
Dewi berhamburan menghampiri Mira begitu dia duduk menangis di tempat.
"Sakit gak? Kurang ajar emang si Alin. Biar tanggung jawab dia- "
"Anter gue ke kelas," pinta Mira.
Zafran menendang bola sembarang arah yang mau dioper ke Irlan. Dia bukan berlari ke arah Mira, tapi Alin.
Irlan langsung mencegah pria itu melabrak perempuan. "Urusan cewek, gak usah ikut-ikutan."
Jangankan bola. Tangan siapa saja yang sesuka hati menyakiti Mira, Zafran siap menghajar orang itu.
"Dewi pasti nganter Mira balik ke kelas."
Suara peluit berbunyi menandakan jam olahraga usai. Mereka bergegas ganti baju. Biasanya anak yang rajin mandi dahulu menghilangkan keringat. Ada juga yang ke kantin isi tenaga.
Dewi mengoles salep anti benjol ke kepala Mira. "Ini obat dari nenek moyang gue. Yakin gak bakal benjol."
"Cuma bola." Kecuali dia kejedot tembok baru bisa benjol.
"Jangan nyepelein bola," sahut Dewi membenahi rambut kawannya dengan hati-hati. "Si Alin emang, gak liat apa ada lo di sana!"
"Alin gak sengaja."
Mira menunggu waktu yang pas seperti kata Fani supaya Dewi bisa memberi jawaban tepat atas pertanyaannya.
"Semoga gak kenapa-kenapa deh kepala lo."
"Kenapa? Lo takut gue lupa ingatan lagi?"
Tangan Dewi yang hendak memasukkan salep ke tas langsung gemetar.
Dengan mata berkaca-kaca Mira berkata, "Gak seharusnya disembunyiin, Dew."
"Mira. Ja-jangan salah paham," ujar Dewi terbata.
Tentu Mira tahu maksud terselubung mereka merahasiakan kejadian itu. Tidak ada yang patut disalahkan.
Mira yang melupakan dengan mudah juga dengan susah mengingat Indri.
"Gue pasti ketakutan ...," katanya mengingat kembali perasaan dan traumanya. "dan dengan gampangnya ngelupain Indri."
Dewi gugup ditatap Mira beserta rasa bersalahnya.
Ah, Dewi ingat kembali kejadian kelam itu hingga hampir menitikkan air mata.
Perlahan tangan Dewi merengkuh tubuh Mira dan mengusap punggungnya. "Gue juga ngerasain takut. Itu udah cukup lama terjadi ... jangan diungkit. Gu-gue ... kasian sama lo, Mira."
Pertahanan Dewi runtuh mendengar isak tangis Mira yang sedari tadi ditahan.
"Alin sialan. Kalau bukan gara-gara bola yang dia lempar lo gak akan nangis gini."
Dewi biarkan Mira melepas semua yang dia rasakan supaya bisa menerima dengan ikhlas.
__ADS_1
"Satu yang mau gue tanyain ke lo, Mir."
Mira berhenti menangis. "Apa?"
"Sebenernya hubungan lo sama Mirza mau lanjut atau udahan? Serius."
"Heh?"
**
"Kepala si Mira gak bakal peang kan kena bola?" tanya Zafran penasaran.
"Nggak." Pertanyaan aneh macam apa itu.
Mereka berhenti di balik pintu kelas hendak masuk lantaran memergoki Mira dan Dewi menangis berpelukan.
"Mata gue gak salah liat." Zafran mengucek kedua matanya. "Nangisin apaan mereka?"
"Jangan tanya gue," sahut Irlan di belakang punggungnya tak mengerti mengapa ikut sembunyi.
"Gue nanya ke diri sendiri," balas Zafran.
"Ya udah monolog. Jangan ada suara, gue kira lo lagi nanya."
"Ah berisik lo."
"Lo duluan, nyet."
Pada pertanyaan Dewi terakhir, mereka mendekatkan telinga ingin dengar jawaban Mira.
**
"Kok gak tau sih!"
Mira mau peluk Dewi lagi tapi tabokan di lengannya lumayan ngilu.
Mira mau nangis lagi, bukan sedih, lebih pada kebingungan ditanya hubungan yang dimanipulasi otak.
"Kenapa juga gue inget masih pacaran sama dia ..." Mira sama sekali tidak memahami otaknya sendiri.
"Itu maksud gue."
"Harusnya gue ngaku pacar Kim Rae Won yang macho atau Lee Min Ho yang pewaris konglomerat plus romantis. Bisa-bisanya ..."
Plak!
"Aw!"
Dewi refleks memukul badan sahabatnya pakai buku tulis yang digulung.
"Gak usah ngaku-ngaku, makin halu!"
"Namanya juga usaha memperbaiki keturunan."
__ADS_1
Dewi menghela napas. "Sekarang gimana? Mau langsung kasih tau yang lain?"
"Wah, wah! Main rahasia-rahasiaan sekarang ya!"
Zafran masuk sembari berkacak pinggang petantang-petenteng.
Demi apa pun Irlan malu ngikut di belakang si tengil. Dia sampai menutup muka dari samping dan langsung duduk pura-pura tidak lihat mereka.
Brak!
Tidak keras. Zafran memukul pelan meja mereka.
"Jawab. Ngerahasiain apa dari gue?"
Si tengil itu tidak bisa angkuh. Dewi bahkan tersenyum menantang kembali.
"Gak ada yang mau lo sampein ke Mira?"
Dewi sudah berikan kode rahasia mereka, ya. Ingat dan catat baik-baik.
Dia? Zafran lihat kanan, kiri, atas, dan bawahnya. "Ketua kelas!" Suaranya dipaksa galak.
Mira perhatikan gaya songong Zafran. Inikah wujud sahabatnya? Aneh, menyebalkan, juga gila.
"Lo makin gak waras," decaknya geleng-geleng kepala.
"Gue gak punya kata-kata yang mau disampein," ujar Irlan.
"Serius?" Dewi mengerjap jahil.
Irlan yakin. "Hm."
"Asli?" Dewi tanya dua kali.
"Lo berdua curhat apa emang sampe gue diseret-seret?" Irlan menyelidik.
"Kalau gak ada gak apa-apa," sambar Mira sebelum mereka bertiga debat lebih lama.
"Gue mencium bau-bau mencurigakan." Zafran mengendus mereka dari dekat.
"Please, jangan pingsan karena kita belum ganti baju."
"Hoek! Pantesan!" Zafran bercanda. "Buruan ganti sana! Abis itu makan bentar di kantin biar konsen belajar. Kek gue dong."
Dia bangga memamerkan sesuatu yang menjadi kebiasaan Irlan.
"Yang konsen penuh pas belajar itu Irlan, bukan lo. Di garis bawahi kalau perlu biar gak lupa, okay?"
Mira mengambil seragam gantinya lalu mengajak Dewi keluar.
Di koridor Dewi sempat bertanya, "Lo gak apa-apa? Ah, padahal kita tadi menghayati banget. Gara-gara mereka muncul jadi gagal sedih."
"Agak kesel, tapi ya udahlah. Gue justru terhibur sama guyonan mereka," kata Mira.
__ADS_1
"Mereka gila."