
Semalam mimpi yang datang sangat membingungkan.
Mengapa dia ada di sana?
Maksudnya si Fani.
Mereka bercakap-cakap berlawanan dari diri sendiri tetapi anehnya mengalir.
Mira rasa dia tidak sesabar Mira yang ada di mimpinya. Mira tak paham mereka membicarakan objek apa sampai berkaca-kaca.
Apakah anak kecil itu berusaha memberitahu sesuatu atau bunga tidur saja?
"Gak ada yang lo sembunyiin dari gue?"
Fani meletakkan balok susun terakhir menjadi istana buatan.
Manusia itu sudah bertanya sebanyak tiga kali dalam satu jam. "Kamu tidak tuli."
Yakinlah, Fani berani meresleting mulutnya sebab diancam para manusia minus akhlak.
Sejujurnya, Fani tidak tega menyaksikan Mira, sahabatnya, terus berpikir tanpa arah tiada akhir.
"Aku merasa buruk tentang ini," lirihnya memalingkan wajah.
"Lo gak mimpi sesuatu?"
"Apa?" Muka Fani sedatar jalan tol.
"Sesuatu yang... "
"Aku tidak bisa bermimpi. Akh!"
"Biasa aja dong."
"Pertanyaanmu tidak berbobot. Aku kesal."
"Hhh, gue terlalu serius nanggepin mimpi kah? Tapi kayak deja vu. Akhh!"
Tingkat penasaran Fani melebihi ilmuwan sains. "Memang kamu mimpi apa?"
Kenapa pula dia ada di mimpi Mira. Selain tidak ada tujuan, masuk mimpi seorang sepertinya berakibat mengemas barang menunggu diusir Jefri dan kawan-kawan.
"Kita ada di padang rumput. Ngobrol sesuatu."
Fani maju mendengarkan ceritanya.
"Lalu?"
"Gue nanya sampai kapan ini berlangsung. Terus lo jawab nunggu waktu yang tepat."
**
"Kamu mengunci ingatanmu sendiri. Jangan salahkan siapa pun saat kamu ingat kembali."
__ADS_1
Kala di mimpi Mira mengetahui apa objek yang mereka bicarakan. Anehnya setelah bangun tidur dia tak ingat apa-apa.
"Kamu harus bantu aku, Fan."
Sambil gelagapan Fani menjawab, "Aku tidak punya wewenang untuk itu. Kamu tanya ke yang lain."
Setelah mati anak itu ingin hidup damai tetapi justru kena perangkap lika-liku kehidupan mereka.
"Kalau aku sedikit lebih awal datang. Gak akan ada yang meninggal," sesal Mira. "Sampai kapan kita terus begini?"
"Kamu selalu bilang Tuhan memberi takdir yang baik setiap akhir manusia. Kamu cuma perlu menunggu waktu yang tepat. Yang terjadi padanya bukan salah siapa-siapa. Sudahlah, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Jika nanti tiba-tiba ingat aku takut kamu berbuat di luar kendali."
Fani menarik napas lalu melanjutkan ucapannya yang terjeda tadi. "Ikhlaskan. Jalani hidupmu seperti air mengalir."
**
Selesai. Itu saja percakapan mereka semalam.
"Tumben lo banyak kasih kalimat bijak."
Fani mana tahu dia dibayangkan oleh Mira sebagai sosok bijak. Selain tidak bisa membedakan manusia dengan hantu, dia tidak bisa membedakan mimpi dengan delusi.
Fani sama sekali tak peduli ending-nya bagaimana usai ingatan Mira kembali.
Syukur-syukur dipertahankan. Kalau diusir maka dia pergi.
Benar Jefri memilih menunggu.
"Teman-temanmu gembira main bola di sana. Kenapa tidak bergabung?"
"Gue pura-pura sakit."
Fani mendecih. "Sakit betulan tau rasa."
Materi sepak bola tidak menarik baginya. Mereka bukan main sepak bola, tapi rebutan bola.
"Jefri agak aneh.. "
"Ada apa?"
"Gak biasanya dia setuju lapor polisi. Mirza cuma jatuh dari tangga, bukan dari atas genteng."
"Heh? Hei, bagimu yang tidak merasakan mana tahu sakitnya. Jatuh tersandung bola juga sakit tau!"
Mira bangun menepuk bokongnya menghilangkan debu. "Bodo amat. Gue mau beli es gula batu."
"Semua es batu yang kamu minum membeku di kepalamu sampai ada ingatan yang terkunci," celetuk Fani.
"Siniin bolanya!"
"Ogah!"
"Ambil sendiri!"
__ADS_1
Dewi mau merebut bola dari Alin.
Alin kemudian memeluk bola menggunakan tangan supaya tidak bisa direbut yang lain.
"Mana ada sepak bola pake tangan, goblok!" Dewi menghardik sekaligus tertawa.
Dengan tangan ajaibnya Dewi menepuk bola pakai tenaga dalam hingga terlepas dari Alin.
"Curang!"
Dewi berhasil membawa bola ke gawang lawan, tapi lagi-lagi Alin mengambilnya.
"Yahhh!" Fani geregetan sampai mau turun ke lapangan menendang bola sendiri.
Kalau mereka kabur ketakutan ada bola melayang sendiri gimana?
"Gak seru, kan? Mereka gak tau peraturan. Beda sama yang cowok."
Lapangan yang dibagi dua dengan garis putih jadi batasan.
Tim laki-laki adem ayem tidak ada keributan selain cetak gol dan peluit wasit.
Tim perempuan hebohnya melebihi ayam betina bertelur.
"Haruskah aku main juga?" batin Fani bergejolak.
"Sst! Jangan!" cegah Mira.
"Mereka sudah tahu kamu biasa mengobrol denganku," sahutnya melawan.
"Ya tapi jangan main bola lah! Kalau mereka takut gimana!"
"Urusan mereka."
Dewi membelalak Alin menendang bola ke arah yang salah.
"Woi, Mira! Awas ada bola di belak- "
Saat sedang menegurnya, Dewi menutup mata sebelah ketika suara bola menabrak kepala Mira.
Dug!
Gadis itu jatuh ke depan memegang kepala belakangnya terasa kesemutan usai kena bola.
"Kamu gak apa-apa? Tidak pecah, kan?" Fani menyamakan kepala manusia dengan telur.
Dewi mendorong bahu Alin. "Tanggung jawab lo!"
"Gak sengaja.. "
Di saat-saat tangisan lirihnya menahan malu jatuh di depan umum sekaligus rasa sakit, ingatan-ingatan yang semula kabur menjadi sangat jelas.
"Indri ... Udah meninggal."
__ADS_1