
"Mira, ada cara gak biar gue bisa liat hantu?"
Dewi mengamati teman sekelasnya yang mengerubungi meja mereka. Inilah klimaksnya. Rasa penasaran membuncah sejak grup kelas heboh kesurupan massal di vila.
"Gue kurang paham." Jika bisa pun Mira tidak bisa memberi solusi. Sangat berbahaya untuk orang awam.
Lia hanya mau lihat satu kali bagaimana wujud mereka. "Kasih tau gue pas lo tau caranya ya."
"Oi, bukannya lo pernah liat? Pak Adit pernah ditiru." Zafran dari belakang menyahut jadi pusat perhatian.
"Itu beda. Gue mau liat yang sedikit memacu adrenalin," ujar Lia.
"Ngeri juga maunya," lirih Mira sedikit menundukkan wajah. "Kayaknya lebih jelas tanya Jefri. Gue gak tau apa-apa, beneran."
Dewi bilang, "Mira jujur. Lo aneh lagian, Li. Dia yang liat masih takut, lo nyari setan."
"Gue penasaran banget," ujar Lia.
"Jefri pernah kesurupan juga, Mir?" tanya Kinanti.
"Dia kesurupan siapa yang bisa nolong?" sembur Ratna.
"Orang yang punya mata batin pasti pernah kesurupan," ujar Widya. "Sekali, mungkin?"
"Huuu, gak tau jangan sok tau!" seru Gilang.
"Lo pernah liat yang serem gitu gak, Dew?" Kinanti tanya lagi.
"Di belakang gue nih, lebih serem."
Zafran lagi ngaca langsung menyangkal. "Muka ganteng gini."
Gilang menerobos teman-temannya dan duduk di meja Mira dengan izin singkat. "Numpang duduk karena gue kepo ... Apa betul kalau nyisir rambut tengah malem bisa liat kuntilanak?"
"Gue sering tapi gak pernah liat," sanggah Lia.
"Apa yang harus kita lakuin misal ketemu tiba-tiba? Gue liat film, setan dibacain doa gak langsung ilang," ucap Ratna.
"Kalian tanya satu-satu. Jangan rombongan gitu," tegur Dewi.
Gilang berdiri dan melihat kolong kakinya.
"Gak ada setan."
__ADS_1
Dewi senggol Mira. "Wah, nantang."
"Katanya itu salah satu cara liat setan," imbuh Gilang usai membuktikan langsung.
Zafran bangun cuma mau toyor kepala Gilang. "Siang bolong gini mana mau mereka muncul. Liat muka lo juga mereka mikir sepuluh kali."
"Hahaha!" Semua tertawa Gilang dipermalukan Zafran.
"Anjir, kan mencoba satu kali bisa gagal."
"Mau coba berapa kali?" timpalnya siap menjitak kepala lagi. "Cukup, cukup. Jangan coba sekarang. Nanti sore aja, agak gelap tuh baru pembuktian kedua."
Mira spontan menoleh dan menggeleng panik.
Zafran mengucap tanpa bersuara. "Biarin."
"Okay! Deal!" Gilang penuh keyakinan.
"Lo mau coba beneran?" tanya Ratna pada Gilang.
"Gue juga mau!" sahut Lia.
"Eh?" Ratna menatap pasrah mereka yang sangat penasaran.
"Berarti kita berhasil!" Gilang bersorak dan tos dengan Lia.
"Tapi kalau sampai kita gak liat apa-apa, gue ada satu syarat!"
Irlan memahami keingintahuan mereka dari awal. Mengajukan syarat tidaklah benar. Cara yang mereka lakukan nanti bisa saja berhasil, untuk apa ada jaminan gagal.
"Kayak mau gadai emas lo pake syarat segala!" seru Dewi.
"Buka mata batin kita berdua!" Cuma mereka berdua saja yang heboh teriak-teriak.
Sisanya diam memikirkan jangka panjang dari keputusan mereka. Meski dilanda rasa penasaran, tak satu pun mau melihat sosok hantu setelah kejadian jam tambahan sore.
"Suruh mereka mengurungkan niat gih," suruh Ratna.
Kinanti jawab, "Resiko mereka kalau nanti ada apa-apa."
"Lo nakutin gue," ucap Ratna.
"Tenang aja. Gue yakin Mira gak segampang itu. Lo liat Zafran yang punya mata batin belum lama sering kesurupan. Gilang sama Lia cuma mau pamer."
__ADS_1
"Gue mau balik duluan ah!"
"Lia temen kita, Rat."
"Sialan tuh anak, nempatin kita di situasi bahaya mulu. Ah!" Ratna mendengus sebal. "Nyawa cuma satu, nyalinya seratus."
"Lia bakal berhenti kepo kalau kapok."
"Semoga diliatin yang serem sekalian biar trauma seumur hidup!"
"Doa lo kebangetan deh!"
"Tau ah gue kesel sama Lia!"
Ratna kembali ke kursinya meninggalkan kekesalan. Kinanti mengajak Lia duduk beralasan Pak Adit sebentar lagi masuk.
Widya memutar tubuh ke belakang. Dia duduk tepat di depan meja Mira dan Dewi setelah Gilang beranjak pergi.
"Lo yakin biarin mereka liat?"
"Gimana lagi?" Dewi angkat bahu tak peduli. "Orang-orang kayak mereka kudu dikasih jantung kalau minta hati. Kasih yang bentuknya paling ngeri, haha."
Mira lihat dulu siapa yang kira-kira berani melawan ketakutan. "Gue bingung. Kenapa mereka penasaran banget sih?"
"Jangan bingung. Tinggal buka, tutup lagi."
"Lo anggep warung?"
"Kasih liat, biar ngerasain gimana jadi lo. Jangan beri ampun."
Widya meminta pengertian Mira. "Kita sisanya aman, kan? Gue gak mau kelas kita dimarahin lagi karena sering ada keributan. Udah cukup masalah Zafran sering kesurupan. Kejadian di vila jangan sampai kebawa di sini."
Mira jadi berpikir ribuan kali. "Biasanya yang gak sensitif gak gampang liat wujud mereka. Cara itu belum tentu berhasil."
Irlan mendatangi meja mereka. "Jangan di kelas. Beresiko. Ajak ke rumah gue, itung-itung main."
Mira membelalak. "Rumah lo? Itu lebih bahaya. Ada kolam renang di sana. Gue takut hantu airnya muncul lagi."
Mendengar hantu air, entah mengapa membuat Widya merinding.
"Apa pun keputusan lo deh, Mir."
Irlan berkata, "Tanya Jefri dulu."
__ADS_1
"Pasti."