
Ratih baru mau beri Mira teh. Rupanya anak itu sudah pergi menuju rumah Juan.
Masuk rumah orang bukan permisi atau salam dulu, Mira sudah menggerutu gara-gara tadi adu jari tengah sama Ridwan.
Juan lagi berpikir di pinggir jendela langsung mengalihkan pandangan ke dua tamunya.
"Gak bosen tiap hari mikir?" Mira menyindir kegiatan Juan.
"Gue dapet kabar dari bokap. Ternyata lo di sini. Udah ketemu dia? Gimana kesan pertama lo?"
Juan menarik kursi untuk Mira duduk dan ia putuskan menemaninya semalaman mumpung besok mulai kerja jam delapan.
"Dia pasti mau menangis," tebak Fani melihat-lihat lukisan pemandangan di dinding.
Agak benar ucapan Fani. Sebetulnya tanpa diberitahu mereka paham bagaimana Mira. Kali ini berbeda, dia hanya diam dengan wajah kesal melihat ke arah lain.
Tangan Juan mendarat di bahunya. "Kita tetep saudara terlepas siapa pun bokap lo."
Puluhan tahun besar di lingkungan yang sama. Ikatan keluarga antara mereka terjalin sangat erat. Sulit dipisahkan hanya karena terbongkar ayah kandung Mira bukan adik atau kakak dari ayah mereka bertiga.
"Walaupun bokap lo bukan Om Alfian. Dia yang ngerawat lo dari bayi. Mereka sama-sama bokap lo."
"Itu yang bikin gue kesel. Dia baru muncul sekarang."
"Lo udah dewasa, Mira. Gue paham lo pasti gak nerima semudah itu, tapi selagi masih ada, pertahankan dulu. Mama bilang apa?"
"Mama mau ikut Rudi. Gue gak tau ikut atau gak. Rumah gue kan di sini sama di Bogor, masa tiba-tiba pindah ke rumah asing."
"Kapan?"
"Gak bilang."
Juan mau merespon Mira tiba-tiba mengumpat.
"Gara-gara Ridwan sialan! Dia manfaatin kasus di sekolah karena kakaknya ayah kandung gue. Mana kasus ditutup gitu aja. Bunuh diri? Gue yang mau bunuh mereka."
Fani meringkuk di tembok mendengar Mira mengancam. "Dia bahkan menunjukkan jari tengahnya kepada Ridwan di depan ayah barunya. Ckck."
Juan tertawa singkat. "Hm. Luapin amarah lo. Gue terima."
"Sekarang kepribadian kalian tertukar. Dasar manusia aneh," ucap Fani. Dulu Juan yang suka mengumpat, sekarang Mira.
__ADS_1
***
Butik tempat nongkrong mereka ramai. Semua berkumpul, kecuali Juan. Awan dan Surya mabar di sofa depan televisi, Jefri melihat jidat Mira menyentuh meja dan wajah lesu. Dewi lagi melayani pembeli di depan dibantu Irlan.
"Lo jadi apa aja lolos, Lan." Dewi tersenyum atas kerja keras Irlan. "Surya bisa ngelayani pembeli, tapi gak sehebat lo."
"Sama aja, Dew." Irlan tak ingin dibedakan dengan Surya. Takut salah paham.
Dewi lantas masuk ruang tunggu mempertanyakan kedatangan mereka tanpa kabar sehari sebelumnya.
"Ada berita apa lagi nih?"
Irlan menyambar air minum dekat dispenser kemudian duduk di pinggir Awan. Mereka nge-game lagi.
"Gue punya bokap baru, Dew."
"Ohhh." Dewi manggut-manggut. "Heh! Apa tadi! Bokap baru?"
Irlan menutup botol dan menaruhnya di meja. Dia senggol Awan yang tidak berekspresi. "Eh seriusan?"
Surya merelakan hero-nya kalah diserang Awan. "Emak lo mau nikah lagi?"
"Yes! Gue menang!!" Awan bersorak tapi gak heboh. Menyaksikan keterkejutan teman-teman Mira, dia hanya bilang, "Bukan nikah lagi. Kita semua baru tau bapak kandung Mira bukan Om Alfian."
"Biasanya orang sekitar," tebak Surya. "Siapa sih?"
Awan mendecak. "Abangnya Ridwan. Kapolres Jakbar, namanya Rudi."
"Apa, siapa?" Dewi tertawa hambar. "Yang bener lo?" Tangannya sampai menabok Mira.
"Gue sama kagetnya," ucap Mira dengan ekspresi datar.
Jefri mengangguk pelan. "Semuanya hampir beres. Gue minta dukung keputusannya gimana nanti. Keluarga gue juga lagi rundingan."
"Orang dalem lo banyak juga, Mir." Surya pikir mencalonkan diri sebagai anggota Polri tidaklah buruk. Ayah sahabatnya punya jabatan yang lumayan.
"Tapi lo baik-baik aja kan, Mira?"
"Dari semua respon, Irlan yang paling menyentuh." Mira berterima kasih mendapat perhatian darinya. "Gue gapapa. Santai aja."
"Jiwa kita udah mati semua. Buat apa gedein masalah," kata Dewi.
__ADS_1
Surya menatap Dewi dan Mira bergantian. "Omongan lo gak salah tapi gak bener juga. Intinya kita sebagai sahabat terdekat cuma bisa dukung keputusan lo, Mir."
"Jangan buat keputusan sekarang," larang Awan. "Lo masih keluarga kita walaupun pisah rumah nantinya. Langsung cerita kalau ada masalah."
"Lo khawatir ya," ucap Surya.
Bola mata semua langsung tertuju pada Awan. Anak itu yang termuda. Kelihatannya cuek, apalagi pas piknik. Namun mereka melihat hal tersirat. Hati yang Awan miliki lebih hangat dan mudah tersentuh.
"Gak ada yang bisa ngobatin kalau Mira kesurupan. Itu yang gue pikirin." Awan kembali memulai game.
Mira menggeleng tiga kali. "Ckck." Memang tak bisa diharapkan. Mengaku cemas saja gengsi.
"Pantesan lo gak sejago Jefri, Awan, sama Juan. Mereka level sepuluh. Lo sih masih lima aja. Mata batin lo bukan dari keluarga mereka, tapi dari yang namanya Rudi itu? Atau dari tante Hana?"
"Seharusnya adaptasi dua puluh tahun cukup ngembangin potensinya," ucap Jefri.
"Dia juga gak niat ngasah kemampuannya," sahut Awan. "Disuruh uji nyali di rumah sakit kosong gak berani."
"Gue yang gak bisa liat setan juga gak berani, Awan." Ngeri sekali cara mereka mempertajam mata batin. "Apalagi Mira yang bisa liat. Gila lo."
Mira senang Dewi memihaknya. "Emang gila dia."
Dewi ingat satu hal. "Besok kita ada janji, kan?"
"Kalian aja. Gue ada urusan lain," ucap Mira. "Jefri, Awan. Gue mau pulang."
Awan bangun. "Gue ikut!"
Jefri pamit. "Kayak biasa, atur jamnya."
Surya mengerti. "Udah dua tahun gak tau dia ke kuburan Mirza apa nggak."
"Jangan keras-keras. Orang belum siap mau gimana lagi," ujar Dewi.
"Dua tahun, lho. Dua tahun!" Surya tak habis pikir saja.
"Dua tahun belum cukup. Baru beberapa minggu kita diperlihatkan jasadnya lagi, mungkin waktu yang Mira butuhin lebih lama."
"Tau deh." Mereka tidak berani memaksa Mira ikut ke makam Mirza. Tiap diajak pasti menghindar. Alasan sakit, urusan penting, ada matkul lah. Pokoknya beda-beda tiap bulan.
"Tanpa sepengetahuan kita Mira sering ke rumahnya. Biarin kalau itu cara dia inget Mirza," imbuh Dewi bernada sendu.
__ADS_1
"Gue harap dia damai sama diri sendiri. Bukan salahnya."