
"Masih muda banyak pikiran liat noh rambut ada uban sebiji."
Ucapan Surya yang tengah duduk di atas meja menghadap Jefri bukan sekadar kalimat.
Sungguh ada uban. Surya bahkan mencabut rambut putih itu dan menunjukkan ke Jefri.
"Nih!"
Jefri menyingkirkan tangan Surya sembari menatap sinis.
"Mau rambut gue putih, merah, kuning, ijo- "
"Di langit yang biru?" sambar Surya melawak.
"Itu lagu."
"Kan lo yang mulai," tandas Surya.
"Gue bisa ngandelin lo nggak kira-kira ..." lirih Jefri hendak meminta tolong. "Nanti malem ketemuan di sini jam delapan bisa gak?"
"Gak sekalian pulang sekolah nongkrong?"
"Kita bukan mau nongkrong."
"Terus?"
"Mau gak?" desak Jefri tak mau lama basa-basi.
"Oke. Pak Ilman oh Pak Ilman ... Kenapa kau tak masuk-masuk. Muridmu ... Muridmu ... Sudah menunggu lama .." Iring Surya pakai nada lagu Bang Toyib.
Pak Ilman sering masuk kelas pekan ini. Alasan utama ialah malas mengajar murid pintar.
Kebanyakan dari mereka ketika diterangkan materi atau diberikan soal lebih fokus bermain. Ada saja.
Suatu hari Pak Ilman sampai angkat tangan pada waktu mereka mengerjakan soal sambil live di sosial media.
Kelas 11G paling ribut dan keos di mata pelajaran beliau.
Surya pernah cerita ke Jefri. Kala pembagian rapor kelas satu, di halaman setelah nilai siswa ada kolom catatan dari pengajar untuk siswa kemudian di bawahnya kolom catatan siswa untuk pengajar.
Tujuannya adalah mengisi kekurangan satu sama lain agar tercipta kesinambungan yang baik.
Namun isinya membuat Pak Ilman meminta mutasi kelas ke Kepala Sekolah.
'Jangan banyak jelasin, ngantuk'.
'Dikit-dikit hukuman. Murid butuh hiburan, Pak!"
'Penjelasan sudah baik, tapi gak capek nyerocos se jam, Pak? Saya nanya bukan kepo. Saya kasian sama bapak. Lain kali gak perlu terangin detail. Kita terlahir cerdas. Good job, Pak Ilman!'
'Soal yang diberikan terlalu mudah'.
__ADS_1
Masih banyak lagi. Saat itu mereka tidak berani bicara frontal seperti sekarang karena Pak Ilman wali kelas baru selama setahun.
Ajaibnya, beliau menjadi wali kelas mereka lagi. Ya mereka tambah ceplas-ceplos dan menganggap hubungan sudah seperti teman, meskipun tetap ada batasan.
Sekarang Pak Ilman legowo, terima lapang dada dalam urusan pekerjaan.
Kalau sudah kelamaan belum masuk biasanya ada yang panggil langsung ke kantor atau kantin tempat tongkrongan guru-guru muda.
Mahen ditunjuk gilirannya. Dia sudah melaksanakan tugas dan kembali ke kelas sambil merapikan kerah seragam dan berjalan petantang-petenteng menuju meja Surya dan Jefri.
"Astaga ..." Melihat gaya Mahen hampir membuat Surya menampol mukanya.
"Lo berdua dipanggil Pak Ilman," ucap Mahen bercermin di jendela pojok sembari menyisir rambut.
Jefri seret lengan Surya. "Cepet."
"Itu guru punya dendam kesumat sama gue tiap banyak waktu nyuruh dateng ke kantor?"
"Jangan tanya."
Surya pasrah ditarik bak anak anjing. "Harusnya dia yang ke kelas. Akh, malah gue yang nyamperin."
Pak Ilman melihat pantulan kedatangan dua murid kesayangan dari kaca duduk di meja.
Kursi guru kece itu berputar menghadap mereka sebelum sampai. "Cepet juga."
Surya mengangkat tangan kiri mengartikan tidak usah sok menyambut, bilang saja apa maunya.
"Bolos?" sahut Surya mendesah kasar.
"Lebih tepatnya izin," ralat Pak Ilman.
Meja Pak Adit di belakang Pak Ilman turut dengar betapa ramahnya percakapan mereka.
"Hari-hari Pak Ilman pasti berwarna punya murid luar biasa," katanya agak pelan.
Pak Ilman mencari file yang sudah di klip sesuai jumlah murid.
Mereka lantas menoleh memberi tatapan kurang suka.
"Banyak orang matanya liat ke depan tapi telinganya di berbagai arah," sindir Surya.
"Guru lo juga, njir." Sejulid-julid Jefri cuma berani adu tatap ke guru.
Berani sekali Surya.
"Itu sebabnya orang yang ngejar satu tujuan kadang kesandung, kepleset, atau putar balik."
"Parah." Jefri mau hilang saja.
Pak Adit merespon dengan senyum. "Masukan yang bagus."
__ADS_1
"Saya nyindir," ujar Surya.
Pak Ilman berikan file-file ke Jefri. "Sampaikan ke yang lain."
"Oke, Pak." Jefri berbalik namun masih mendapati Surya diam menatap Pak Adit.
"Kalau lo gak suka jangan terlalu keliatan." Jefri menendang pelan kaki Surya.
"Jepri, apa ciri-ciri orang munafik?"
"Lo pikir sekarang pelajaran agama nanya begituan?"
"Biasanya susah liat orang senang, senang liat orang susah."
"Itu bukannya iri?" sahut Pak Ilman merasa pernah dengar kalimat itu.
"Omongannya dusta. Buat janji tapi mengingkari. Dipercaya tapi berkhianat," jelas Jefri. "Balik sekarang gak!"
Mana file di tangannya lumayan banyak. Surya belum tuntas mengatasi permusuhan dengan Pak Adit.
"Persis yang melekat di guru kita tercinta. Kita pernah percaya dan buat janji tapi dibongkar sendiri. Berdusta."
Senyum Pak Adit perlahan hilang. Gantian Surya menyeringai merasa dia menang.
"Let's go," kata Surya.
Bisa-bisanya main pergi setelah mempermalukan Jefri juga.
"Muka lo!" Lalu, harus Jefri yang meminta maaf. "Maafin ya, Pak."
"Hm, gak masalah."
Jefri tersenyum terakhir kali sebelum balik badan dan memanggil pria laknat itu tengah bersiul di koridor.
"Surya!"
"Apa sih? Suasana hati lagi bahagia nih."
Siulan Surya terdengar lagi dengan nada sama.
Secara tanpa sadar Jefri mengingat jauh ke belakang.
"Nadanya ..."
Sebelum Johan, Hadi, dan Indri tewas ... Tepat ketika mereka dirasuki sayup-sayup Jefri mendengar suara siulan.
Surya memutar tubuhnya kemudian tersenyum menyuruh Jefri berjalan cepat.
"Berhenti segala. Cepetan!"
Jefri bagaikan alami deja vu. "Nadanya sama."
__ADS_1