
Mira melahap nasi goreng dua porsi tanpa malu di depan Mirza.
Selapar-laparnya Mirza, bukan dia yang habis lebih dari satu porsi.
Meski begitu Mirza senang nafsu makan Mira tidak terganggu.
Setelah makan Mirza bayar ke pedagang sejumlah lima puluh ribu satu rupiah tadinya ingin mampir ke rumah Mira.
"Jadi main ke rumah? Besok kan lo sekolah."
Bisa saja dia main sebentar. Tapi sampai jam berapa. Berangkat naik motor malam-malam bukan ide bagus. Terlebih daerah menuju rumah Mirza banyak lampu jalan yang rusak dan berkelok-kelok.
"Besok jadwal gue kontrol."
"Cuti mandiri?" Mira sebut begitu.
"Pak. Pesen nasgor pedes semua dua bungkus!"
"Oke, mas!"
Mira geser ke dekat Mirza lantaran dilihat dari dekat oleh pria yang tidak dia ketahui.
"Bukan salah orang ternyata."
Mirza tidak selalu ingat wajah orang yang dikenal apalagi berpapasan di jalan.
Pria di hadapan mereka tampak mengenal Mira dan tak asing pula bagi Mirza.
"Iptu Ridwan." Dia memperkenalkan diri.
Dari nama pasaran yang sering terdengar itu otak Mirza bekerja keras mengingat.
"... ?" Mira menengok minta diperjelas.
"Polisi waktu itu."
Mira agak mendongak bertanya, "Lo kenal?"
Mirza belum berkedip dari menyebut profesi lelaki itu hingga berlangsung lima detik.
"Inget juga," gumam Ridwan.
Iptu Ridwan, Kepala Unit Reserse Kriminal yang awalnya menangani kasus Johan setelah itu kasus Hadi dan Indri turut dikerjakan timnya.
Apakah dia mau membongkar semua di sini?
"Kalian belum pulang? Udah hampir kemalaman buat anak sekolah."
"Kita langsung pulang selesai makan," jawab Mirza berlaku sopan selagi menyelidiki sedang apa Ridwan menyapa mereka saat ketiga kasus sudah ditutup sebagai kasus bunuh diri.
"Begitu."
Lagipula Ridwan tidak menuduh mereka macam-macam. Dia bukan polisi yang mengintimidasi masyarakat terlebih remaja labil.
Setidaknya Iptu Ridwan dekat dengan Jefri. Setiap ada kasus sesuatu di sekolah pasti dia saksi utama.
Kalau dengan Mirza baru bertemu dua kali. Pas di rumah sakit untuk wawancara pasca operasi dan hari ini.
Ridwan penasaran. Rantai macam apa yang mengitari mereka dan bagaimana bentuknya.
Mirza sadar betul sorot pandangan Ridwan selalu ke Mira. Dalam hatinya yang terganggu berkata, dia mata keranjang atau memang menyelidiki sesuatu.
"Kabar Jefri sehat?"
"Se- sehat."
__ADS_1
"Kita semua sehat. Berkat tim bapak menyelesaikan kasus dengan baik," imbuh Mirza.
Iptu Ridwan tersenyum membalas jawaban terhormat darinya. "Apa kegiatan kamu sekarang?"
"Masih sama," singkat Mirza. Dia ingin cepat pergi sebelum arah pembicaraan tak terduga.
"Sayang banget gak bisa ikut olimpiade renang. Padahal gak lama lagi. Tapi gak apa-apa, rehab kamu berjalan lancar? Perut kamu sembuh total?"
Mirza mundur lantaran Iptu Ridwan mendadak mau menyingkap jaketnya untuk melihat kondisi perut pasca luka tusuk di perut.
Rupanya polisi itu sudah gila dan berusaha membeberkan kejadian sesungguhnya.
"Bisa-bisanya bawa polisi." Seingat Mira, mereka belum cerita apa pun setelah dia sadar di rumah sakit.
"Kejadiannya. Gi- gini.. "
"Omong-omong perut lo kenapa? Jefri bilang gue kerasukan terus gak sengaja dorong lo di tangga sekolah. Bukan itu alasan kita berdua di rumah sakit?"
Ridwan baru dengar orang mengaku kerasukan masuk ICU dan jatuh dari tangga bisa dioperasi perut.
"Mereka cerita begitu?" Ridwan menyayangkan pengakuan mereka tidak valid.
"Jefri gak mungkin kasih laporan palsu. Haha. Kerasukan ... Mana ada polisi yang percaya setan. Penjara penuh kali tiap ada pembunuh ngaku dibisikin setan," dustanya memasukkan humor.
"Terus.. ?"
"Masa gue cerita lagi."
Masalahnya adalah Jefri yang lebih pantas mengarang cerita sama secara berulang bagaikan sejarah.
"Juan pernah gak bangun sehari karena hilang di sungai. Kita juga punya efek samping."
Mirza berbicara pelan dan itu mencurigakan bagi Ridwan.
"Perut gue cedera berat guling-guling di tangga."
Bisa dimengerti. Mira langsung percaya.
"Jefri gak harus datengin polisi buat selesaiin masalah," lirih Mira khawatir.
"Polisi ada karena Pak Adit yang lapor."
"Benar. Wali kelas kalian yang pertama melaporkan." Ridwan turut berbohong perihal alasan utama mereka dibawa ke rumah sakit. "Kerasukan benar-benar ada?"
Mirza tidak tahu lagi mau bicara sepanjang dan selebar apa dengan orang yang membutuhkan bukti fisik setelah kesaksian setiap menangani kasus.
Mira enggan memberitahu.
Mirza turut mendukungnya. "Kita udah kerja sama sebagai saksi di rumah sakit. Gak wajib jawab lagi."
"Ayo pulang," ajak Mira tidak betah.
"Kita berdua pamit. Permisi."
Ridwan melepaskan mereka. "Ya. Gak perlu ngebut. Utamakan keselamatan."
"Ini, Mas." Penjual memberi pesanan yang sudah jadi.
Ridwan menerima tak lupa bayar totalnya. Setelah masuk mobil dia bergumam, "Memang ada sesuatu yang harus dicari dari mereka."
**
Tiba di rumah Mira baru mengeluarkan unek-unek.
"Nanya kerasukan beneran ada, suruh coba sendiri aja tadi!"
__ADS_1
"Gak usah dipikirin. Dia gak tau apa-apa." Mirza merangkul Mira supaya tidak mengoceh lagi. "Gue nginep semalam tidur di kamar siapa?"
Gadis itu tersenyum smirk. "Ruang tamu lah." Berharap apa dia menginap di rumah yang dihuni banyak orang.
Baru saja Mirza menaruh tasnya di dekat sofa. Mira bergegas masuk kamar Jefri dan obrolan mereka terdengar sampai luar.
"Abis mejeng ke mana?"
Jefri masih beres-beres kamar. Rutinitas sebelum tidur yang jarang dilakukan pria.
"Gue ketemu polisi."
"Di mana?"
"Pinggir jalan."
"Kena tilang?"
"Nggak. Mirza punya SIM sama STNK."
"Nabrak portal komplek?"
"Bukan."
"Terus?"
"Iptu Ridwan, yang nangani kasus kita."
"Apa?"
Jefri melongok ke luar. Dia dan Mirza saling kode pura-pura cukup tahu saja.
"Lo gak kasih tau gue waktu itu gimana ceritanya bisa kerasukan, masuk rumah sakit, dan polisi turun tangan."
"Pak Adit khawatir Mirza bunuh diri. Lagian timnya Pak Ridwan langganan sekolah. Udah selesai."
"Mirza bunuh diri?" Demi apa pun dia mau ketawa kencang.
"Bisa aja."
"Dia ada yang jaga bisa kalah?"
"Mungkin."
"Sejauh ini belum ada yang bisa ngendaliin kalian." Bahkan selama hidup seatap Mira belum pernah lihat Jefri kerasukan.
"Siapa tau nanti."
"Siapa yang nolong?"
"Ya lo lah." Jefri menggeleng heran. Sudah ditolong, diminta tolong balik tidak mau.
"Gue mana bisa. Liat gue sekarang kayak apa. Kejadiannya gimana gak inget sedikit pun."
"Seenggaknya lo sekarang lebih kuat. Gue denger lo ngelawan setan yang ganggu Dewi di lab bahasa inggris."
"I- itu karena gak serem. Kalau serem gue pasti langsung telepon lo."
"Tidur. Si Mirza juga mau istirahat abis perjalanan jauh."
"Lo gak berniat bagi ranjang? Kasian tidur di sofa."
"Gak ada bagi ranjang. Tidurnya Mirza kayak orang kesurupan."
Ya sudah apa boleh buat.
__ADS_1