Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Kelalaian Awan


__ADS_3

Masih pagi Mira dibuat badmood oleh Jefri. Dia kasih helm ke Awan yang mau berangkat bareng ke sekolah.


"Kalem, mba." Awan menyisir rambut ke belakang dengan jari-jarinya sambil ngaca di spion motor. "Keknya sesuai prediksi gue. Jefri makin deket sama Indri."


Mira berdiri di sampingnya bersedekap dada memalingkan wajah, namun tetap mendengarkan celotehan unfaedah dari Awan.


"Setuju gak mereka jadian?"


"Kenapa nanya gue," ketus Mira.


"Yee, kan sebagai sepupu yang pernah berantem main rubik harus kasih pendapat."


"Ingatan lo tajem juga."


Awan usia empat tahun saat mereka cakar-cakaran berebut rubik.


Awan turun. Mereka berdua jalan beriringan masuk lobi sekolah.


"Gue pulang langsung latihan silat. Mau nunggu selesai, apa pulang sendiri naik angkot gue kasih tambahan ongkos?"


Mira melirik kesal Awan menguji kesabaran. "Naik angkot juga lo pikir gue tau jurusan mana?"


"Apa mau nebeng Zafran, Irlan?"


"Bisa aja sih ... Tapi beda arah. Gak enak masa minta anterin."


"Berarti tungguin gue."


"Ck. Iya!"


Selama pelajaran berlangsung kondisi kelas 11B cukup kondusif.


"Jefri gak berangkat?" Zafran belum lihat Jefri sampai istirahat pertama.


"Gak enak badan, katanya."


"Bisa sakit?" Dewi spontan.


"Masih manusia," jawab Mira.


"Jenguk yuk ke rumah. Kita belum pernah main ke rumah kalian juga," ujar Dewi.


"Jefri gak terlalu suka banyak orang di rumah. Lagian dia kalau sakit cuma tidur seharian di kamar."


"Sakit apa emang?" Irlan ikut bertanya.


"Gue cek sih demam. Ditanya geleng-geleng kepala doang," jawab Mira.


Saat sakit Jefri selalu menyembunyikan rasa sakitnya. Apa yang Mira lihat cuma demam, tidak tahu Jefri ada batuk pilek atau pusing kepala.


"Nanti lo pulang nunggu Awan dong? Apa mau dianterin mereka? Lumayan naik mobil gak kepanasan."


Dewi sependapat dengan Awan. Mira yang tak enak hati. "Gue nunggu dia selesai latihan gapapa."


"Atau Surya anterin lo dulu pulang, baru gue."


"Gue gak enak sama lo. Gapapa beneran gue nunggu Awan aja. Lebih nyaman gitu."


Dewi tidak bisa memaksa juga. "Yaudah. Terserah lo aja." Mereka tersenyum.


**


Sebelum masuk kelas pasca istirahat kedua Mira sempat membaca pesan dari Jefri.

__ADS_1


Intinya, dia sangat menyebalkan.


'Jangan pulang selain sama Awan' - Jefri -


Apakah Jefri hanya tahu cara memerintah. Ya, memang hantu pun segan dan segera melakukan perintahnya jika dia ingin cepat kaya atau punya ilmu kebal.


Mira pula tahu diri meskipun teman-temannya menawarkan tumpangan.


Saking kesalnya Mira ingin membanting hape ke lantai.


"Mira."


Mira kaget. "Astaga! Eh, Indri."


Indri mencari waktu yang pas menemui Mira.


"Gue mau tanya."


"Jefri gak berangkat, lagi sakit."


Mengetahui Mira tahu arah pertanyaannya Indri menautkan alis heran.


"Bukan itu yang mau lo tanyain?" ujar Mira.


"Lo tau gue nyari Jefri."


"Kan emang lo deketnya sama dia."


"Jefri sakit parah? Gue mau jenguk boleh?"


Tanpa babibu Mira menolak kunjungannya. "Besok Jefri berangkat. Gak perlu dijenguk."


Mira memilih masuk kelas ketimbang terus mengobrol dengan Indri.


Dia pun kesal karena faktor lain.


*


Mira tiduran di depan pinggir lapangan memakai tas milik Awan sebagai bantalan kepala.


Sambil menunggu dia latihan alangkah baiknya menghabiskan waktu nonton drama atau stalking selebgram pria.


Memang sangat tidak efisien waktu mereka berlatih.


Sebetulnya impas. Awan menunggu Mira selesai jam tambahan sore. Gantian Mira nunggu Awan latihan silat bada maghrib.


Entah jam berapa mereka sampai rumah.


Sekitar dua puluh menit Awan latihan dan diberi waktu istirahat setengah jam, Mira kalangkabut kebelet pipis.


"Kenapa gak pas Awan istirahat sih.. "


Mira bangun. Melambai-lambaikan tangan ke Awan supaya melihat dirinya.


Mana hampir keluar pipisnya Mira, Awan tidak kunjung menoleh.


"Wan! Awan! Sayang!"


"Budek amat. Awan!"


Kepepet!


Mira ngacir ke toilet ujung sana meninggalkan ponselnya.

__ADS_1


Menuntaskan dengan baik dia membasuh tangan gugup.


Mengingat kemarin baru saja mengalami hal menyeramkan terkait cermin toilet.


Seperti deja vu.


Srett!


"Eh!"


Mira berbalik merasa ada yang lewat di belakang.


Bulu tengkuknya berdiri merinding.


"Fiks ini mah sama kayak kemarin! Awaaannn!"


Srekk!


Kaki Mira ditarik sebelah dari belakang hingga dia tersungkur ke depan.


Parahnya jidat Mira kena lantai. Ini serangan tidak disangka-sangka.


"Awss!"


Dia membelah rambutnya yang jatuh ke depan wajah.


"Aaahk! Mamaa!"


Nenek yang sama tepat muncul di depan wajahnya menyeringai tajam.


Kaki kiri Mira ditarik ke dalam toilet.


"Awaannn! Tolongin gue, anjrit! Jangan main dari belakang ya lo! Aduh!"


Tangan Mira terulur ke depan dan ditarik begitu kasar hingga bagian depan kepalanya menabrak dinding.


"Akhh!"


Percuma dia teriak. Mira bangun bergegas keluar dari toilet dengan langkah terseok-seok.


"Mira! Lo dari mana-- Heh, astagfirullah!"


Mira memukuli Awan. "Lo yang lama banget! Gue kebelet pipis tadi! Mau minta anterin tapi lo gak nengok ke gue! Gue ke toilet sendirian, tapi malah dikerjain sama setan!"


"Gue gak liat kanan kiri. Sori, Mir. Lo berdarah-darah gini kepala. Pusing gak?"


Mira terlanjur kecewa, dia tepis tangan Awan yang mau mengecek dahi dan kepalanya.


Mira terduduk di lantai menangis tersedu-sedu.


Teman-teman Awan yang lain sebagian telah pulang.


Awan membungkuk dan berdiri lagi. Dia frustasi lalai menjaga Mira. Bisa ngamuk si Jefri.


"Mama, jemput Mira di sekolah sekarang."


Awan biarkan Mira bicara dengan Hana.


"Gak ada Awan-awanan. Mira maunya Mama yang jemput. Titik."


"Sori, Mira."


Awan lekas duduk di samping Mira yang masih menangis tidak mau diobati lukanya.

__ADS_1


Rasa bersalah amat menyeruak dalam diri Awan.


Bagaimana ini?


__ADS_2