Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Apakah Mirza Bisa Bertahan?


__ADS_3

Apabila menunggu musim hujan datang sekitar beberapa bulan lagi, apakah ia masih bisa bertahan hidup?


Cahaya dari sela-sela dedaunan mempunyai arti khusus bagi pria yang sedang berdiri dekat jendela rumah.


Memancarkan aura berbeda. Kehormatan dan wibawa yang lebih kental. Keluarlah sosok lain dari dalam cermin yang berada di sudut kamar sang pemilik.


"Harga diriku terluka menuruti kemauanmu."


Pria yang pernah menjalin hubungan dengan Mira bergeming. Sorot sendu dari maniknya enggan lepas menatap langit.


"Gerak gue sekarang terbatas. Gak bisa habisin energi secara sia-sia lagi."


Warna keemasan berpusar di sekitar sosok itu mengingatkan pada satu nama.


"Sanjaya." Mirza memanggilnya.


Perlahan tubuh kurus itu berbalik. Tangannya memegang bagian perut samping yang pernah terluka akibat luka tusuk.


Sanjaya prihatin dengan kondisinya. "Kamu tidak harus ikut campur dalam hidupnya lagi."


Senyum bahagia yang pernah diperlihatkan kini tinggal bayangan memilukan.


Mirza duduk di bangku menatap kosong dinding putih. "Bantu Jefri, San. Dia gak akan kuat sendirian."


Kemarahan terpendam luluh lantak oleh kepedulian sesama teman seperjuangan. Jika bisa berdiri di samping mereka maka akan ia lakukan. Sayangnya sudah tidak bisa.

__ADS_1


"Dia terlihat paling tangguh." Sanjaya melihat itu dari cara Jefri bersikap. "Namun sesungguhnya paling hancur."


"Kayaknya gue gak bisa bertahan lebih lama. Minggu depan gue ke Jakarta," ucap Mirza.


"Merahasiakan kondisimu bukan pilihan baik. Beritahu mereka."


"Apa kerajaan di sana aman gak ada pangeran?" canda Mirza. "Lo harus balik. Gak bagus terlalu lama berkeliaran."


"Kamu yang memanggil saya datang ke dunia aneh ini."


"Lo yang membuka komunikasi sama mereka."


"Karena kamu meminta bantuan saya." Sanjaya tidak bisa marah dengan manusia satu ini. "Katakan apa saja cara yang bisa menyembuhkan kamu."


Akibat pisau yang dilumuri mantra awalnya Mirza mengira energi spiritualnya terserap sedikit. Rupanya semakin hari hanya rasa sakit berulang di titik yang sama. Atau bahkan semakin tak tertahan di waktu tertentu.


Inilah yang disebut takdir.


Ia seorang pria biasa. Pemikirannya belum dewasa. Dipaksa bertanggung jawab atas hidup orang lain agar tidak merasakan sakit yang sama.


Semua hal yang pernah diberikan Mira dan Jefri akan selalu membekas jika dia tiada.


"Kamu tidak panggil Jayantaka," ujar Sanjaya sekaligus menanyakan alasan dia mengulur waktu bertemu pendampingnya.


Mirza terbata-bata menuju kasur. "Dia beda sama gue ... Gak berguna dipanggil sekarang."

__ADS_1


Faktanya ialah Sanjaya hadir karena dipanggil Mirza. Jefri belum tahu hal itu.


Jefri masih menyangka pintu komunikasi Sanjaya terbuka kembali akibat Mira dalam bahaya di hutan.


Merasa sia-sia mengobrol lama bersama orang egois, Sanjaya kembali ke tempatnya.


Air mata Mirza jatuh tanpa diperintah. Bulir-bulir air yang turun dari langit turut mewakili kesedihannya. Sesak di dada tak terbantahkan. Semua terjadi karena dia hadir dalam hidup mereka.


Jika sedari awal Mira tidak bertemu dengannya, maka Kakek Fuadi dan ayahnya tidak mengenali satu sama lain.


Semua berawal dari sana. Pengkhianatan, dusta, kepedihan, sampai kematian satu per satu dari keluarga mereka hampir membunuh Mirza secara perlahan. Kini dia mendapat karma atas perbuatan ayahnya.


Isak tangis teredam seiring turunnya hujan. Mereka mungkin sudah melupakan kenangan buruk, tapi rasa bersalahnya lebih besar. Walaupun Mirza telah dimaafkan dengan dalih bukan salahnya. Pria berhati emas itu tidak bisa mengurung mereka dalam bahaya lagi.


Cara pertama hingga terakhir ia lakukan. Pemanggilan Sanjaya bukan cara terakhir demi melindungi mereka. Mirza menyebut Sanjaya dinding baja yang bisa menahan segala energi negatif.


Sanjaya dan Jefri tidak jauh berbeda. Mereka memiliki rasa tanggungjawab, keberanian, dan kesederhanaan.


Jika pendamping masing-masing dari mereka muncul ke permukaan secara bersamaan demi kepentingan duniawi, selanjutnya yang terjadi adalah ketidakseimbangan.


Sanjaya mungkin tetap bertahan selama Jefri hidup. Jayantaka tidak begitu. Mirza mati pun dia mana mau datang menemuinya.


Pada akhirnya, Mirza menulis surat singkat di atas lembaran putih untuk seseorang yang tidak pernah terhapus dari hatinya sampai kapan pun.


Surat itu akan diberikan setelah masa hidupnya habis.

__ADS_1


__ADS_2