Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Janji Tersembunyi


__ADS_3

Hana mengambil kunci mobil berpamitan dengan Ratih yang tengah berada di kamar Jefri.


"Mba, aku ke sekolah dulu ya. Mira tiba-tiba minta dijemput."


Ratih menjadi bingung. "Bukannya sama Awan? Awan ke mana?"


Jefri semula tiduran langsung duduk menyandar di tempat tidur mendengar seksama.


"Aduh, kayaknya ada sesuatu, mba."


"Yaudah, jangan ngebut."


"Iya, mba."


Ratih berbicara sendiri. "Mereka berantem lagi atau kenapa ya kira-kira?"


Jefri pun mau tahu apa yang terjadi antara mereka sampai tidak pulang bersama padahal sudah diberi pesan.


*


Mira mendiami Awan yang juga bungkam seribu bahasa di depan gerbang sekolah dengan motor terparkir di depan mereka.


Mobil Hana tiba. Pengemudinya keluar dan begitu tercengang melihat dahi putrinya ada darah kering.


"Ya Allah, Mira, kamu kenapa ini sampai berdarah-darah gini? Astagfirullahalazhim.. "


Tidak mau ribut di kawasan umum Mira cuma menenteng tasnya masuk mobil, mengacuhkan Hana yang khawatir dari suaranya.


"Mira!" Awan panggil dia pun tidak menoleh sedikit pun.


Mira benar-benar kecewa dan marah.


"Kita ngobrol di rumah ya. Kamu pulang naik motor, Awan."


Tak punya jawaban selain iya dan mengangguk. Awan pulang mengikuti mobil di belakang.


*


Di rumah Jefri menunggu kepulangan mereka dengan cemas di ruang tamu.


Ratih sudah tertidur di kamar usai menyuapi Jefri makan.


Bagaimanapun Jefri harus lihat sendiri keadaan Mira. Dari raut wajah Hana ketika pergi jemput dia tidak baik-baik saja. Apakah terjadi sesuatu di sekolah? Semoga tidak begitu buruk.


Suara mobil terdengar dari luar. Jefri bangkit dari duduknya berniat membuka pintu.


Sebelum dia raih gagang pintu, Mira membuka lebih dulu dengan muka datar.

__ADS_1


Mira hanya sekilas melihat Jefri dan terus berjalan ke kamarnya.


Hana menyusul ke kamar anak gadisnya.


Tatkala Awan masuk Jefri langsung menghadang pakai pertanyaan.


"Mira kenapa luka-luka?"


"Mira ke toilet sendirian pas gue latihan di lapangan."


Dahi Jefri berlipat marah. "Apa?"


"Maafin gue, Jef."


"Cuma sehari gue suruh lo berangkat pulang bareng Mira. Dia sampe babak belur gitu, Wan?"


Ada nada kecewa atas pertanyaan yang Jefri lontarkan.


"Posisi gue lagi latihan gak liat ke arah Mira, Jef."


Jefri menyerah berdebat. "Besok minta maaf."


Awan menggaruk kepala frustasi. "Gak bakal dimaafin gue."


Sembari menunggu Mira mandi, Hana menyiapkan obat-obatan.


*


Entah hantu semenyeramkan apa, Mira mau lawan rasa takut sekuat tenaga.


Mira ingin melindungi dirinya sendiri.


Melihat Awan merasa bersalah sangat menyesakkan dan menambah beban pikiran.


Memang inilah takdir Mira. Dia akan selalu dicelakai dan dicelakai oleh mereka yang tertarik nampak energinya.


Tidak sepatutnya Mira meminta Awan atau selalu bergantung pada Jefri untuk melindunginya setiap saat sebab mereka memiliki waktu berharga tersendiri.


Perkara kepala dan dahinya yang terluka secepatnya akan hilang. Tidak masalah bagi dia.


Atas tragedi yang menimpa hidupnya Mira yakin ada kaitan dengan janjinya sewaktu dulu.


Itu sudah lama sekali.


Mungkinkah energi yang membuat mereka tertarik mencelakainya karena janji kala itu?


*

__ADS_1


"Jefri, ngapain?"


Bukannya istirahat sedang sakit pria itu justru masuk kamar Mira membawa kotak P3K miliknya.


Kalau Mira marah tidak bisa dibiarkan terlalu lama.


"Duduk," titahnya.


Mira duduk di kursi sedangkan Jefri butuh kursi lagi.


Dengan telaten Jefri mengobati dan menutup luka Mira.


"Lo pasti ketakutan banget. Maaf hari ini gak berangkat sekolah. Besok kita berangkat bareng supaya lo gak kenapa-kenapa lagi. Hm?"


"Terus gimana gue bisa balas budi?"


"Kita ini keluarga, mana ada balas budi segala."


"Coba gue bisa ngelindungin lo juga, Jef."


"Gue udah janji berusaha jaga lo dari SMP, gak usah mikirin balas budi."


Sejak kecil Jefri tidak biasa bergaul dengan sepupu-sepupu yang lain karena dia sadar akan kemampuan penglihatannya menembus alam lain.


Berbeda dengan Juan yang periang dan ceria meskipun sama pengalamannya seperti Jefri.


Peran Juan sebagai perisai mereka mulai tergeser setelah dia memilih tidak mau mengasah lebih dalam mata batinnya.


Juan yang periang lambat laun berubah lugas dan pemarah. Sementara Jefri masih pendiam dan penuh perhatian hingga sekarang.


"Awan gak mungkin biarin lo ke toilet sendirian. Dia ngerasa bersalah, nangis di kamarnya ditenangin Bunda."


Mira bersyukur petarung hantu itu masih punya hati.


"Zafran tau bukan cuma Yuni yang mau raga gue. Kejadian yang nimpa gue apa gara-gara janji dulu?"


"Takdir setiap manusia udah tertulis. Bukan karena janji yang terucap. Lo gak sengaja."


Mira sedang banyak pikiran negatif oleh sebab itu mengaitkan banyak hal dengan kejadian-kejadian di luar keinginannya.


"Gue rasa kita gak bisa lama-lama sekolah di sana, Jef. Sejak pertama kali gue menginjakkan kaki sampai sekarang banyak hantu yang gak seharusnya ada."


Jefri belum mau membalas Mira.


"Gue rasa Zafran juga harus pindah dari sana. Tapi orang tuanya gak percaya hal begituan. Gimana dong?"


Gerakan tangan Jefri yang tengah menutup kotak P3K berhenti.

__ADS_1


"Ada cara lain gak?"


"Om Hardi tau tentang kita bertiga, Mir."


__ADS_2