
"Huahh! Hahh!"
Mira memindai sekitar mencari keberadaan Jefri tatkala sadar dari pingsan. Teman-temannya masih belum bangun. Di sebelah kanannya terdapat Dewi, segera dia bangunkan.
"Dewi. Bangun, Dew."
Kabut tebal mendadak menutupi pepohonan di hutan. Jarak pandang lebih terbatas.
Mereka sulit dibangunkan. Mira kemudian duduk memikirkan apa yang terjadi sebelum mereka jatuh tak sadarkan diri.
Usai Jefri menyuruh mereka lari dahulu, terakhir kali Mira lihat harimau muncul dari arah barat daya dan angin kencang menggoyang pohon dan menggetarkan tanah.
"Jefri hilang? Gak mungkin." Mira akhirnya bangkit mencari Jefri. "Jef! Jefri!"
Mira menembus kabut putih sambil terus membaca doa dalam hati.
Apa yang dia lihat sekarang antara nyata dan semu.
Pangeran berwibawa itu berdiri di tengah kabut membelakangi Mira untuk kedua kalinya.
Di tangan kanannya terdapat pedang yang ujungnya menyentuh tanah.
Meski rupa itu mirip Jefri. Mira yakin, seyakin-yakinnya mereka bukan orang yang sama.
Dia tidak bergerak se-inchi pun dari sana. Sekadar memerhatikan makhluk-makhluk menyeramkan yang mengganas tidak bisa masuk akibat perisai misterius.
"Kamu aman."
Aman dari mana? Teman-temannya bahkan belum sadar. Hanya Mira yang kebingungan harus berbuat apa sekarang.
"Jefri di mana?" seru Mira bertanya.
__ADS_1
"Dia bersama kalian."
Mira mencari ke sekitarnya yang kosong. Tidak ada.
"Semua ini hanya ilusi. Kembalilah."
Oke, Mira. Tidak perlu takut. Mereka takkan bisa masuk memakanmu hidup-hidup. Sekarang tanya siapa dia dan apa tujuannya menjiplak wajah orang lain. Apakah dia sedang berpura-pura menjadi pahlawan?
Dari semua pertanyaan dalam benaknya. Mira lebih penasaran maksud ilusi.
"I-ilusi? Ma-maksud lo, gue halusinasi?"
Hening.
"Kita dikejar-kejar setan, ilusi? Sejujurnya gue gak suka pamer, tapi ... mata gue ..."
Haruskah dia mengutuk penglihatannya sendiri di depan orang asing?
Mira mencibir, "Seenggaknya gue punya mata bukan ngebelakangin lawan bicara."
Lantas pria itu berbalik dengan ekspresi datar menatap Mira dari jauh.
"Bisa-bisanya lo jiplak muka sepupu gue. Mana Jefri? Bawa dia kemari!" Mira malah membentak.
"Kembali saja," kata pria itu dengan sabar.
"Lo nyuruh gue kembali, kembali. Kembali ke mana? Gue sekarang nyasar gak bisa balik. Mereka juga belum bangun- " Mulutnya menganga lebar mendapati kawan-kawannya sudah tidak ada.
Mereka menghilang begitu saja padahal tadi ada di belakang dalam keadaan pingsan.
Pria itu melirik ke tempat mereka tidak sadarkan diri telah kosong.
__ADS_1
"Gue halu?" Mira menampar wajahnya sendiri agar dia cepat bangun dari sini.
"Bagaimana? Teman-temanmu sudah pulang. Kamu mau tetap berada di sini?"
"Ogah! Gue juga mau pulang. Gimana caranya? Ngapain gue di sini sendirian? Awan! Jefri! Dewi! Kalian balik gak ngajak gue sih!"
Saking frustasinya Mira mengabaikan siapa sosok di hadapannya. Dia hampiri dan ditarik-tarik pakaian lelaki itu supaya mengirimnya pulang.
"Tolongin gue. Gue mau pulang sekarang." Apalagi banyak sosok sialan yang mengepung mereka. Jalan kaki tidak mungkin. Melarikan diri percuma.
Mira tiba-tiba punya ide yang menurutnya bisa menjadi cara.
Dia berdiri tegap menarik napas perlahan dan menahannya beberapa detik.
"Sedang apa?" Pria itu heran dengan tingkahnya.
"Ilangin gue. Lo bisa, kan?"
"Kamu tidak perlu melakukan itu."
Mira cepat-cepat menghembuskan napas sebelum ko-it.
"Terus gimana dong? Masa gue doang yang masih di hutan sialan ini," gerutunya. "Lo semua yang ninggalin gue ..." Dia pastikan mereka dapat pelajaran berharga begitu bertemu.
Mira menjauh kala pria itu tiba-tiba mengayunkan pedang ke depan dengan gerakan memutar.
Pantulan suara yang muncul menghancurkan pembatas sekeliling mereka.
Mira menjerit sekeras-kerasnya. "Kenapa lo biarin mereka masukkk!"
"Hanya dengan cara ini ... Kamu bisa kembali."
__ADS_1