Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Jefri Serba Salah


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Jefri melangkah masuk ke rumah. Capek sekali dia pulang sekolah ada kepentingan lain.


"Waalaikumussalam."


Awan rebahan di sofa kakinya menyilang sambil main game, mulutnya super duper berisik.


Hana terlihat memasak di dapur dan Ratih menonton sinetron di ruang tamu.


Mata Jefri mencari satu penghuni lagi yang belum terlihat.


"Mira tidur?"


"Mira belum pulang," jawab Ratih.


"Lupa? Dia kan lagi main ke rumahnya Irlan... " Awan tertawa kecil sesaat. "Pertama kali gue liat yang namanya Irlan dari cerita-cerita Mira."


Awan memiliki kesan khusus saat berkenalan langsung dengan Irlan.


Jefri mengecek ponsel tanpa notifikasi pesan satu pun.


"Gue akui si Irlan ganteng ... Gak deng, semua cowok yang Mira ceritain selalu dibilang ganteng tapi pas gue liat Irlan langsung mirip tokoh manga di komik."


"Apa segitu gantengnya, Wan?"


Ratih senyum lihat Awan bicara menatap langit-langit membayangkan ketampanan Irlan.


"Mira gak bilang gue," ujar Jefri mengirim pesan ke Mira, menyuruh dia pulang sebelum pukul sembilan malam.


"Ganteng, Bun. Jefri mah lewatt."


"Lo kenapa gak bilang gue dia pergi ke rumah Irlan. Masa lo biarin Mira main ke rumah cowok. Gak bener lo, Wan."


Awan tak paham bagian mana Mira tidak boleh main ke rumah teman sekelasnya, juga teman dia.


"Irlan kan temen lo juga, Jefri."


"Mira ada apa-apa di sana mau tanggung jawab?" tukas Jefri kini menghubungi Mira.


"Lah ngapa gue yang tanggung jawab? Terakhir yang main sama dia kan Irlan. Ada apa-apa ya tanggung jawab Irlan lah. Lagian ada apa-apa, gimana maksud lo? Bunting?"


Ratih langsung menegur. "Astagfirullah, Awan. Hati-hati kalau ngomong. Awas mamanya Mira denger dari dapur kamu nanti digeprek."


"Ck, hapenya gak aktif lagi."


"Justru gue mau nanya sama lo. Gak ada hujan, badai, angin ribut, lo suruh Mira pulang sama gue. Ada tugas sekolah?"


"Tugas pribadi."


Ratih tidak bisa menonton sinetron favoritnya sedangkan di belakang mereka nyerocos beda topik.


"Assalamualaikum."


Mira menenteng totebag masuk rumah langsung heran ditatap mereka bertiga.


"Seragam lo ke mana?" cecar Jefri menghampiri Mira sambil melihat dari pintu naik apa dia pulang.


Rupanya ada mobil yang berputar arah.


Mira mengangkat totebag-nya. "Ini."


"Irlan mana?" Jefri tidak lihat.


"Di mobil. Udah gue tawarin mampir, tapi katanya kapan-kapan. Lo tau sendiri dia selalu belajar tepat waktu."


Awan mengadu. "Berisik banget Jefri nanyain lo gak pulang dua jam."


Mira pergi pakai seragam sekolah tapi pulang pakai atasan kemeja flanel dan celana olahraga.

__ADS_1


"Itu baju sama celana punya Irlan?" tanya Awan.


Awan tahu celana olahraga tiap hari Mira bawa karena sering lupa tanggal datang bulan.


Mira melewati Jefri. "Dipinjemin."


Jefri menghela napas dan menyambar tas masuk kamar. Dia bisa lega Mira pulang tanpa kekurangan.


Mira masuk kamar beres-beres lalu keluar mencari ibunya.


Dari belakang Mira memeluk Hana yang sedang mencuci wajan.


"Ehh, udah pulang anak mama. Udah mandi?"


"Udah dong."


"Masakan baru mateng, kamu makan duluan. Mama mau bebenah kamar abis ini."


"Kenapa gak makan dulu?"


"Udah makan duluan sama Bunda, hehe."


Mira melepas pelukannya. "Emang ya, yang masak yang makan duluan."


"Maaf gak nunggu kamu makan, Mira. Kata Awan, kamu dari rumah Irlan. Irlan gak mampir?"


"Dia nganter aku pulang langsung balik mau belajar, Mah. Terlalu rajin dan teladan. Tapi, Mah, rumahnya gede banget."


"Masa?"


"Tapi Irlan bilang rumah Zafran lebih gede."


Mira sungguh ingin lihat rumah Zafran sebesar apa, padahal menurutnya rumah Irlan sudah luas.


"Yang lebih wow sih ruang belajar sama tempat main. Masa kayak perpustakaan sekolah luasnya, Mah. Terus tempat main Irlan tuh game yang ada di timezone. Kita main tembak-tembakan. Aku diajarin balap mobil!"


"Kamu kan belum punya SIM."


"Kirain mobil betulan."


"Mama pernah liat hantu air?"


"Kamu liat di rumahnya?" Hana khawatir.


Mira alihkan ibunya agar tak cemas. "Sekilas. Aku liat, tapi dia gak ngapa-ngapin."


"Syukurlah."


Mira pergi makan bertemu Jefri dan Awan yang lebih dulu habis.


"Wan, udah pernah ke kolam renang sekolah belum?"


"Materi olahraga gue belum sampe renang."


"Sama sekali?"


"Di sana kan tutup terus kecuali pas ada materi ... Emang kelas lo belum pernah masuk sana?"


Mira tahu Awan kalau sudah main game jarang lihat mata lawan bicara.


Jefri makan sambil menyimak mereka.


Kenapa pula Mira bertanya kolam renang sekolah pulang dari rumah Irlan.


"Emang lo jarang ada gunanya... " Harusnya Mira tidak perlu tanya anak baru.


"Ngapain aja di rumah Irlan?" Jefri basa-basi.


"Liat-liat sama numpang makan doang. Urusan lo sama Indri gimana, udah selesai?"

__ADS_1


Mira cuma ambil nasi sekadarnya tambah tumis kangkung, tempe goreng, juga sambal.


"Ya udah."


Mira tadinya mau bercerita, tapi Jefri tidak menjelaskan panjang lebar urusan penting apa antara dia dan Indri.


"Dia nyuruh lo ngusir hantu?" Mira menebak.


"Semacam itu."


Awan menjeda permainannya sebentar. "Jef, lo bukan pengusir setan. Indri siapa lagi?"


"Gebetan baru," jawab Mira.


"Gebetan?" Awan tidak langsung percaya.


"Indri bukan gebetan gue," bantah Jefri.


"Bukan pun ngapain lo ngusir setan buat dia? Kenal baru sebentar," imbuh Mira rada tersulut tapi masih bisa ditahan.


"Nolong itu kewajiban sesama manusia," jawab Jefri.


"Yang lo bantuin bukan manusia."


"Gue kan nolong Indri, bukan nolong hantunya."


"Kalau gebetan mah ngaku aja, Jef." Awan tidak mau melerai mereka. Seru aja.


"Dibilangin bukan gebetan!" Jefri ngotot.


Mira tidak jadi makan di hadapan Jefri. Liat mukanya saja malas.


Dibawa piring dan gelas ke kamar gedebak-gedebuk langkahnya.


Awan menyayangkan Mira masih kecil kalau debat dengan Jefri.


Mira tak mau kalah, Jefri pula selalu menyangkal apalagi mengalah.


Awan menggeleng lemah berdecak tiga kali sebagai penikmat pertengkaran mereka.


"Ngalah kali, Jef. Kasian abis kena serangan hantu dari sekolah."


Raut Jefri berubah kaget. "Serangan apa? Kapan?"


"Belum lama. Gue lagi latihan silat didatengin Mira di sekolah. Pas pulang ada sinar biru gitu dari belakang langsung nabrak Mira, brakk!" Awan ceritakan apa yang terjadi pada mereka beberapa hari lalu. "Bentar. Mira gak cerita?"


"Nggak."


"Parah lo berdua misal berantem beneran." Telunjuk Awan menunjuk Jefri, meledek. "Lo gak tau juga dia sering sakit dada kiri gara-gara efek sinar misterius itu? Wah, parah banget sih kalau gak tau."


"Gue sama sekali gak tau."


"Lo ada masalah apa, njir?"


"Mana gue tau." Jefri ada kalimat yang menyakiti hati Mira kah sampai dia tidak cerita apa pun bagaimana hari-harinya.


"Lo deket sama cewek lain dia ngambek, Jefri. Kan dari dulu gue bilang, seandainya lo naksir cewek kenalin ke Mira. Perkara Yuni udah cukup, jangan terulang."


"Tapi gue gak naksir Indri."


"Gak harus naksir atau orangnya Indri. Maksud gue, lo bilang ke Mira dulu sebelum sat-set bertindak. Pantesan Mira maen ke rumah Irlan gak mau boncengan sama gue. Gara-gara lo pergi sama dia? Parahhh."


"Lo jangan memperkeruh suasana, Wan."


"Emang udah keruh, butek suasana daritadi." Awan menambahkan, "Lo gak liat mukanya sepucet orang penyakitan?"


"Ngomong sama lo berasa gak selesai-selesai. Pusing gue!"


Jefri beranjak meninggalkan dia sendiri.

__ADS_1


"Lagian dia sendiri yang nyari ribut. Rasain tuh dicuekin Mira lagi!"


Awan bersungut-sungut, tapi senang rumah ramai.


__ADS_2