun Jefri takut membuat kesalahan serupa.