Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Cinta Segitiga


__ADS_3

Pian berkacak pinggang. Dadanya membusung. Helaan napas frustasinya mewakili semua orang.


"Otak sableng." Nuri yang pemula saja paham maksud Jefri. Kok bisa dia masuk sekolah bergengsi dengan IQ rendah.


Astuti mengode Pian. "Lakban mulutnya."


Tidak luput dari keluguan Surya. Sang pembicara hanya termenung mencari respon baik supaya Surya paham. Paham saja, jangan tanya lagi.


"Karena tempat kita sama mereka berdampingan. Gak bisa ditutup sepihak."


"Nyerah aja, Jep. Ngomong sama Surya ibarat ngomong sama pantat," kata Pian mau menampol dari jarak jauh.


"Perlakukan gue sebagai teman, dong. Gue ini sangat cerdas. Makanya kalian harus detail kasih penjelasan biar gue gak nanya kritis."


"Dah gila dia, Nur." Astuti akting menangis mengakui kebodohan Surya. "Bisa-bisanya Dewi cinta sama Surya. Dipelet apa coba?"


"Semar mesem?" beo Nuri.


"Ngapa lo sebutin!" Astuti menaboknya. "Maafkan hambamu, Tuhan." Dia bertobat cepat.


Pak Ilman menggebrak meja tiga kali. "Cukup. Kalian ini sering banget bahas sesuatu di luar pelajaran. Ngobrolnya lanjut nanti. Sekarang PR rabu lalu dikumpulin."


"What? Ada PR?" Astuti gelagapan antara ingat dan tidak mengerjakan PR pekan lalu.


"Kok dia inget PR dari zaman purba," sahut Pian merogoh isi tas mencari buku.


"Jefri, minta tolong tarik semua PR mereka." Pak Ilman meminta bantuan. Anak-anak nakal ini lebih segan pada Jefri ketimbang dirinya.


Jefri mengitari tiap bangku. Dimulai dari pojok kiri tempat duduk Nuri dan Astuti.


Nuri menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Jefri ..." Percayalah usaha ini harus berhasil!. "Bisa gak bilang ke Pak Ilman gue kumpulin PR-nya besok?"


"Besok gak ada mapel Pak Ilman."


Nuri tetap percaya diri. "Besoknya lagi?"


"Libur."


"Hahaha! Goblok dipelihara!" Pian tertawa kencang.


Nuri melempar pensil mengenai dahi Pian.


Astuti menggelengkan kepala. "Lo gagal, Nur."

__ADS_1


Jefri bergeser ke tempat Astuti. "Mana?"


Astuti memberikan bukunya pakai dua tangan secara hormat. "Tapi gue belum selesai kerjain- "


Jefri menarik bukunya. "Gapapa." Dia bergeser lagi ke anak lain mempersingkat waktu.


Gantian Nuri yang menertawakan Astuti. "Haha! Rasain lo!"


"Susah banget minta keringanan!" tukas Astuti.


Hingga ke kursi Pian. Jefri meminta bukunya.


"Lo gapapa? Mira keliatan masih emosi."


"Bukan urusan lo."


Memang bukan urusannya. Pian tahu. Namun setidaknya dia peduli pada perbedaan pendapat mereka. Jefri berdalih bukan dia yang membuka mata batin mereka, di satu sisi Mira takut mereka dalam bahaya.


Pian kasihan menyaksikan Jefri dibentak-bentak Mira. Secara, mereka lebih sering tertawa dan baru kali ini dia lihat perdebatan sengit.


Kala Jefri maju ke meja Pak Ilman. Surya mengatakan sesuatu pada Pian.


"Orang jiwanya mati susah diapa-apain."


"Mira. Mir, bentar." Urusan Irlan dengan Mira rupanya belum usai.


Mira meledak-ledak sekarang. Dia sangat emosi.


Irlan belum pernah dekat perempuan. Maksudnya secara hubungan pertemanan. Dia selalu sibuk belajar untuk menjadi penerus bisnis keluarga.


Tangan Irlan mendarat di pundak gadis itu kemudian menatap lekat matanya. "Kita baik-baik aja. Iya emang, Gilang sama Lia yang mau liat. Kita ada di sana berarti berpartisipasi juga. Kalau lo nyalahin diri sendiri atau nyalahin Jefri, jujur gue keberatan."


Keheningan terjadi beberapa saat sebelum Mira menangis sesegukan.


Irlan melihat kanan dan kiri memastikan tidak ada yang melihat mereka, maksudnya Mira lagi nangis.


"Liat gue masih hidup. Kita beneran gapapa. Gilang sama Lia pasti ngerti. Surya, Pian, Nuri, Astuti yang kemarin teriak-teriak takut sekarang biasa. Mereka gak musuhin Jefri ... Malah ketawa-ketawa pas kita pergi."


"Gue takut kalian dalam bahaya ..."


"Lo yang bilang selama ada Jefri kita bakal aman."


"Ya abisnya kalian teriak histeris semua, gue kan ngiranya- hikss. Gue takut salah satu dari kalian kesurupan karena mereka deket banget. Jefri sialan."

__ADS_1


Aduh! Mira tambah keras nangisnya. Pelan-pelan Irlan merengkuh Mira ke pelukan. Coba saja dulu siapa tahu tangisannya mereda.


"Dewi keseleo gara-gara gue juga."


"Dia yang gak bisa anteng makanya kepentok meja." Sungguh Irlan sangat berusaha menghiburnya.


"Hmm, so sweet ..."


Tanpa mereka sadari teman-teman mengintip dari jendela.


Ratna bagai melihat adegan film romantis secara langsung. Dia terharu cara Irlan memperlakukan Mira sangat manis.


Kinanti menjitak kepala Ratna. "Katanya mau musuhin Jefri sama Mira."


"Gue bilang gitu karena kesel kemarin. Hari ini udah nggak. Jefri juga tipe idaman gue. Perbuatannya termaafkan."


Kinanti mendecih tak habis pikir.


"Salah kita berdua ..." Lia mengaku tepat di belakang Gilang.


"Lo yang minta duluan," celetuk Gilang.


"Anjir!"


Dewi tersenyum senang. Irlan berhasil menjadi ketua kelas yang tidak meninggalkan teman-temannya kemarin padahal dia bisa pergi mengacuhkan permintaan mereka. Irlan turut berhasil mengobati hati Mira.


"Apaan kek gitu norak banget."


Lamunan indahnya buyar usai Zafran muncul.


"Apanya? Mereka berdua cocok kok."


"Sama sekali gak cocok."


"Terus cocoknya sama siapa?"


Dewi menarik lengan seragam Zafran. "Lo? Sama mereka?"


Senyum aneh tergambar di wajah Dewi.


"Senyum lo kayak setan belum makan, Dew."


"Cinta segitiga yaaa?" ledeknya.

__ADS_1


"Dewi! Jangan kenceng-kenceng bego!"


__ADS_2