Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Mira adalah Jembatan Menuju Jefri


__ADS_3

"Papa kenal?" Juan sempat bertanya.


"Kamu... " Om Pras tidak melanjutkan kalimat berikutnya.


"Ya ... Ini aku... hihihihi!"


"Huaaa! Abanggg!" Kayla menangis dan meraung tidak karuan gara-gara takut. "Mamaaa mana, Pah? Mamaaa!"


Om Pras mengusap-usap punggung putri kecilnya. "Gapapa, ada Papa di sini."


Lutfi yang sudah besar ikut menangis mencengkeram erat badan Juan. "Allahu akbar, allahu akbar." Dia terus menyebut nama Allah.


"Diamm! Panass!" Mira menutup kedua telinganya mendengar mereka melantunkan ayat suci.


"Aku mau bawa Mira! Dia harus ikut aku! Hihihi!"


"Lu kira bisa bawa Mira?" tantang Juan berdiri ingin menampar hantu kurang ajar itu. "Lu dateng dari mana sih? Sendirian apa rombongan?"


"Jangan nantangin, Bang." Lutfi takut dia tambah murka.


Juan kalau sudah ngamuk perihal kesurupan begini tidak peduli siapa raga yang dirasuki.


"Ngapain ngancem mau bawa Mira dari kita, nakutin adek-adek gue segala. Pergi sendiri atau gue siksa?" cecarnya emosi.


Juan menyentuh ubun-ubun Mira. "Gak usah balik lagi."


Hantu itu terkikik picik. "Hihihi! Aku pasti datang lagi! Tunggu aku! Tungguu akuuu!"


"Dih, malah nantang balik." Juan mengeluarkan hantu itu dari tubuh Mira.


Mira merasakan energi kuat menarik tubuhnya dari tempat gelap dan begitu membuka matanya dia sudah ada di kamar.


Juan yang duduk di sisi kiri ranjang Mira dengan sinisnya berkata, "Lo tertipu, Mira.. "


"Lo bikin gue khawatir terus! Bisa gak sih-- "


Mira kaget ada suara Dewi dari sebelah kanannya.


"Untung gak kenapa-kenapa," sela Zafran ada di samping Dewi.


Awan berdiri sedekap dada dihadapan Prasetyo. "Siapa tadi? Papa kenal dia sejak kapan, ketemu di mana? Kok bisa kita semua gak bisa liat dia kecuali Mira, Lutfi, Kayla?"

__ADS_1


Prasetyo menatap kosong lantai kemudian menjawab, "Mungkin karena energi mereka lemah."


"Itu hantu jadi-jadian, Om?" Lutfi masih meringkuk di sofa.


Kayla diasuh Jefri dan Om Haryo di teras supaya tidak takut lagi.


"Papa."


Awan belum dengar keterangan dari ayahnya. "Mira hampir tembus ke dunia lain, Pah."


"Mira udah sadar belum?" Prasetyo menanyakan kondisi keponakannya yang dibawa masuk ke kamar Juan.


Pas sekali Juan ke luar dari kamarnya. "Jefri mana?" Tatapnya ke Lutfi.


"Di luar sama Papa, Bang."


Juan segera menghampiri Jefri dan tanpa banyak bicara tangannya langsung menarik kerah kemeja sampai Haryo terbelalak tindakan anaknya sangat kasar.


"Juan! Apa-apaan kamu?"


"Gak becus lu jaga Mira! Ngapain aja di sana sampe Mira begini, hah!"


Haryo terpaksa menurunkan Kayla dan menyuruh anak itu masuk menemui ayahnya.


"Istigfar kamu, Juan!" bentak Haryo memisahkan anaknya dari Jefri. "Kamu liat sendiri kita gak bisa liat sosoknya sebelum Mira dirasuki. Bukan salah Jefri!"


"Nggak, Pah. Kalau dia jaga Mira betul-betul gak akan begini jadinya! Mira dirasuki karena Jefri lalai jaga dia!" jawab Juan.


Dari dalam Awan dan Prasetyo mendengar keributan.


Awan mendesis, "Kenapa lagi mereka?" Belum habis kecemasan mereka ada masalah lain menerpa.


Menunggu ayahnya membicarakan sosok tadi menguji kesabaran Awan. Ditambah adiknya duduk di antara Prasetyo dan Lutfi.


"Bawa Jefri ke sini, Wan."


Awan melengang pergi ke teras dan biasa saja mendapati Juan berapi-api terhadap Jefri.


"Jef, dipanggil."


Awan bisa simpulkan Juan murka gara-gara ada jin jahat yang lolos dari jangkauan Jefri dari sana hingga Mira dirasuki dan sedikit lagi masuk ke dunia astral.

__ADS_1


Jefri diinterogasi Prasetyo di depan keluarganya sendiri. Disaksikan oleh Om Haryo, Hana, Ratih, Juan, dan Awan.


Kayla dan Lutfi dibawa masuk ke kamar Juan di mana ada teman-teman Mira yang bisa mengajak mereka main sebentar.


"Mira dibawa ke Jakarta lagi atau gimana, Pras? Aku takut makin gak karuan situasinya," ujar Hana.


Juan merasa rumah mereka menjadi wisata hantu. "Lu bawa siapa lagi sih?"


"Siapa maksudnya?" Ratih tidak mengerti, apalagi Hana.


Berbagai macam jin terus berdatangan ke rumah mereka tapi tidak bisa masuk karena dipagar doa.


"Itu urusan Jefri sama Om Pras nanti. Sekarang Om mau tanya ke kamu, Jefri. Sejak kapan Mira kerasukan?"


Prasetyo kasihan sebetulnya jika anak atau keponakannya mengalami kerasukan yang sampai keluar dari batas seharusnya.


Anak-anak yang dibekali kemampuan seperti mereka sebenarnya bisa menahan energi jahat masuk ke raga lantaran mengetahui jiwa mereka bisa dibawa tatkala lengah.


Hal yang dialami Mira baru pertama kali Prasetyo dengar dari mulut kakak iparnya dan hari ini melihat langsung bagaimana Mira hampir melayang hingga diancam dibawa ke dunia lain.


"Udah lama."


"Pras, Mira aneh semenjak pindah ke sekolah barunya. Iya kan, Mba?" Hana menepuk punggung tangan Ratih.


Jefri ingat betul Mira sudah aneh sebelum pindah sekolah. Bukan salah sekolah baru mereka meskipun memang sarang hantu.


Jefri tak bercanda, ini fakta.


"Jefri," panggil Pras.


"Ya, Om." Jefri menunduk, siap menjawab apabila penjelasannya dibutuhkan demi membantu Mira.


"Kamu tau sosok apa yang nempel ke Mira selama ini?"


"Cuma Mira yang bisa liat dan komunikasi sama dia."


"Tadi saat Mira kerasukan, Om liat apa yang dia incar."


"Apa, Pras?" Makin tak enak perasaan seorang ibu anaknya menjadi alat incaran.


"Kamu, Jef."

__ADS_1


__ADS_2