
"Kita di dimensi lain?" Irlan mengerjap kemudian bertanya sekali lagi. "Jadi, perubahan semua ini karena perbedaan dimensi?"
Mira berdiri merasakan kebingungan yang dialami Dewi dan Surya di seberang.
"Hm. Gue pernah ngalami hal serupa satu kali. Dulu ... waktu kecil."
"Liat lo bisa keluar, gue lega." Irlan berpikir positif. Mira berhasil ke luar dari sana karena sekarang bertumbuh besar. Maka sekarang pasti mereka bisa ke luar dari kekacauan ini.
Mira mengangguk pasti. "Mereka bakal selesaiin dengan baik. Kita tunggu."
***
Asap putih dan bau dupa berangsur hilang. Lampu merah menerangi hampir seluruh gudang, banyak benda-benda keramat seperti pusaka, sesajen, kepala kambing, dan kolam kecil berwarna merah.
Apa itu air yang keruh terkena pantulan lampu atau darah ... Mereka bertiga tak ingin menyentuh segala sesuatu.
"Koleksi yang amat bagus." Awan menganga lebar tatkala melihat keris lawas tertulis aksara jawa yang artinya "Satu Banding Seribu".
Lirikan tajam Juan sudah mendarah daging tiap Awan komentar. Apa saja, pokoknya di telinga dia selalu salah.
Ada satu lorong gelap di sebelah tumpukan sesajen. Jefri terus menatap ke arah sana berharap menemukan petunjuk.
Semakin lama ditatap, ia merasa aneh dengan atmosfer sekeliling yang tak asing. Hawa dingin dan panas menjadi satu setiap kali Sanjaya muncul. Perasaan yang sama kembali menguap.
"Sanjaya?"
Ponsel Awan menyorot ke lorong itu ketika ada suara barang jatuh.
"Masuk, Wan." Juan mau mengamati sekitar lebih dekat.
__ADS_1
"Pawang first."
"Bocah gemblung!" Juan mau smackdown Awan sekarang, tetapi Jefri tanpa berkata apa pun masuk ke lorong. "Jefri!"
"Bentar, gue ngerasa ada Sanjaya di sana." Jefri mengangguk, menyakinkan mereka dia bisa mengatasi sendirian.
Juan menoleh ke sela-sela kendi. Terdapat wadah dari tanah liat berisi tanah berbau kembang.
"Coba cium," suruh Juan terhadap Awan.
Awan ragu itu bukan tanah yang biasa di jalanan. Pas dicium baunya super wangi, nusuk ke hidung.
"Bego, tanah kuburan ini."
Dengan santainya Juan mengiyakan. "Gue tau." Juan iseng.
"Kata lo jangan pegang barang. Itu lo sendiri nenteng kendi. Balikin gih," desak Awan.
"Ya terus mau lo apain, Julekha?" Awan merebut kendi, niatnya mau ditaruh ke tempat semula.
"Ntar dulu gue mau liat lagi." Juan rebut lagi kendi dari tangan Awan. Jadilah mereka rebutan sambil adu mulut.
Prak! Kendi pecah karena diperebutkan.
"Hayo loh! Pecah tuh, tanggung jawab lo!" tuduh Awan.
Bola mata Juan berhenti menyadari ada kertas yang tertimbun tanah dari kendi yang pecah. Badannya membungkuk meraih kertas itu untuk melihat apa isinya.
Irlan Nasution. Kamis Wage, 9 Februari 2001, Jakarta.
__ADS_1
Dewi Amalia. Rabu Pon, 19 Agustus 2001, Jakarta.
Surya Rochman. Senin Legi, 29 November 2001, Jakarta.
Zafran Kusuma. Kamis Pahing, 9 Juni 2001, Bandung.
Mira Fuadi. Jumat Legi, 19 Desember 2001, Bogor.
Mirza Syahrul Putra. Minggu Kliwon, 29 Mei 2001, Bogor. ❌️
"Daftar nama apa ini?" Awan bahkan baru sadar tanggal lahir mereka semua ada angka sembilan.
"Primbon."
"Nama Mirza disilang. " Apa mungkin tanda silang itu berarti sudah meninggal. Dasar bajing*n gila.
Total ada enam nama yang disembunyikan dalam kendi. Tidak semua dalam daftar meninggal, melainkan korban lain.
"Dia udah lama ngincer mereka." Juan bergumam menahan emosi.
"Tapi kematian Johan, Indri, sama Hadi? Ada daftar nama lain?"
"Gak ada. Mereka korban."
"Bokap gue pernah bilang kalau kita susah diguna-guna karena cepet sadar. Mereka bertiga gantinya?"
"Bisa jadi. Menurut lo gimana, Jef?" Juan kaget Jefri belum kembali.
"Jef!" Awan teriak dan sempat sekilas melirik lorong gelap itu. "Eh?"
__ADS_1
Ada sesuatu yang Awan lihat.
Apa itu?