
Mira melempar tas selempangnya ke dada Juan.
"Kenapa baru bilang?!" bentaknya emosi.
Om Pras menarik Mira. "Pasti dijelasin. Kamu duduk dulu."
"Lo bertiga mau gue gak khawatirin Mirza padahal kondisinya parah. Kalian gila."
Om Pras memutuskan duduk saja menunggu kabar dari dokter.
Om Haryo menyesal ikut menyembunyikan fakta berdalih menjaga perasaan Mira. Dia pasti sangat terluka.
Juan pasrah memungut tas Mira, anak itu berjalan lunglai menghampiri ayahnya takut dibentak Mira lagi.
"Papa bilang kasih tau aja," ucap Haryo.
"Mirza gak izinin, Pah."
"Liat dia sekarang," ucap Pras menunjuk Mira dengan dagunya.
"Kita semua harus siap apa pun hasilnya. Baik atau buruk," ucap Haryo.
"Baik atau buruk, apa maksud Om?" sahut Mira ambigu.
Leher Haryo nengok ke kiri pura-pura melihat perawat keluar masuk kamar pasien. Jaraknya jauh padahal.
Mira sudah menyuruh orang rumah berangkat ke Bogor. Termasuk manusia-manusia yang membodohinya.
Mereka sangat keterlaluan. Mengapa Mira dikecualikan sedangkan yang lain tahu semua.
"Juan," panggil Mira.
"Apa?"
"Anterin gue pipis."
"Hhh. Buruan!"
Selama mengikuti Mira, Juan diam. Tugasnya mengantar ke toilet dan kembali.
Selesai buang air kecil tanpa gangguan keduanya kembali menjaga jarak.
Terlihat dari jauh Pras dan Haryo berbicara dengan dokter. Juan lari sebab Mira lari juga.
__ADS_1
Masih terengah-engah Mira bertanya kondisi Mirza ke dokter. "Mirza gimana?"
Suasana murung ini persis beberapa tahun lalu, Mira merasa deja vu. Dokter menundukkan kepala. Pras mengusap bahu Haryo. Haryo menghela napas dalam.
"Kenapa kalian diam aja? Mirza gapapa, kan?"
Ditunggu beberapa detik tidak ada yang menjawab. Mira hendak menerobos dokter yang menghalangi pintu masuk IGD.
"Pasien atas nama Mirza Syahrul Putra dinyatakan meninggal dunia pukul 14.04, kami tim medis- "
Mira tanpa ragu menyerobot masuk. Dua perawat yang berdiri di tiap sisi Mirza menutup tubuhnya dengan selimut putih.
Kaki Juan bahkan tidak terasa menyentuh lantai. "Gue bisa gila." Dia masuk mendahului Mira yang berhenti di depan brankar Mirza membuka kain itu.
Napas mereka seakan telah berhenti menyaksikan betapa pucatnya Mirza di waktu terakhir.
Mira meremas dadanya sesak menerima kenyataan pahit ditinggalkan orang yang disayang.
"Mirza. Gue gak liat lo di sini. Lo gak ninggalin kita beneran, kan?" Bibir Juan bergetar kala melontarkan pertanyaan yang membuat perawat dan dokter saling pandang bingung.
Mira tak sanggup berdiri. Pras segera menopang tubuh keponakannya. "Ikhlaskan Mirza," lirih Pras turut berduka cita.
Digenggam tangan dingin Mirza. Juan menangis lirih.
Mereka berdua masih komunikasi semalam. Mirza bahkan menyampaikan perasaannya. Siang ini, dia pergi untuk selamanya.
Juan merangkak meminta maaf kepada Mira sebagai orang yang sangat dikhianati. "Maafin kita semua. Maaf gak kasih tau kondisi Mirza dari awal."
Haryo menutup wajah Mirza dengan kain putih lagi sambil mendoakan ruhnya.
Mira mencengkeram kedua lengan Juan dan mengguncang tubuhnya. "Gue harus gimana sekarang?! Hah?!"
"Kami akan memindahkan jenazah sebelum dipulangkan- " Perkataan dokter terputus lagi.
"Mari, dok. Saya walinya." Haryo meminta dokter keluar bersama meninggalkan mereka mengurus segala administrasi.
"Baik."
**
Di Jakarta, mereka sama kalutnya mendengar berita kematian Mirza.
Di rumah Dewi, ada Surya yang lagi main. Mereka berdua meminta alamat di mana Mira berada agar bisa berangkat sekarang.
__ADS_1
Rumah kakek yang ditinggali Jefri, Awan, Ratih, dan Hana mendadak sunyi diberi kabar Pras.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
Jefri menyuruh mereka bersiap berangkat hari itu juga. Setelah menyambar kontak mobil dan keluar kamar Jefri menyadari Awan bengong.
Awan duduk termenung di ruang tamu.
Jefri menarik kerah belakang bajunya. "Lo gak mau berangkat?" Intonasinya meninggi.
Seolah sadar dari lamunan, Awan berdiri memakai sweater lalu mengikuti Jefri sampai masuk mobil.
Memasukkan kunci ke lubang sampai gelisah tidak kunjung masuk. Jefri menjatuhkan kunci.
Awan bantu dia meraba bawah kursi. "Ini."
Ratih dan Hana menyusul apa adanya. Mereka tak sempat bawa banyak barang. Mobil tancap gas.
"Jangan buru-buru, Jef. Istigfar, kamu lagi nyetir sekarang." Ratih memberi amanat.
Jefri berpikir banyak hal. Dari semua itu, ia khawatir kondisi Mira sekarang.
Betapa gelisahnya Awan tanpa sadar menyakiti ujung tangan sampai lecet.
Hampir dua jam setengah mereka tiba di RSUD.
"Jefri, kamu- " Belum sempat Ratih selesai bicara, Jefri turun dari mobil.
Pria itu bahkan meninggalkan kunci masih mencantol. Hana menyuruh mereka memaklumi tindakan Jefri.
Awan mencabut kunci dan keluar menunggu dua ibu masuk berbarengan.
Jefri berlari ke kamar jenazah. Om Pras bilang mereka masih menunggu Om Haryo mengurus berkas dan lain-lain di sana.
Tak bisa dibayangkan penyesalan akibat menunda waktu demi menunggu waktu yang tepat. Ajal sudah menjemput maka tidak bisa melakukan apa pun lagi.
Di kepala Jefri saat berlari menemui Mirza ialah kesalahan yang pernah ia lakukan. Pria malang itu takkan pernah maju, dia terus mundur mengalah.
Tatapan bingung banyak orang di lobi tak Jefri hiraukan asal cepat sampai sana.
Duka terus berulang tanpa jeda. Kaki Jefri melangkah perlahan melihat tatapan kosong Mira yang bersandar di dada Om Pras.
Dibanding Jefri, jelas Mira lebih terluka.
__ADS_1
Apakah Jefri masih pantas duduk menawarkan bahunya untuk seorang yang dia bohongi?