Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Ketakutan Mira Selama Ini


__ADS_3

Tok! Tok!


"Mira ... Kamu belum makan dari pulang sekolah. Gak laper?"


Hana khawatir putri semata wayangnya tak bicara sepatah kata pun sepulang sekolah. Wajahnya sendu sama sekali tak ceria seperti biasa.


Jefri yang kebetulan keluar kamar menghampiri buleknya. "Kenapa, Mah?"


"Mira belum makan, Jef. Mama khawatir deh." Hana kembali memanggil Mira. "Mira! Kamu tidur atau main hape gak denger Mama?"


Jefri meyakinkan Hana dengan sekali anggukan kepala. "Coba aku yang ngomong. Mama istirahat."


"Suruh makan ya, Jef."


"Iya."


Usai ditinggal Hana depan kamar Mira, Jefri awalnya bingung mau ngomong apa nanti.


Dia tidak punya maksud tertentu dengan sepupunya, kecuali sikap Mira sekarang diakibatkan pasca melihat langsung Johan bunuh diri dari atap sekolah.


"Gue masuk nih."


Begitu pintu terbuka dan Jefri masuk, Mira berada di sudut kamar memeluk lutut menangis lirih.


Tubuh Mira bergetar ketakutan didatangi arwah Johan yang berdiri tepat di hadapannya.


Jefri mematung di dekat pintu. "Mau apa?"


Johan berbalik melihat Jefri sedikit bingung. Jadi, mereka berdua bisa melihatnya.


"Takut, Jef. Gue gak tau apa-apa, hikss."


Sosok Johan muncul seperti terakhir kali dia meregang nyawa. Kepala belakangnya bocor, leher dipenuhi darah, berwajah pucat pasi.


Dengan mulut mengatup Johan berusaha memberitahu mereka.


"Dia satu-satunya orang yang bisa ungkap kejadian sebenarnya. Please, kasih tau semua orang gue bukan bunuh diri."

__ADS_1


Jefri menatap Mira merangkak ke atas kasur mengambil bantal dan teriak mengusir serta memukul arwah Johan berharap tidak ganggu dia lagi.


"Pergi! Gue gak liat apa-apa! Jangan datengin gue! Pergi!"


Arwah Johan pun perlahan-lahan menghilang meninggalkan atmosfer menyedihkan.


Jefri bergerak menahan tangan Mira. "Udah, stop. Dia udah pergi, Mira."


Keributan yang dibuat Mira mengundang Hana dan Ratih keluar dari kamar mereka.


Mira memukul matanya berulang kali. "Gue gak liat apa-apa, Jef! Dia jatuh bukan salah gue! Kenapa harus gue yang didatengin!"


Jefri sekuat mungkin menahan tangannya. "Iya, gue ngerti lo gak salah apa-apa. Jangan nyakitin diri sendiri." Dia tetap bicara pelan-pelan daripada membentak Mira di saat akal gadis itu semrawut.


"Astagfirullah, Mira! Kenapa kamu, hah? Ada apa?" Hana masuk mendekati Mira dan mendekapnya ke dalam pelukan.


Mira justru melepas pelukan ibunya. "Gara-gara mata ini aku sengsara, Mah!"


"Istigfar, Mira. Istigfar... " Ratih berusaha menenangkan kekalutan Mira.


Hana bertanya, "Mira kenapa, Jefri?"


Mira mengambil bolpoin di meja belajarnya kemudian hampir menusuk matanya sendiri.


Beruntung Jefri cekatan. Dia langsung merebut bolpoin dari tangan Mira dan melempar asal.


"Apa! Gue sama sekali gak bangga bisa liat mereka. Hidup gue dulu tenang gak kayak sekarang, Jef!" jerit Mira meluapkan amarahnya.


"Duduk," titah Jefri.


"Kalian keluar sekarang. Keluar!" usir Mira.


"Gak baik usir mereka begitu, Mira. Jefri sama Bunda Ratih keluarga kita," ujar Hana.


Jefri yakin Mira sangat lelah dengan apa yang dia lihat. Takut bisa ditahan, tapi lelah menipiskan kesabaran. Itu sebabnya Mira marah terus didatangi arwah gentayangan.


'Kasih tau orang tua gue, gue gak bunuh diri'

__ADS_1


'Kenapa lo gak tahan gue?'


'Gue gak naik sendirian'


Bisikan-bisikan Johan terngiang-ngiang di telinga Mira sehingga dia menutup rapat kedua telinga.


Mira meracau lagi. "Gue gak peduli! Jangan datengin gue lagi. Gue takut."


"Jefri! Mira gimana ini?" Hana khawatir Mira kenapa-kenapa.


Ratih memegangi tangan Mira. "Istigfar, Mira. Apa yang kamu dengar belum tentu nyata. Itu ketakutan kamu sendiri. Ya Allah... "


Suara-suara aneh itu lenyap. Mira membuka mata dan melihat sosok yang sangat dia kenal merayap di dinding kamar dengan tubuh terbalik.


"Dia... " lirih sosok itu mengarah ke satu orang.


Mira menggeleng keras pria hitam kurus memanjangkan lehernya menatap Jefri sambil memainkan lidah.


Suara seraknya selalu menakuti Mira dan terbayang-bayang.


"Dia harus aku bawa secepatnya. Ha! Ha! Ha!"


Mira terdiam merasakan sendiri sosok itu menembus tubuhnya dan meninggalkan efek tak biasa.


Mira seolah-olah merasa mati lantaran mendengar degup jantung terakhirnya berhenti.


"Hahahaha!"


"Mira?" Jefri menepuk pelan pipi sepupunya karena dia seperti patung. "Ra!"


"Mira!" panggil Hana.


Mira memiringkan kepala melihat bergantian Hana, Ratih, dan Jefri.


Mira berkata dengan suara pria paruh baya.


"Kalian tidak tahu anak ini milikku?"

__ADS_1


__ADS_2