Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bubar


__ADS_3

"Kenapa kalian belum pulang?!" Pak Adit berteriak menggelegar satu ruangan begitu mendapat laporan anak didiknya masih di dalam sekolah.


Guru itu melihat meja dan kursi tidak tertata, lilin di sekeliling, dan anak-anak terduduk di lantai dengan mata sembap.


"Siapa yang lapor?" Dewi celingak-celinguk.


"Nilai kita bisa dikurangin," lirih Surya berpasrah.


Selagi memindai keadaan matanya terkunci pada seorang gadis yang tergeletak di antara ketua kelas dan Awan.


Jefri melepas dasinya lalu pergi tanpa memedulikan Mira dan lainnya.


Pak Adit bertanya ketika menghampiri mereka, "Mira, bangun. Irlan, dia pingsan kenapa?"


Keringat membasahi rambut Irlan. Dia sangat gugup sejak awal hingga akhir. Rasanya masih tidak percaya meskipun telah melewati.


"Kinan, ayo pulang ... Gue gak mau di sini!" Ratna menarik-narik seragam Kinanti.


"Bawa tas Lia." Kinanti berhasil membangunkan Lia.


Untuk sementara Lia tampak linglung, namun baik-baik saja.


Ratna menyambar tas mereka dan memikulnya di punggung, perut, dan tangan.


Kinanti membantu Lia berdiri. Mereka pulang duluan tanpa berpamitan.


Ratna berhenti di depan Dewi. "Gue gak akan lupain perbuatan kalian. Kalian menjebak kita semua!"


Kinanti menyuruh Lia tunggu di bangku panjang depan kelas usai mendengar Ratna mengacaukan Dewi.


"Pulang sekarang." Kinanti menarik paksa Ratna.


"Dia bukan temen kita!" Ratna masih mengatakan omong kosong sambil melangkah ke luar.


Dewi menggigit bibir bawah. Apa dia tahu Jefri memperlihatkan mereka semua? Tidak kan.


"Lo mau pamer doang ngapain ikut kumpul!" balas Surya emosi. Dia hampir bangun jika Dewi tidak menahan tangannya.


"Biarin."


"Sialan, mana Jefri? Kabur?" cetus Gilang di pojok sana. Dia sangat kacau dari yang lain. Tatapan matanya berbeda.


Sebagai tambahan, Awan tidak menyukai teman sekelas Mira dan Jefri.


"Jefri pergi karena merasa bersalah. Dia bukan kabur."


"Bukan kabur terus keluar sendiri? Cuma Gilang sama Lia yang mau liat setan. Kenapa kita semua bisa liat juga?!" Pian terbawa emosi. Pulang nanti dia mungkin maraton sampai rumah karena parno diikuti setan.


Gilang menarik kerah Pian. "Lo nyalahin gue, anjing?!"

__ADS_1


"Apa?!" Pak Adit kaget bukan main setelah menyimak pertengkaran mereka. "Lepasin Pian, Gilang!"


Gilang menghempaskan Pian. Dia menjambak rambutnya lalu mengerang kencang. Meja pun kena tendang kakinya.


"Permintaan itu gak seharusnya muncul di pikiran lo, Gilang." Dewi berpihak tetap pada sahabatnya. "Jefri gak bisa nolak karena lo pasti bakal terus ngomongin kejelekannya. Jefri terima pun masih berat karena tau konsekuensinya."


"Bangsat, jadi lo tau Jefri bakal buka mata batin semua orang?" Gilang menyalang marah.


"Lo gak bakal paham perasaan mereka, bangsat. Tutup mulut lo, balik sekarang sebelum jalanan sepi. Anjing, gak usah banyak omong. Cuma Jefri yang bisa buka mata batin, yang lain gak tau apa-apa."


Nuri menampar pipinya sendiri agar sadar. "Astut, pulang aja yuk ..." Nada suaranya bergetar.


"A-ayo." Astuti baru ingat kelasnya bukan di sini. "Pian! Temenin gue ke kelas ambil tas!"


"Ah goblok, nyusahin orang doang lo!" Pian terpaksa bangun.


Mereka sudah bangun, tetapi tidak ada yang berani keluar kelas.


"Lo duluan jalan di depan!" Perintah Astuti.


"Bangsat, cewek duluan!" Pian frustasi meladeni dua beban kelas.


"Kita berdua takut!" teriak Nuri.


"Lo cowok harus gentleman!" teriak Astuti.


Pian mengatur napas. "Hah! Buruan!"


"Bego! Tungguin kita!"


"Gue takut dimakan, goblok!" Alhasil Pian teriak-teriak di lorong sampai masuk kelas dan lanjut turun melompati tiap dua tangga mempersingkat waktu. "Banyak juga setan di sekolah. Pantes gue tiap hari ngantuk. Bangsat."


"Pian! Pian!"


"Lo lari kayak nenek-nenek, anjrit!" Pian tunggu di lantai dasar. "Lemot!"


Irlan khawatir Mira tak kunjung bangun. "Bawa ke UKS, Pak?"


"Setuju! Dewi juga keseleo, Pak!" sambar Surya.


"Kamu bisa bawa Mira?" tanya Pak Adit.


"Bisa, Pak." Irlan meminta tolong Awan menempatkan Mira ke punggungnya. "Gue ke UKS. Lo samperin Jefri."


Awan mengerti. "Jagain Mira sebentar, Lan."


Irlan berdiri pelan-pelan. "Tenang aja."


"Naik ke punggung gue, Dew!" Surya sigap jongkok di hadapannya.

__ADS_1


Dewi menyentuh baju bagian belakang Surya. Bajunya basah pasti berkeringat banyak.


"Pak Adit, tolong bantu saya bangun."


Pak Adit menghampiri Dewi mau menerima uluran tangannya.


"Lah, ada gue kenapa Pak Adit?"


"Baju lo basah kuyup gitu mau gendong gue? Jagain gue dari belakang aja!"


"Gue khawatir setengah mati."


"Lo gak sekarat, Surya."


Pak Adit memapah Dewi. Surya mengiringi di sisi lain.


"Besok kalian saya panggil. Jangan ada yang gak masuk," terang Pak Adit butuh penjelasan.


"Sepenuhnya bukan salah Jefri. Gilang sama Lia yang minta. Mereka juga penasaran," bela Dewi.


"Tapi, Dew. Kita berdua gak harus diikutsertakan."


"Mungkin ada ketentuan. Kita gak bisa simpulin sendiri. Jangan ganggu Jefri hari ini sampai dia jelasin ke kita."


"Gue ngambek." Surya menundukkan kepala murung. "Anjir, di sini ada setan juga gak? Bangsat, gue jadi ngeri di mana-mana. Gelap lagi. Pak, lampu tambahin kek!"


Pak Adit memukul kepala anak nakal itu. "Anjir? Bangsat? Saya masih guru kamu berani bicara begitu?"


"Hehe, maaf. Meluncur langsung tanpa filter."


"Gantian sama Irlan deh, Sur. Kasian turun dua lantai gendong Mira."


"Digendong gue ogah. Malah nyuruh gendong cewek lain!"


"Buruan! Kasian Irlan."


"Lebih kasian gue ditolak."


Surya mendekati Irlan di ujung tangga. "Ketua kelas, capek gak?"


"Nggak."


Tuh kan. "Ya kalau lo gak keberatan gue bersedia gantian. Masih satu lantai lagi."


"Gue masih kuat. Nanti gue yang minta tolong kalau lumayan capek."


Semua kembali ke tempat berikutnya. Awan menemukan Jefri di atap atas petunjuk dari Fani. Dari pintu, dia melihat Jefri bersama Sanjaya bicara empat mata.


Jefri selalu menghindari Sanjaya. Namun sebaliknya, Sanjaya selalu muncul kapan pun tanpa motif jelas.

__ADS_1


Hubungan macam apa yang dimiliki keduanya?


__ADS_2