Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Tujuan Mirza Menginap


__ADS_3

Gadis itu termangu diperlihatkan sesuatu. Pupil matanya membesar akibat terkejut entitas tak diketahui bertarung dengan Sanjaya.


**


Awan menempelkan telinga ke pintu kamar Mira. Dari berisik gedor-gedor pintu berubah sunyi.


"Kenapa hening banget?" gumamnya curiga membuka pintu lagi. Awan takut terjadi sesuatu.


"Buka, Wan." Jefri maju selangkah.


Jangankan Awan. Mira yang berada di dalam tidak menyangka dibukakan cepat. Dia melihat ke lemari tetapi Sanjaya melesat cepat mencekik Awan sampai ke luar kamar.


Mira segera bangun mengejar mereka. "Dicekek gak tuh. Mampus lo, Awan, siapa suruh ngunci gue." Dia senang Sanjaya menggantikan pembalasannya.


Bola mata Jefri bergerak ke kiri dan berhenti setelah Sanjaya berada tidak jauh sejajar seraya mencekik leher Awan.


Awan memukuli tangan Sanjaya. "Apa-apaan nih! Jefri, tolongin gue!"


Sanjaya menggertakkan giginya kemudian menoleh tajam ke mereka bertiga.


"Sudah saya bilang jangan buat Mira dalam bahaya."


"Lepasin," suruh Jefri.


"Lepasin dia, Sanjaya." Mirza turut menyumbang suara. Dia menentang bertatapan dengan Mira.


"Dia cuma dengerin lo." Dagu Awan maju menunjuk Mira. "Lo mau liat gue sakaratul maut di sini, hah?! Suruh dia lepasin gue!"


"Sanjaya."


Perlihatkan bagaimana Sanjaya langsung melepaskan Awan saat Mira yang menyuruh.


"Bhuk! Bhuk!" Nyawa Awan kembali ke raga sepenuhnya.


"Lebih baik kamu yang mati daripada Mira."


"Gue tau. Tapi bukan di tangan lo."

__ADS_1


Sanjaya melihat mereka untuk terakhir sebelum pergi. "Kalian pernah berjanji. Tepati sebelum saya berbuat sesuka hati."


"Kita paham," ujar Jefri.


"Sanjaya pasti kasih liat sesuatu. Mira, lo gapa- " Mirza lupa sedang mengabaikan Mira. Mulutnya memang suka lepas kontrol.


Mira tidak memedulikan dia hendak bicara apa. Memangnya cuma Mirza yang bisa mengabaikannya? Mira pun bisa jika bertekad.


"Gue mau di kamar lo, Jef."


"Masuk." Sesudah Mira masuk Jefri melihat malangnya Mirza. "Mira gapapa."


"Gue gak ngerti kenapa lo panggil makhluk gak berperasaan ke sini buat Mira. Kita bisa jaga dia. Gak kayak yang lo liat."


Sanjaya berperan penting saat mereka tidak ada di sisi Mira. Sanjaya bukan manusia. Dia tanpa batas ruang dan waktu. Jika akan terjadi sesuatu Sanjaya bisa mengentikan lebih cepat.


"Biarin aja lah." Jefri malas ambil pusing. Sanjaya tidak selalu buruk.


**


Makan malam berlangsung canggung lantaran ada Mirza, menurut Mira. Jefri dan Awan yang biasa ribut berebut ayam tampak kalem.


Selagi mengunyah Jefri memerhatikan Mira kaku. "Ini bukan pertama kalinya Mirza makan bareng kita."


"Tanpa mama dan bunda," lanjut Awan merasa kurang.


"Ini pertama kalinya setelah kita putus," ingat Mira.


"Kata gue mah masih saling sayang balikan aja. Kebanyakan kode, lo berdua bukan anak pramuka."


Mata Jefri mendelik. Seharusnya Awan tidak bicara begitu.


"Bahas yang lain," bisik Awan maksa.


"Mana tau gue bakal ditolak, Wan." Mira lebih berpikiran terbuka sekarang.


Koar-koar membenci Mirza sudah tidak mempan. Sindiran-sindiran pahit membuat pria itu bereaksi dari gerak mata. Rasakan itu.

__ADS_1


**


Malamnya Mira berdiri dekat tiang rumah tamu. Ngapain? Jiwa mata-matanya bangun. Mira lagi menanamkan sesuatu ke otaknya.


"Jangan berharap sama Mirza. Mirza biasa saja."


"Berdiri mulu gak pegel lo?" sahut Awan dari dia ke luar kamar, ke dapur, sampai balik kamar lagi melihat Mira masih di sana.


Mirza sedang duduk berdua bersama Hana, ibunya. Mira tidak diizinkan bergabung. Katanya mau bahas sesuatu, bukan tentang Mira intinya.


Ya sudah sih, apa Mira berharap jadi bahan obrolan mantan? Tidak dong.


**


"Kamu pasti bisa, Mirza." Hana menyemangati anak itu. "Kita semua bantu kamu. Jangan patah semangat."


Mirza cuma tersenyum. Tidak ada yang ingin dia katakan terlebih pada Hana, mantan calon mertua.


"Kamu tau Sanjaya dari kapan?" Hana bertanya lantaran penasaran. "Jefri cuma tau cerita dari ayahnya. Dia belum pernah ketemu Sanjaya secara langsung, baru kali ini."


"Juan."


"Juan?" Hana kaget.


"Juan yang gue kenal?" Mira menganga.


"Udah gue duga." Jefri muncul dari balik sofa. "Gak mungkin Sanjaya dateng sendiri. Gak mungkin Mirza bisa panggil Sanjaya kecuali dia tau cara manggilnya dari seseorang." Dia berbicara sendiri belum tahu ada Mira di sana.


Rupanya Mirza tidak cerita lengkap. Cuma sebagian awal atau acak.


"Jefri. Lo nguping?" Ada lagi kelakuan sepupunya.


Jefri menoleh biasa seolah tidak terkejut Mira menangkap basah perbuatannya. "Gue lagi cari kecoak. Gak sengaja denger."


"Kecoak?" batinnya. "Gue nyapu, ngepel tiap hari gak pernah ketemu kecoak. Rumah kita bersih."


"Gue beneran liat!" Jefri ngotot.

__ADS_1


"Aneh banget. Langsung pergi gitu aja. Nguping dia. Yakin gue. Semut aja gak ada apalagi kecoak."


__ADS_2