Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Doppelganger?


__ADS_3

Jam terus bergerak hingga larut malam mereka dibiarkan istirahat dengan tenang. Semoga saja.


Yang cukup berumur menjaga bergantian berkeliling ke vila laki-laki dan perempuan.


Giliran Pak Adit dan Pak Roni di vila laki-laki, sementara Pak Ilman di vila perempuan ditemani Iptu Ridwan.


*


Gelisah belum tidur karena sebelumnya pingsan lumayan lama, Mira keluar dari kamar jalan-jalan sebentar. Kalau capek kan cepat tidur.


"Tumben sepi," gumamnya.


Ya coba, siapa yang berani keliling vila tengah malam. Yang benar saja dia.


Mira mendadak berhenti melihat pantulan cahaya yang sepertinya dari senter.


Mira tidak takut, sumpah. Karena lampu di lintasan penginapan menyala terang, bukan yang remang-remang.


Tak lama kemudian betul wujud manusia muncul memegang senter dan menyorot ke wajah Mira.


Mira menghalangi sorotan dengan lengan yang terbalut jaket.


Polisi yang Mira anggap mirip wartawan gara-gara sering bertanya ngalor ngidul ternyata sedang patroli.


Dari raut muka saja sudah malas banget ketemu lagi.


"Kamu ngapain jalan sendirian?" seru Iptu Ridwan mematikan senternya.


"Ngepet."


"Saya nanya serius."


"Bukannya bapak jaga di penginapan cowok? Ndadak pindah ke penginapan cewek ... Ngapain?" Dia balik tanya.


"Anak zaman sekarang ditanya malah nanya balik. Disuruh malah nyuruh orang lain. Kamu masih muda, harus sopan sama yang lebih tua."


"Akhirnya ngaku udah tuir."


"Di sini gak ada apa-apa. Pada tidur semua."


"Kamu bicara seolah saya di sini cari sesuatu," selidik Ridwan memicing mata curiga.


"Bukan?" duga Mira. "Kebetulan banget ya koneksi Anda menjalar ke bapaknya Zafran. Ikut piknik alesan jagain Zafran padahal saya tau bapak kepo sama sepupu saya." Tantangnya membusungkan dada.


Iptu Ridwan mengalihkan pandangan sesaat kemudian mendebat tidak ingin diremehkan. "Kamu kira saya kurang kerjaan kepo sama bocah tengik? Hubungan saya sama orang tua Zafran jauh sebelum jadi polisi."


"Saya gak nanya tuh."


"Terus sekarang udah dapat jawaban?"


Iptu Ridwan sempat diam. "Jawaban apa nih?"


Mira tahu itu. "Gimana rasanya liat Zafran kesurupan? Pas di lapak nasgor Anda tanya, apa kerasukan betulan ada? Sekarang percaya?"


Mira terus memojokkan Ridwan secara fisik sampai tembok. Dia maju selangkah demi selangkah, jelas Ridwan mundur dikit-dikit.


"Stop, stop. Kenapa kamu gantian interogasi saya?" Ridwan bergeser.


"Iya kah? Maafin saya, Bapak Ridwan yang terhormat!"


Hihihihihi!


"Mamak!" Mira menutup telinga refleks dengar cekikikan kencang dan cepat melintas persis di belakangnya.


Ridwan ikut kaget ditambah anak ini teriak.


Mira buru-buru balik badan mencari siapa yang cekikikan.


"Kamu denger?" tanya Ridwan.


"Saya gak budek."

__ADS_1


Bahkan saking cepatnya suara tawa misterius itu Ridwan mengusap telinga barangkali delusi pendengaran.


"Siapa lagi yang lewat sih? Anjir, telpon Jefri ah." Mira meraba jaketnya tapi kosong kelompang.


Kala menoleh sedikit ke kiri ada sekelebat bayangan hitam. Mira pindah ke belakang Ridwan berdalih berlindung.


"Kenapa? Ada setan?"


"Baru sekarang percaya," sindir Mira.


"Ada?"


"Anterin saya balik ke kamar. Bapak jalan di depan, saya makmum."


"Astaga." Ridwan maju didorong Mira. "Gak usah keluar kalau gak berani balik sendirian!"


Mira sadar menyusahkan pria yang dia olok-olok.


"Mau gimana lagi?" celetuknya pasrah terus jalan sambil mengawasi ke belakang.


"Mayan jauh juga ya kamu jalan-jalan," desis Ridwan.


"Zafran gapapa?"


"Lagi tidur."


"Pak Ridwan gimana, aman? Emang susah ngurus Zafran lagi kerasukan. Dibantuin Jefri gak repot lah ya, udah pro."


"Sangat aman."


Mira bersyukur tidak ada yang terluka. Dia memberanikan diri mendongak, tapi yang terjadi selanjutnya sangat mengguncang.


Entah yang mana Iptu Ridwan. Mira mundur sampai-sampai mengusruk ke lantai melihat ada dua Iptu Ridwan dengan ekspresi sama.


Keduanya sama bingung akan keterkejutan Mira. Mereka berdiri sejajar.


"Mira, kenapa?"


Mira melihat mereka bergantian mencari perbedaan sekecil mungkin atau lari habis ini.


Ridwan yang betul-betul manusia mencoba memahami lalu menoleh ke kanan.


Mira gemetar mereka bertatap-tatapan. Sesungguhnya Ridwan tidak bisa melihat sosok menyerupainya.


Ridwan hanya merasa Mira terus melihat dia dan sisi kanannya seolah ada sesuatu.


Tiga detik berikutnya sosok lain Ridwan menyeringai bak bertemu kembarannya.


Otaknya memerintah lari. Mira harus kabur! Lantas Mira bangun dan menarik Ridwan pergi dari sana.


Mira tidak salah bawa. Syukurlah, kalau telat sedikit bisa terjadi hal lain.


Entah apa alasan Mira menyeretnya ke depan. Mungkin dia butuh penerangan selain lampu. Yang Ridwan ketahui tangan gadis itu bergetar.


*


Pak Ilman yang tengah merokok di samping paviliun datang ke depan atas permintaan Iptu Ridwan.


Ada Mira di sana duduk ngenes dekat tembok minta ditemani selagi Iptu Ridwan ke kamar sepupunya.


Mira yang minta mereka datang.


Mira mengusir asap rokok yang dihembuskan Pak Ilman. Dia pusing berpikir apakah hantu di sini berniat jadi doppelganger laki-laki ganteng. Dari Surya, kemudian Iptu Ridwan.


Asap rokok lewat lagi.


"Ya Allah, Pak Ilman. Tangan saya gini-gini gak liat?"


"Tangan kamu kenapa?"


"Asepnya ke saya semua, Pak."

__ADS_1


Pak Ilman lantas menginjak puntung rokok. "Maaf, hehe."


Mira perhatikan gurunya sampai menoel-noel tangan. Ahh, lega betul manusia.


"Kamu makin hari tambah gak karuan," komentar wali kelas 11G.


**


Mira lihat Pak Ridwan bawa Jefri.


Bukannya senang ada dia datang, hal yang Mira lakukan justru ...


Plak!


Untuk membuktikan bukan doppelganger lagi, Mira menampar pelan wajah Jefri ketika dia berlutut khawatir.


"Astagfirullah," lirih Jefri belum tahu apa-apa pipinya sudah panas.


"Kamu gapapa, Jefri?" Pak Ilman mengecek wajah anak didiknya.


Ridwan mendesah panjang melihat kebodohan Mira.


"Sorry gak bermaksud nabok, Jef."


Jefri mengangguk pelan paham. Dia menjawab, "Saya gapapa, Pak."


Pak Ilman berdiri di samping Pak Ridwan. "Itu anak kenapa makin aneh? Saya tadi dicolek-colek juga."


"Mana saya tau."


"Udah, Pak. Ada Jefri juga, bapak berdua bisa nyantai lagi."


Pak Ilman lantas mengajak Pak Ridwan ke bagian belakang, patroli lagi.


"Gue liat kembarannya Surya sama si Ridwan tadi, Jef!" Kepanikan yang sempat mereda timbul lagi. "Mirip banget gila. Ngeri abis!"


"Mau pulang gak?"


Mira mendelik datar. "Pulang?"


"Zafran juga sama liat begitu. Akh, kayaknya nunggu besok gue gak bisa."


"Tapi gue kan gak kesurupan. Zafran doang."


"Belum," ralat Jefri.


"Lo nyumpahin gue kesurupan?"


"Gak lah. Di sana banyak yang kesurupan, bukan cuma Zafran."


"Gue bakal tahan. Kalau sampe besok masih ada yang kesurupan baru kita pulang," ucap Mira.


Jefri mengerti. "Bangun." Dia mengantar Mira ke kamarnya.


"Kok bisa semirip itu. Jef, keknya kalau Pak Ridwan jadi psikopat senyumnya serem kali ya. Ih! Masih kebayang lagi." Mira fokus memikirkan hal lain.


"Pak Ridwan katanya liat juga," ujar Jefri.


"Heh? Dia liat? Kenapa gak langsung kabur?"


"Lo sendiri, bisa lari?"


"Gue mundur dulu, bedain mereka, baru lari."


"Apa bedanya."


Hebat sekali Ridwan tidak kaget melihat dirinya sendiri. Apa karena polisi dengan nyawa yang sering menjadi taruhan? Mungkin saja.


Iptu Ridwan kerap meringkus organisasi ilegal, kejar-kejaran dengan pelaku kriminal, bawa senjata ke mana pun dia pergi.


Dari caranya memborgol Zafran terlihat cepat dan tangkas, apalagi Zafran tidak terluka.

__ADS_1


Ridwan bisa melindungi orang sekitarnya.


__ADS_2