Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Kembali Normal


__ADS_3

Awan berdecak heran mengapa manusia berotak tapi tidak punya pikiran seperti Zafran diberi kemampuan luar biasa.


"Lo gak mau pulang?" Jefri bernada datar.


Lama-lama mereka muak sekadar tatap muka dengan Zafran. Polos dan bodoh kan beda tipis.


"Tanpa lo ngebacod kita udah tau Mira narik energi negatif," tukas Awan berani kasar.


Senyum Zafran perlahan terbit. "Berarti gue bener?"


"Lo pernah uji nyali?" tanya Awan.


"Belum."


"Mau cobain?"


"Gak minat, hehe."


"Alasannya?"


"Gila lo nyuruh gue uji nyali. Kalau gak bisa liat jurig masih bisa sok berani depan kamera."


Jefri berpaling ke Mira hingga sempat menangkap dia tersenyum melihat perdebatan Awan dan Zafran.


"Emang banyak... " Jefri sering cosplay menjadi pengusir roh jahat yang masih, ya ... Level satu mungkin.


Bakatnya diasah sedari kecil oleh sang ayah untuk melindungi saudara-saudara perempuan yang tinggal di sana.


**


Dari jendela mobil Dewi lihat dua anak sefrekuensi tiba.


"Laknat ya lo lama-kelamaan," sinis Dewi lama nunggu.


"Efek temenan sama Suryo dan Jepri," celetuk Zafran begitu masuk mobil.


"Gue... " Jefri nyolot. Mana mau berteman dengan pemikat hantu. "Canda."


"Mira fix pulang besok?"


Jefri menarik sabuk pengaman di bangku kemudi. "Hm, paling kalau gak dianter Awan ada Juan."


Dalam perjalanan mereka termenung oleh pemikiran masing-masing.


Hingga Zafran mengatakan hal yang mewakili perasaan mereka.


"Kalian tau gak, ratusan kali gue mau keluar dari sekolah kita yang sekarang."

__ADS_1


Mereka pun sama.


"Gue belum ngomong sih tentang ini ke ortu, mereka pasti gak percaya. Ratusan kali gue mikir begitu, percuma deh kayaknya."


"Kenapa percuma?" Dewi ingin dengar.


"Bukan problem sekolah kita angker berhantu, tapi diri gue sendiri yang narik mereka."


"Orang kayak kita gak semuanya bisa dibandingin pakai nalar. Selama hidup orang normal kalau liat hantu, ya udah liat. Kita nggak gitu, Zaf. Mereka yang datang ke kita punya tujuannya beda-beda tapi pasti nggak baik."


"Mereka kurang kerjaan di alam sana atau gimana... " Miris sekali hingga niat mengganggu manusia yang ingin hidup tenang.


Dewi menyahut, "Kan emang tugas mereka menggoyahkan hati kita, Zaf."


"Iya paham. Gue gak tidur pas pelajaran agama," jawabnya manggut-manggut. "Udah mah banyak dosa, iman digoyahkan, makin tipis pahala gue sehari-hari ngehujat setan doang."


"Bukan salah setannya dong," ucap Dewi.


Zafran menengok ke arah kanan dan kirinya sambil berkata sedih, "Nengok kanan terus pegel, nengok kiri liat muka ancur. Bangsad ... Bangsad... "


"Lo tadi ketemu Om Pras, diapain?" kekeh Jefri.


"Minta dikepret, Jef." Dewi ada dalam pertemuan pertama mereka.


*


Mereka bertanya mengenai bagaimana keseharian Jefri dan Mira di sekolah.


Ujug-ujug dengan mulut ajaibnya Zafran bertanya, "Maaf, Om. Bisa gak mata batin saya ditutup selamanya?"


Pras dengan lugas menjawab, "Bisa ... Apa kamu belum denger pengalaman Jefri dulu minta hal yang sama seperti kamu?"


"His, Dew. Pawang Jurig pernah minta ditutup juga!"


"Heh, itu mulut. Masa lo sebut Jefri pawang jurig depan keluarganya!" Dewi berbisik malu.


Pras melanjutkan, "Orang awam bisa dibuka mata batinnya. Kalau kamu ditutup paling berlaku sementara dan nantinya makin terbuka, gak terkendali."


"Emangnya kamu mau bangun tidur tiba-tiba udah di alam barzah?" canda Om Haryo.


"Astagfirullah, Om. Parah banget, Dew."


"Terima aja kemampuan kamu yang sekarang. Siapa tau bakal bermanfaat nanti," ucap Pras.


*


"Pokoknya kalian jangan undang Zafran lagi," tekan Dewi ogah menahan malu dua kali.

__ADS_1


"Gantian kalian yang ke rumah gue." Zafran tertawa.


"Isinya manusia, kan?" Jefri iseng.


"Oh jelas dong ... Rumahku seramai rumahmu."


"Bukannya pada bisnis luar kota emak bapak lo, Zaf?" Dewi ingat ceritanya.


"Orang kaya nih bos. Ada banyak bibi dan bapak yang jaga rumah... "


"Pamer... "


"Gak pamer, emang rumah gue rame anjir. Nah ntar pas lo ke rumah gue, usir dah segala jenis jurig."


"Lo kira gue buka jasa ruwatan!"


"Gak buka?"


"Ya kagak lah!"


Dewi menoyor kepala Zafran. "Sangat pintar semua sahabatku."


**


Awan bersandar di tiang kamar Mira dengan tangan melipat silang di depan perut.


"Lo mau gue pindah ke rumah kakek juga?"


"Hm."


"Udah ada Jefri di sana."


Atmosfer Mira dengan Awan jarang diselingi canda tawa layaknya interaksi dengan Jefri.


Mira menatap Awan sedikit memohon supaya pria itu mau menurutinya kali ini saja.


"Gue gak yakin apa yang gue liat tadi bener atau cuma peralihan. Gue liat ayah di tempat asing dan ayah bilang Jefri harus berhenti."


"Lo gak yakin tapi khawatir. Liat lebih dalam itu cuma ilusi yang dibuat jin lain atau memang pertanda dari almarhum."


Mira menghembuskan napas panjang bimbang dengan mimpi saat berusaha melepas jiwa dari raganya.


"Mira."


Gadis itu mendongak. "Kenapa?"


"Gue pertimbangin pindah ke rumah kakek."

__ADS_1


__ADS_2