
Rasanya tanpa jeda mendapat teror dari para hantu bagi mereka.
Gara-gara lihat penari berselendang merah Surya tidak kumpul biasanya di kantin. Malas dekat-dekat Jefri.
"Lo apain si Suryo sampe gak mau ke kantin bareng?" Dewi penasaran sebab pacarnya tidak beri alasan.
"Gak gue apa-apain," bela Jefri.
Dewi bertanya ke Zafran dan Irlan. "Lo berdua ngerasain perbedaan gak sejak kenal Jefri sama Mira?"
Coba Zafran pikir terlebih dahulu. "Ada. Gue gak begitu takut karena Mira lebih penakut."
Mira mengakui.
"Gue lebih ke menolak, Dew. Ngeri kalau gue pikirannya ke setan terus," jawab Irlan.
"Sejauh ini diliatin penampakan-penampakan gak?" tanya Jefri.
"Jangan dong ... Mental gue cukup dibanting ngurus dua manusia hobi kesurupan. Liat penampakan beneran gila nanti," tolak Irlan.
"Parah emang, Jepri." Zafran menggeleng. "Seremnya penampakan di rumah lebih serem di sekolah. Emang gue bau dupa atau apa sih?"
"Lo pake parfum menyan kali," timpal Dewi.
Zafran mendelik. "Sembarangan. Parfum gue wangi vanila gini."
Tadi pas papasan Mira kira di belakang Surya murid biasa. Sepertinya bukan deh. Kadang Mira tidak bisa membedakan manusia dengan hantu dalam keramaian.
"Lo isengin Surya ya, Jef? Gue liat dia diikutin cewek."
"Serius ih. " Dewi bergidik merinding.
"Gue mulu. Gak ada niat iseng bawa-bawa hantu segala. Kurang kerjaan banget."
Jefri sengaja tidak mengaku awalnya iseng. Keisengannya justru memikat penari itu berdekatan dengan Surya.
__ADS_1
"Ah bahaya deket sama Jefri, iseng banget." Irlan mending pergi ketimbang jadi korban kedua.
"Surya yang diliatin. Gue yang gak sengaja liat." Jefri menatap Dewi. "Tanya gih kalau gak percaya."
"Gue tanya gimana, anjir. Orangnya di lapangan masa gue ke sana nanya liat setan apa bukan."
"Tanya yang ngikutin Surya yang pertama liat dia siapa," lanjut Jefri.
Zafran melotot usai bayangan asap di belakang Jefri mulai membentuk sosok.
"Muka lo kenapa, Jap?" Irlan nengok ke Jefri bingung.
Zafran mengunyah bakso dan menelan tanpa beban. "Cakep, Jep."
Mira yang tadinya duduk sebelah Jefri pindah tempat ke samping Zafran yang berseberangan.
"Cakep, Mir." Zafran langsung melek lihat yang bening-bening.
Mira bahkan membelakangi mereka. "Bukan orang, Zaf." Dia memegangi seragam Zafran.
"Yah, berubah dia, Jep." Zafran menarik ujung lengan seragamnya untuk menutup setengah muka.
Dari berwajah cantik berkilau berubah gosong matanya bolong.
"Cakepan lo, Dew." Zafran berubah pendapat.
Mira mencubit perut Zafran. "Bukan orang pasti berubah."
"Cantikmu palsu, Mba. Sori kita gak selevel," ujar Zafran.
Dewi bilang, "Jangan ngintilin pacar gue ya. Ini ada tiga bujang jomblo, bisa nih dipilih."
"Gue backstreet." Irlan mendadak ngaku.
"Gue gak butuh dipromosi," sahut Zafran.
__ADS_1
"Jangan Jefri," cetus Mira.
Jefri tertawa menyaksikan mereka saling lempar. "Gih pilih, Mba. Yang tajir Zafran, paling ganteng Irlan."
Hantu penari yang diguyoni mereka langsung menghilang bak asap.
"Gila lo berdua numbalin temen sendiri." Zafran benahi seragam barangkali lecek.
"Asik juga ya."
"Dewi, ketularan sableng lo." Irlan usap dada mencoba sabar menghadapi sifat kurang ajar sobat-sobatnya.
"Langsung ilang pas ditawarin mau sama siapa." Dalam hati Zafran bersyukur. "Udah ilang, Mir. Nemplok mulu kerjaan lo."
Mira kembali ke samping Jefri. "Pikiran lo yang cowok-cowok jangan cewek mulu makanya. Tuh contoh si Surya ngeliatin cewek nari malah yang dateng bukan cewek biasa, jadi-jadian."
"Cowok ya di otaknya tertarik sama cewek, Mira. Kalau gue mikirin sesama jenis, homo dong."
"Matanya Surya aja yang jelalatan, kesenengan liat cewek pada nari di gedung sebelah."
Irlan kena semprot Dewi. "Pada gibahin Surya ada ceweknya di sini."
"Pada buruan makannya. Lelet amat," omel Jefri.
Zafran menyalahkan biang keroknya. "Lo yang bikin kita gak abis-abis makan bakso, anjir."
"Ini hari pertama jam tambahan, ya? Kok gue deg-degan gini sih?" Irlan mulai resah.
"Berpikir positif, bro. Lo jangan penakut, nambah tiga dong. Cukup Mira sama gue jadi beban kalian, lo jangan... " ujar Zafran.
"Ngaca dulu kek kalau ngomong. Sebelum nyuruh gue jangan takut lo harusnya begitu."
"Gak ada yang bener temen gue. Kacau."
Dewi mana tahu di sini memperoleh teman dengan sifat aneh.
__ADS_1