
"Aduh goblok, bantuin gue keluar!"
Zafran kesulitan keluar dari pinggang ke bawah, bokongnya nyangkut di jendela lantaran sela-selanya tidak muat.
Mereka berhamburan Zafran sibuk mengejan supaya bokongnya lolos tanpa hambatan.
"Bantu hambamu ini Ya Allah!"
Alin tidak punya waktu banyak meladeni Zafran. Dia tendang bokongnya tanpa peduli Zafran nyungsep ke lantai.
"Anjrit!" Zafran meringis kesakitan.
Bukan bokong, pinggang, atau kakinya yang sakit. Melainkan muka dia menubruk lantai secara bebas.
Jeritan-jeritan dari siswi memenuhi koridor memancing kelas lain keluar untuk melihat dengan rasa penasaran apa yang sedang terjadi.
Menurut kesaksian Irlan yang agak terakhir keluar mendengar lelaki ikut teriak khas perempuan.
Aib mereka terbongkar karena hantu peniru Pak Adit.
Mira menahan Dewi keluar.
"Kenapa lagi!" bentak Dewi.
"Ilang."
Dewi yang berada di ambang pintu menyadari Pak Adit imitasi 'tring' hilang.
"Ke mana dia?" Mira mencari.
"Gak usah dicari!"
Dewi menyeret Mira lari turun ke bawah melalui tangga sebelah barat.
*
Jefri yang bergegas keluar kelas tidak sempat bertemu mereka akhirnya turun lewat tangga lain supaya bisa menghadang.
*
Zafran lari menuruni tangga sangat cepat seperti lomba maraton.
"Cepet banget, njir!" Gani terengah-engah sempat istirahat beberapa detik.
"Mau dikejar lo?" sahut Irlan dari belakang.
"Anjing!" Gani balapan lari dengan Irlan.
Mira dan Dewi mengerem kaki mendadak sebab sangat terkejut ada seorang di depan mereka.
**
Anak-anak lain yang turun sampai lantai dasar pula kembali histeris melihat Pak Adit di depan mereka dengan tatapan tak kalah bingung.
"Huaaaa! Setaannn!"
"Allohulaa ilaa ha illa huwal hayyul qoyyum!"
"Japran mana Japran! Makan si Japran aja tuh!"
"Gue mulu yang ditumbalin!"
Pak Adit menghentikan kehisterisan mereka dengan suara lantang. "Ada apa kalian ini teriak-teriak? Gak ingat sekarang menjelang maghrib?"
Telunjuk Alin menoel lengan Pak Adit lalu jingkrak-jingkrak ketakutan.
"Gue bisa pegang setan! Mama, pertanda apakah ini?"
Zafran maju menghampiri Pak Adit meskipun ingin sekali dia menghukum semua muridnya yang membuat kegaduhan di lingkungan sekolah.
"Kamu mau ngapain lagi?" tukas Pak Adit.
"Bapak saya siapa?"
"Bapak kamu donatur terbesar di sekolah ini. Terus kenapa?"
Zafran yang semula curiga hantu lain meniru Pak Adit seketika tersenyum lebar sok akrab memeluk gurunya.
"Manusia, guys."
Pletak!
Zafran kena jitak Pak Adit.
"Maksud kamu saya hantu, gitu?"
"Emang ada hantu mirip Bapak tadi di kelas, Pak!" Alin ngotot.
"Jangan ngada-ngada kamu, Alin."
"Sumpah, Pak. Mirip sama gantengnya!"
Makin ngaco mereka. "Irlan!" panggil Pak Adit.
Irlan di tengah teman-temannya menjadi pusat utama lirikan mereka.
"Kalian sekongkol ngerjain saya jauh-jauh dateng ke sini?"
__ADS_1
Irlan membantah, "Buat apa, Pak? Saya sama sekali gak niat iseng apalagi semuanya liat ada Pak Adit masuk kelas, tapi di-video call lagi nyetir mobil."
Zafran lihat Awan main basket di lapangan sendiri.
"Bentar saya panggil orang lain, Pak. Kalau bapak gak percaya, bapak bisa liat sendiri."
"Hah, maksudnya?"
"Siapa, Jap?" tanya Irlan.
Zafran berlari ke tepi lapangan sembari melambaikan tangan memanggil Awan.
"Wan! Awan ganteng! Uhuy!"
Awan cemberut kesal dipanggil saat berlatih ketangkasan.
"Ada apaan rame-rame gini, mau kondangan?" celetuk Awan.
"Gue tanya, lo jawab jujur."
"Ada hadiahnya gak?"
"Banyak senior di sini lo gak apa-apa pulang nyasar ke rumah sakit?"
"Ya kenapa?"
"Lo dari tadi main basket kan di sini? Liat Pak Adit keluar dari ruang guru, nggak?"
"Liat."
Mereka sedikit lega ada saksi lain.
"Pak Adit masuk kelas gue, kan?"
"Iya."
"Liat juga Pak Adit ke kamar mandi lama banget, terus balik ke kelas?"
"Iya, gue liat."
"Lo tau Pak Adit yang masuk kelas bukan manusia?"
"Emang bukan manusia."
"Bukan manusia- " Zafran emosi begitu santai bocah itu menjawab. "KENAPA GAK KASIH TAU KITA!"
Awan tetap santai dibentak Zafran. "Mira belum bisa bedain manusia sama hantu? Udah gue duga."
"Kalian semua main-main sama saya, awas ya nilai kalian yang jadi taruhan."
"Ya Allah ... Pantat saya kejepit di jendela pas mau kabur dari kelas tau bukan manusia yang ngajar kita, Pak!" Zafran berusaha meyakini gurunya.
"Kalian semua. Emangnya sekarang ini Pak Adit asli?" tanya Awan.
Mereka mundur menjauh bersamaan.
Pletak!
"Kamu kelas sepuluh jam segini belum pulang?" sarkas Pak Adit.
"Sayang melewati momen menarik."
"Apa?"
"Liat mereka lari-lari ketakutan, itu momennya, Pak."
"Dasar jahanam banget kelakuan lo, Wan!" teriak Zafran. "Mira! Hajar si Awan!"
"Eh iya, Mira mana?"
"Mira?" Awan panggil lagi.
"Mira gak ada woi!" sahut yang paling belakang lihat dari depan.
"Mira gak mungkin dimakan hantunya, kan?" tanya Irlan menakuti orang lain.
"His! Ngomong yang bagus!"
Awan menatap mereka berjalan mundur menaiki tangga dan menjerit alari-larian di lantai dua.
"Ngapain lagi dia?" Awan mengumpat dalam hati bergegas mengejar Mira dan Dewi sebelum terjadi apa-apa.
"Ih, asu-- eh, astaga! Tuh, Pak, liat gak itu duplikatnya Bapak?" Gani heboh menunjuk pria yang membuat gaduh satu kelas.
"Wih, kok iya?" Pak Adit berkaca ke jendela kelas di sampingnya. "Saya gak punya kembaran rahasia, lho!"
Mereka menelan ludah sambil terus memerhatikan hantu Pak Adit yang menaiki tangga tanpa menyentuh tanah kemudian menghilang tanpa jejak di lantai tiga.
"Ilang!" Alin kabur pulang tanpa membawa tas yang dibawa.
Mereka terbirit-birit keluar dari sekolah dengan air mata tertahan di pelupuk.
Pak Adit memukul wajahnya berkali-kali masih penasaran. "Saya belum mati, kan? Jangan-jangan itu arwah saya."
Zafran buang muka. "Mati atau hidup Pak Adit harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama kita! Gak terima kita diajarin sama setan!"
Irlan memijit keningnya yang nyeri. "Udah, jangan mendramatisir suasana."
__ADS_1
Irlan lelah menghadapi kawan-kawannya dari pagi, bertemu hantu mirip Pak Adit, dan di belakang mereka Awan bertarung melawan angin memakai jurus-jurus randomnya di lantai dua.
"Adik kelas kamu kenapa begitu? Udah stres?" sahut Pak Adit usai mengamati tingkah Awan.
"Dia berjuang buat kita," ujar Zafran menangkup kedua tangan berseri-seri.
"Gila lo!" hardik Irlan.
"Kalian semua ... Apa pun alasan hari ini kalian buat kegaduhan sampai kelas lain keluar semua."
"Tapi mereka gak ikut pulang," tangkas Zafran.
"Lebih tepatnya kabur!" cetus Pak Adit melotot.
"Lain kali Bapak harus konfirmasi ke kita sebelum pulang sepenting apa pun itu supaya gak terulang lagi." Irlan tak sudi.
Pak Adit sebetulnya tidak tega menyalahkan anak didiknya. Entah benar tidaknya soal hantu yang mirip dengan dia atau dia masuk ke halusinasi yang dibuat mereka, tak dibenarkan membuat kegaduhan apalagi mengganggu pembelajaran kelas lain.
"Kalian pulang saja. Urusan saya pun belum selesai," ujar Pak Adit.
*
"Awaaannn!"
Mira menjewer telinga anak tengil yang menyaksikan dengan tawa dari bawah tanpa sepengetahuan mereka.
"Heh, heh! Lepasin, aduh, sakit, Mir. Kuping gue, aduh!"
Jefri memegang lututnya capek mengejar Mira dan Dewi.
"Lo ... Kenapa gak kasih tanda ke mereka... ?" Napas Jefri belum teratur.
"Kenapa?" Dewi sewot banget.
"Seru gitu liat kalian kocar-kacir... " kekeh Awan tanpa penyesalan.
Dewi jewer telinga Awan sebelahnya.
"Bangsat!"
"Kapan lagi satu kelas liat hantu. Incredible story, kan?"
"Matamu!" Mira tarik lebih kencang lagi.
"Sakit, Mira! Jefrii! Tolongin adikmu ini lah, Jef! Lo sendiri bilang tiap liat sesuatu gak mesti cerita ke orang lain karena mereka di ambang percaya gak percaya," jelas Awan.
Mira melepas tangannya lalu memandang Jefri seolah membenarkan perkataan Awan.
Jefri mengangguk dua kali. "Iya, pernyataan lo betul. Tapi gak ada salahnya kasih tau kalau bisa bahayain orang, Wan."
Dewi melepas tangannya juga.
"Mira, tunggu gue pulang di bawah."
"Iya."
Jefri berpesan. "Jaga Mira, Wan."
Awan mengerti.
"Dew, tunggu Surya juga. Gak berani pulang sendiri, kan?"
Dewi manggut-manggut. "Suruh samperin gue anaknya."
"Oke."
"Urusan kita belum selesai," bisik Mira ke Awan.
"Gak sengaja, Mira.. "
"Lo sengaja!"
"Btw, tadi hantunya langsung kabur denger lo teriak 'Awaaannn!' ," tiru Awan.
"Gue aduin ke Om Pras nanti!" ancam Mira.
"Gimana nanti seandainya lo liat kembaran Jefri sedangkan belum bisa bedain manusia sama hantu?" cibir Awan.
Mira memegang blazer Awan. "Kata lo gak ada yang bisa niru Jefri, lo, atau keluarga kita lagi."
Awan berhenti menyempatkan matanya melihat reaksi khawatir Mira.
Dia melepas tangan Mira. "Gak ada yang tau ke depannya gimana."
"Bahaya ya?" tanya Dewi.
"Hm, lumayan."
"Kenapa berhenti? Buruan turun, gue liatin dari sini!" seru Jefri.
Awan prihatin muka Mira berubah sedih tapi tidak ingin memberi omong kosong bila suatu saat nanti apa yang Mira takutkan terjadi.
"Gimana pengalaman hari ini, Mbak Dewi?" tanya Awan basa-basi.
"Paling buruk dari yang terburuk!"
"Seenggaknya cowok lo gak kepincut sama cewek astral," ucap Awan tanpa sengaja.
__ADS_1
"Gimana maksudnya?"