
"Mira." Jefri kesusahan berdiri Mira ketiduran. "Bangun. Berat, Mir." Untung sudah di rumah.
Sisi wajah Mira menempel ke punggung Jefri cukup lama. Tangan kirinya menyangga Mira supaya tidak jatuh ke jalan, sementara tangan kanannya menyetir pelan.
Awan mencolek pipi Mira. "Malah tidur." Jarak tidak seberapa bisa tertidur. "Woy!" Beban hidup sebenarnya ya Mira.
Mira terlonjak hampir jatuh kalau tidak dipegangi Awan.
Astaga. "Muka dia lagi sih ..." Sial dia memimpikan pangeran tampan lagi menggunakan wajah Jefri. Mengapa bukan idol favoritnya coba.
"Siapa?" beo Awan.
"Ah? Bukan siapa-siapa." Mira menyerahkan koper dan tasnya pada mereka. "Tolong bawain, gue setengah sadar nih."
"Mau gue tabok biar sadar penuh?" tawar Awan.
"Syilid."
Di belakangnya Jefri dan Awan menarik koper sambil mengobrol masuk rumah.
"Jef, gue liat sosok mirip lo di sana. Gak sekali, tapi hampir lima kali."
Langkah Mira berhenti. Awan lihat pangeran itu?
Masih dengan muka sedatar tembok tanpa perasaan, Jefri menyahut, "Siapa?"
"Pakaiannya agak aneh. Tempo kerajaan kayak anak bangsawan. Lo gak liat?"
"Nggak."
Aneh juga seandainya Jefri melihat sosok mirip dia. Dia mungkin mengajak duel daripada dibiarkan melintas.
"Lumayan sih energinya posi- Wuish!"
Mira sudah ada di samping Awan berkat pendengarannya tajam.
"Sumpah demi apa lo liat kembarannya Jefri? Gue juga liat, gila!"
"Iya ... Seliweran di vila."
Jefri bertanya, "Terus?"
"Bawa pedang gak?"
Awan sedikit lupa. "Bawa kali. Gue gak terlalu merhatiin."
"Dia nyelametin gue waktu di hutan itu, Wan. Yang gue pingsan! Inget?"
"Ohh gue inget."
"Dia nyelametin lo? Gimana caranya?" Bagian dahi Jefri berkerut bingung.
__ADS_1
"Intinya gue liat gerbang emas- "
Mereka berdua sudah mau dengarkan serius cerita Mira, tapi dia mendadak berhenti bicara.
"Gerbang emas, terus?" ujar Awan.
"Gue kebelet BAB." Mendadak perutnya sakit. Mira lari ke kamar mandi.
"Sialan," desis Awan menarik kopernya kasar ke kamar.
Jefri bergeming sebentar kemudian masuk kamarnya.
***
"Dia liat doppelganger Jefri kenapa gak cerita dulu sama gue, malah langsung nanya ke yang punya muka."
Lega mengeluarkan limbah perut. Mira duduk di tepi ranjang menghadap pintu yang dibuka lebar.
"Jefri beneran gak tau sama sekali apa pura-pura? Ah, gue gak bisa bedain dia bohong atau jujur lagi. Muka dia tuh flat!"
"Ekhem!"
Awan berdiri diam di dekat pintu.
"Astagfirullah! Kayak setan lo kebiasaan nongol."
"Gue tanya dari sini."
"Sampai mana lo mimpi cowok itu?"
"Sampai mana gimana? Orang dia dateng ke mimpi berkedok nyelametin gue."
"Bukan mimpi basah, kan?"
Matanya berkedip spontan dua kali. "Terus lo mimpi basah Jefri juga? Gila lo!" hardik Mira.
"Seberapa mirip menurut lo?"
"Mukanya sih mirip. Perawakannya hampir sama. Kelakuannya juga persis."
"Auranya, sama gak?"
"Gak tau."
"Kalau betul dia kembarannya Jefri, apa tanggapan lo?"
"Kembaran beda alam? Emang ada?"
"Gak ada yang gak mungkin di dunia ini."
"Lo tanya Jefri, gih. Ilmu gue paling rendah dari kalian. Sana samperin, keluar dari kamar gue sekalian tutup pintu."
__ADS_1
Mira merebahkan tubuhnya di atas kasur. Yang dilakukan Awan justru berbanding terbalik. Dia masuk dan langsung menarik tangan Mira supaya bangun ke kamar Jefri bersama.
"Aduh! Gue ngantuk, Awan ... Gak bisa apa gue tidur tanpa halangan, hah?"
Jefri duduk di depan lemari sedang membenahi pakaian segera menutup lemarinya dan mengarah pada dua manusia yang membuat keributan.
"Kenapa?"
"Gue gak ada kepentingan. Dia ada." Mira menunjuk Awan.
Awan mau menyikut perempuan itu.
Jefri menelaah alasan keduanya ribut.
"Gue bakal cari tau. Lo berdua masuk kamar istirahat."
"Cari tau soal?" Awan mendadak blank.
"Lo bilang penasaran sama cowok ganteng itu. Si pangeran yang mirip Jefri. Bersyukur dia mau cari tau ketimbang lo mati penasaran," oceh Mira.
"Gue gak bakal mati cuma karena penasaran," balas Awan.
"Selamat mencari informasi, Jefri ..."
"Udah ... Lo juga jangan berdiri mulu kayak lagi lebaran," ucap Jefri mendorong pelan Awan kemudian menutup pintu.
"Jefri pasti enek sama lo, haha."
"Lo beban semua orang."
"Gue gak penasaran sama pangeran itu. Walaupun parasnya ganteng terus memancarkan aura bangsawan, dia pakai muka Jefri. Gue lebih penasaran kalau muka-muka kayak Irlan yang dijiplak."
"Anjir, maksut lo Jefri gak ganteng?"
"Orang ganteng tiap hari ketemu juga bosen."
"Gue tiap hari liat tapi masih kaget."
"Coba bandingin muka lo berdua di satu kaca."
"Anjir bilang aja gue gak ganteng, gak usah ngebandingin segala."
"Nah itu sadar."
**
Sehabis mandi sore Jefri berdiri di depan cermin. Keluarganya sedang sibuk makan.
Pantulan dalam cermin perlahan-lahan memudar tergantikan oleh cahaya terang yang sama sekali tidak menyilaukan mata.
"Lo datang lagi."
__ADS_1