
Gabut tidak ada kegiatan Mira jalan-jalan keliling gedung sekolah.
Jefri memperingatinya tidak berkeliaran seorang diri tetapi gadis itu bersikeras.
Gedung ekstrakurikuler, sebut saja Gedung B. Dia jinjit melihat dari jendela ada siswi latihan tari tradisional.
Bunyi gamelan dan alunan nada jawa punya getaran khusus di telinganya. Entah alasan spesifiknya apa. Mungkin musik yang biasa didengar genre pop jadi langsung merinding dengar lagu jawa.
Puk!
Pundak Mira terjengat ditepuk dari belakang.
"Pak Adit."
"Ngapain?"
Sesempat mungkin Mira amati sekitar. Di depan ruang ini pernah terlihat penari berselendang merah yang naksir Surya. Beberapa pekan lalu Pak Adit ditiru hantu mengajar kelas.
Pak Adit tersenyum sadar akan muridnya yang was-was.
Wali kelas 11B ikut melihat dengan tegap anak didik sedang menari gemulai diiringi senandung lagu yang menghipnotis penonton.
"namung masalah wekdal sedaya ajeng terjawab. Ayahan panjenengan wonten kalih. tengga wekdalipun dugi lan pados cara nginggilinipun."
Gadis di sampingnya menoleh usai Pak Adit berbicara bahasa jawa.
"Artinya?"
"Ini semacam ulangan buat kamu. Ada banyak cara mencari jawabannya," jawab Pak Adit.
Alih-alih ingin tahu arti kalimat. Mira betah lama-lama memandang gurunya.
Tangan Mira bertaut ke belakang. "Pak Adit masih sendiri?"
"Saya gak tinggal sendiri- "
"Bukan. Maksudnya masih single?"
Pria yang digilai para murid perempuan langsung tertawa setelah mendapat kedipan mata dari Mira.
"Saya tau kamu pasca dirawat. Gimana, kamu udah scan MRI?"
Kenapa jadi tanya MRI? Batinnya.
"Udah."
"Hasilnya?"
Mira mengangkat bahunya. "Kejadian traumatis menyebabkan memori jangka pendek hilang, kata dokter. Berhubung ada Pak Adit di sini saya mau tanya. Apa saya berperilaku aneh sebelum di-opname?"
Pak Adit tidak mengubah raut muka sekaligus dari bahagia ke sedih lantaran pasti terlihat jelas menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
Beliau mendeham cukup lama. "Nggak."
Dari dehaman itu Mira bisa tebak. "Bohong." Matanya menyipit selidik.
"Kamu sama sekali gak aneh, Mira."
"Meragukan."
"Jefri bilang apa?"
"Dia bilang saya kerasukan di sekolah, pingsan, dibawa ke rumah sakit."
"Percaya?"
"Setengah. Saya sering ngalami hal serupa tapi baru pertama kali sampai dibawa ke rumah sakit," gumam Mira sedikit curiga.
Jika betul dia kerasukan hingga pingsan, rumah sakit bukanlah tempat satu-satunya yang dituju.
"Kamu gak kayak biasanya ngeraguin Jefri," desis Pak Adit. "Pacar kamu, siapa namanya?" Pak Adit berlagak lupa. "Dia bilang sama?"
"Saya gak nanya."
"Lho?"
"Saya ini gak gampang percaya sama omongan laki-laki."
"Kamu liat Indri? Dia bilang mau bawain buku dari perpustakaan."
Bibir Pak Adit tersungging. "Indri udah meninggal."
"Mening- Apa? Meninggal?" ulangnya takut salah dengar.
Mereka saling diam menatap satu sama lain.
Mira sampai bisa merasakan desiran darah dalam tubuhnya. Detak jantungnya berpacu cepat.
"Bukannya tadi kamu bilang gak gampang percaya ucapan laki-laki?"
Mira ingat-ingat lagi pertemuannya dengan Indri memang janggal. Warna kulit gadis itu sangat pucat dan tiap kali bicara matanya tak kedip.
Mereka berpapasan di depan kantor guru. Mira menyapa tapi Indri hanya melewatinya tanpa menoleh.
*
Surya keluar dari ruang klub badminton. Dia meregangkan tangan ke atas sambil nguap nahan ngantuk selama rapat.
Sobat-sobatnya langsung balik ke kelas. Surya yang merasa telah pintar mengulur waktu belajar.
Lehernya menengok ke kanan dan kiri. Surya yakin melihat sesuatu barusan dan menoleh lagi.
Di koridor sebelah kanan dia lihat Mira seperti syok berhadapan dengan guru pria.
__ADS_1
Sebetulnya mereka tidak selalu akur. Surya berani maju gara-gara kekacauan terakhir kali mengusik pikirannya.
Tap. Tap. Tap.
"Ngapain di sini, Mir?" Patut Surya tanyakan. Mira tidak ikut ekstrakurikuler apa-apa.
Pak Adit dan Surya terlibat adu pandang sesaat.
Mira menyentuh kepalanya. Surya sudah panik.
"Apa, kenapa? Kepala lo sakit?"
Dia refleks pegang kepala sebagai reaksi bingung. "Gue ngobrol sama Pak Adit... "
"Terus?"
"Dia nyari Indri. Gue jawab tadi kita papasan di depan kantor ..."
"He'em. Terus gima- Hah! Lo papasan sama Indri?" Lelaki itu kaget.
Surya menaikkan suara kemudian memandang heran Pak Adit mempertanyakan apa dia membocorkan peristiwa itu.
"Kenapa lo kaget?" Mira menyudutkan Surya melalui lirikan tajamnya. "Lo tau Indri meninggal?"
"Pak Adit kasih tau semuanya ke Mira?" Mau gila rasanya. "Kita sepakat gak bilang dia!" Jujur kepala Surya langsung panas.
"Saya gak bilang apa-apa," bela Pak Adit.
"Sesungguhnya ucapan lelaki tidak bisa dipercaya. Kita sepakat, lho, Pak. Kok bisa bapak berkhianat selagi berduaan sama Mira di sini? Bapak tau kan kalau Mira masih dalam masa pemulihan? Seandainya terjadi sesuatu- "
Pak Adit segera menopang tubuh Mira yang limbung.
"Bapak yang tanggung jawab!" lanjut Surya.
"Kamu masih mau ngoceh apa bantu saya?"
"Saya menolak menolong pengkhianat!"
"Surya!"
Surya mengeluarkan ponselnya menghubungi dokter di klinik.
"Ibu standby di klinik?"
Dia menutup panggilan. "Ada Bu Rima di klinik, Pak."
Pak Adit mengangkat Mira dan membawanya ke klinik.
Surya masih setengah sadar terhadap kejadian barusan.
"Mampus gue ... Kalau Mira inget semuanya terus ngamuk-ngamuk gimana? Kasih tau Jefri sekarang apa nanti? Pak Adit ngapain ember sih! Argh! Apa gue pura-pura gila masuk rumah sakit jiwa biar gak kena dampaknya sementara waktu? Gak bisa. Jefri gak bisa dikibulin." Surya sibuk celoteh tidak penting.
__ADS_1
Ketika anak tari keluar Surya salah tingkah ditatap heran berdiri di depan. Dia putar balik pergi dari sana.