
Satu pekan setelah Jefri, Mira, Dewi, Surya, Awan, Gilang, Lia, Ratna, Kinanti, Pian, Nuri, dan Astuti terlibat pembuktian hantu di kelas ... Keheningan melanda kelas 11B usai mendapat pesan grup dari Pak Adit, yang mengatakan bahwa salah satu dari teman mereka meninggal dunia.
"Serius Gilang meninggal?!"
Situasi semakin tidak terkendali begitu meja Mira dikerubungi oleh macam-macam pertanyaan di luar pemahamannya.
"Guys! Mira baru tau juga, jangan tanya dia." Dewi bersabar menghadapi kekanakan mereka.
"Mir, ada hubungannya sama uji nyali ya?"
"Penunggu sekolah marah mungkin diganggu kalian."
Ratna mengguncang lengan Kinanti. "Kalau Gilang meninggal, kita bakal meninggal juga?"
Kinanti mengerjap atas pertanyaan spontan Ratna. "Bukan Gilang doang. Kita semua bakal meninggal."
Lia di belakang mereka menunduk sendu ikut berduka atas kepergian Gilang.
"Gimana kalau gak lama lagi kita mati? Gue belum siap."
Ratna mudah panik. Dia sangat berpikir jauh hingga di luar nalar. Apa mereka siap seandainya meninggal sekarang? Jelas tidak lah. Jika sudah kehendak Tuhan mereka bisa apa.
"Kita belum tau penyebab Gilang meninggal. Lo berhenti overthinking sebelum gue geprek," ancam Lia.
"Gara-gara lo sok berani nantangin setan!" Ratna menyalahkan Lia.
"Lo ngapain ikutan mau liat? Penasaran juga, kan?" sahut Lia.
"Kalian stop berantem." Kinanti tidak bisa berbuat sesuatu untuk Mira sekarang. Dia bingung ke arah mana pikirannya berlabuh. Ingin menyangkal kematian Gilang akibat dari ulahnya, namun ini sangat mendadak.
Hari ini Gilang memang tidak berangkat. Kemarin Gilang masih bersenda gurau dengan yang lain. Dia tidak sakit atau terlihat menyimpan sesuatu. Sikapnya tetap sama.
"Kematian gak ada yang tau. Lo berdua denger berita orang meninggal langsung overthinking," imbuh Lia sebagai orang yang percaya bahwa kematian hanya Tuhan yang mengetahui.
Kinanti membenarkan keyakinan Lia.
"Jangan-jangan abis Gilang kita bertiga? Gak mau, gak mau!"
"Ratna!" Kinanti geram.
"Mampus!" tukas Lia.
__ADS_1
Irlan tidak bisa membiarkan mereka lebih lama mengerumuni Mira. Dia memegang pundak salah satu temannya kemudian menatap semua orang.
"Duduk," perintahnya ingin segera dipatuhi.
Mereka cukup segan dengan Irlan. Dia ketua kelas yang sejak awal jarang berbicara banyak, kecuali menjawab pertanyaan soal dari guru dan ditanya hal penting.
Dewi melihat Zafran yang tertidur nyenyak tanpa terganggu suara berisik.
"Bangun." Dewi membangunkan Zafran. "Enak banget lo tidur sedangkan kita nanggung semua pertanyaan. Bangun gak!" Saking gemasnya Dewi memukuli leher pria itu.
"Sakit! Apa sih!" Zafran menguap. "Gue abis diteror setan semalem gak bisa tidur!" Mau nangis rasanya. Mengumpat pun tidak mempan, Dewi lebih garang.
"Hidup lo selalu begitu," timpal Dewi tak heran. Katanya suka Mira. Mira dihujam pertanyaan sulit bukannya bantu malah enak tidur.
"Semalem beda, Dew. Jendela kamar gue diketok-ketok sampe subuh." Mungkin benar kata Dewi takdirnya dikejar hantu. Tetapi biasanya beberapa menit saja. Kemarin dua jam lebih kaca jendela diketuk dengan tempo sama.
"Terus?"
"Abis azan gue langsung solat gak tidur lagi."
"Ohhh." Dewi mengangguk remeh.
Dewi tersentak diteriaki Zafran. Kurang ajar banget.
Irlan bilang biarkan saja Zafran mau tidur. Dewi tak ada opsi lain.
"Gue gak ngerti Gilang mendadak meninggal," lirih Dewi.
"Dia ada riwayat penyakit?" tanya Irlan.
"Gak tau."
"Nanti gue ke rumah Gilang. Lo bertiga ikut gue. Yang lainnya bisa ikut kalau senggang."
Mira memegang tangan Irlan. "Gue harus liat Gilang."
"Hm."
Zafran membuka mata, menatap tangan Mira memegang Irlan duluan. Dia sambung tidur.
**
__ADS_1
Berada di kantin bukan mau makan, tapi mencari keramaian agar hati tak larut dalam sepi.
Itulah mereka.
"Ahh, gue ada perasaan gak enak." Tumben Surya tidak selera melihat mie ayam favoritnya.
"Kita semua harus ke rumahnya," ujar Jefri.
"Sanjaya gak keliatan hari ini. Dia ke mana?" Ada sesuatu yang perlu ditanyakan terkait Gilang.
Mendadak Mira bertanya Sanjaya. Awan mendongak dengan alis menyatu.
"Lo mau minta bantuan dia?"
Dewi tahu Awan kurang respect dengan Sanjaya. "Cukup." Lebih cepat dihentikan lebih baik. "Mira, jangan bahas Sanjaya sekarang. Mau dia ke mana bukan urusan kita."
"Gue cuma tanya," lirih Mira. "Sekitar dua hari lalu Gilang nanya sesuatu ke gue."
Mereka antusias mendengar cerita Mira. Apa yang Gilang tanyakan?
Zafran memicing curiga. "Bentar. Dia tanya tentang pemanggilan arwah, bukan?"
Dari mata Mira yang membelalak sudah pasti sama.
Rahang Dewi rasanya jatuh ke bawah. Setelah apa yang mereka alami di kelas, dia masih penasaran. Mungkinkah kepalanya terbentur menyebabkan kegilaan, batin Dewi.
Surya menutup mulut Dewi. "Mingkem. Banyak laler di sini."
Dewi geplak tangan Surya. "Diem lo!" Lagi serius malah bercanda.
Menyadari Jefri serta Awan menatap tajam, Mira dan Zafran segera menjawab.
"Gue gak bilang apa-apa. Sumpah." Zafran mana berani memberitahu Gilang. Dia bodoh perkara permainan pemanggilan hantu.
"Gue cuma kasih tau cara itu mungkin berhasil tapi beresiko tinggi. Gue salah ya?" Mira takut dimarahi.
Awan memalingkan wajah.
"Setidaknya lo udah bilang bahaya," bela Irlan.
"Kita bisa tau nanti."
__ADS_1