Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Masih Kangen


__ADS_3

"Mira."


^^^"Apaan?"^^^


"Lo kecewa banget?"


^^^"Kecewa kenapa lagi nih?"^^^


"Gue."


^^^"Gue udah maafin perbuatan lo. Ya walaupun masih kecewa."^^^


"Dari awal kita ketemu banyak masalah. Gue mau minta maaf lagi."


^^^"Asal kita balikan wkwk."^^^


"Hehe, gak bisa. Gue lebih seneng liat lo jomblo."


..."Lo masih ngerasa bahayain gue? Heh, tiap hari gak ada lo hidup gue kayak outbound. Naik turun capek. Udahlah. Gue gak suka ya lo minta maaf terus."...


"Iya, iya."


^^^"Udah? Kalau udah gue mau mandi nih."^^^


"Saling sayang belum tentu bersatu, kan. Kita lebih baik sahabatan."


^^^"Iya! Gak usah ingetin lagi!"^^^


"Iya udah."


^^^"Gue ntar sabtu mau main. Jangan ke mana-mana lo disamperin."^^^


"Datang aja."


**


Percakapan terakhir mereka sangat membekas.


"Lo belum hidangin apa-apa buat gue kemarin." Justru Mira yang diperlihatkan hal buruk. Ia mengelap ingus habis nangis membaca pesan berulang-ulang.


Hingga tiga hari kemudian Mira merasa hampa. Mereka jarang bertukar pesan setelah putus bukan berarti hilang komunikasi.


Seandainya Mira lebih peka saat Mirza datang banyak perubahan. Mulai dari badannya lebih kurus, pucat, lemas, dan bicara berputar-putar mengalihkan perbincangan.

__ADS_1


Hana tahu Mira kesepian. Biasa rumah ramai oleh pertengkaran anak-anak, sudah hampir tiga hari mereka diam.


Ratih tahu tangisan duka Jefri dan Awan begitu sampai rumah. Mereka menahan tangis di rumah sakit hingga Mirza dikubur.


Napsu makan Awan hilang memikiran sesuatu, entah apa. Orang-orang yang suka overthinking sepertinya butuh perhatian.


Bosan dan bingung di dalam kamar terus Awan ke luar bertemu Mira duduk di teras. Tumben Mira tidak mengusirnya.


"Lo masih kepikiran dia?" Awan menyandarkan kepala di bahu Mira.


"Harusnya gue yang nyender di bahu lo," ucap Mira.


"Katanya gak mau ngomong," ingat Awan.


Refleks Mira mendorong kepala Awan. "Pergi sana!" Laknat sekali dia.


"Sanjaya ke mana coba belum balik," gumam Awan mencari ke sana ke sini tapi nihil.


Sanjaya sering datang tanpa dipanggil. Pas dipanggil budeg.


"Ngapain tanya gue, di dalem ada kembarannya. Lebih masuk akal tanya Jefri."


"Jangan sebut Sanjaya kembaran di depan Jefri."


"Sekarang ... Jefri gak terima Sanjaya lagi. Mungkin tanpa sepengetahuan kita Sanjaya diusir."


"Jefri ngusir Sanjaya?" Telapak tangan Mira mendarat halus di jidat Awan. "Gak mungkin. Lo tau gak alasannya kenapa?"


Awan memajukan wajah penasaran. "Apa?"


"Gue." Mira terbahak-bahak.


Sanjaya sendiri yang mengatakan dia dipanggil Juan agar transfer energi ke Mirza. Mirza meminta tolong Sanjaya. Makanya Sanjaya cuma nurut sama Mira.


Awan tahu sekarang waktu yang tepat menjitak Mira. Syukurlah dia bisa tertawa.


"Terpesona lo sekarang sama gue?"


"Cih, gak sudi."


"Gue gak bakal sedih lama-lama, Wan ... Pikirin hidup lo aja ke depannya mau terus mentingin satu orang atau semua orang," sindirnya halus.


Awan tahu kesalahannya di mana. "Lo gak marah sama gue kan sekarang?"

__ADS_1


Mira menepuk punggungnya seraya tersenyum paksa. Tidak adil jika menyalahkan salah satu atau ketiganya. Mereka bersepakat menyembunyikan fakta.


"Gue yang kurang peka." Ia akui terlambat.


Jefri urung melewati pintu menyaksikan mereka duduk penuh renungan.


Kepala Awan menengadah ke atas langit. "Sanjaya ketemu Mirza gak ya."


Pria di belakang sana menunduk lalu berkata, "Pasti ketemu."


"Hm?" Mira dengar suara Jefri. "Serius?" Matanya berbinar.


"Mereka terhubung di sini. Harus dipisah sebelum pergi ke tempat lain," imbuhnya.


Awan manggut-manggut. "Seneng banget punya kenalan."


"Masuk. Mau hujan."


Mira dan Awan rebutan masuk meskipun Jefri terhimpit pintu.


"Mira, coba lo panggil Sanjaya nanti. Kalau berhasil ada yang mau gue obrolin ..."


Mira curiga apa yang mau Jefri bahas.


"Kalian juga."


Awan mengacungkan tangan. "Gue mau ke luar beli seblak. Titip gak?"


"Ikut!" Mira nebeng.


"Okay!"


Secepat kilat Awan ambil kunci motor di kamar. "Lo gak beli?"


"Satu." Jefri senyum terharu karena Awan melirik Mira sebahagia itu diajak beli seblak.


Kebahagiaan Awan pupus ketika Mira menangis sebelum pulang habis beli seblak pinggir jalan.


"Woi kenapa lagi lo?"


Awan menarik baju Mira, menggiringnya duduk di trotoar. Awan menghapus air mata di pipinya.


"Gue keinget Mirza lagi, Awan ..."

__ADS_1


Kasihan sekali Mira. Apa yang harus Awan lakukan sekarang?


__ADS_2