
Telah menduga suatu hari terjadi. Informasi bahwa Rudi akan dinas di Jawa Tengah sampai ke telinga Mira. Hana tak luput memandang sang putri untuk mengetahui tanggapannya.
Lubuk hati Mira mengatakan tidak, namun otaknya malas mengeluarkan pendapat. Ingat saja ia mati rasa. Bila Hana mau ikut dia, ikuti saja. Lagipula ia tak bisa bertahan hidup sendiri tanpa ibu meski banyak anggota keluarga yang siap menampungnya.
Mungkin ini jawaban doanya. Asal bisa jauh dari tempat yang memberi kenangan buruk. Jarak Jakarta - Bogor sangat dekat baginya. Tanpa sadar beberapa kali dalam seminggu Mira bolak-balik tak jelas.
Mira meneguhkan hatinya. Menyingkirkan segala pikiran buruk tentang masa depan yang masih bisa diubah walaupun masa lalunya bisa dibilang hancur, berantakan, sulit dibentuk ulang.
"Mira ikut."
Rudi menegakkan kepala dari yang semula tertunduk pasrah apa pun keputusan Mira. Sejujurnya tidak mengapa apabila Mira kekeh tinggal di Jakarta. Perkara mereka hendak menikah belum pasti. Mendengar Mira mengiyakan ikut, justru menjadi beban di hati Rudi.
Hana memeluk Mira dari samping. "Kita hidup dari awal ya, nak."
Batin Rudi bertanya, apa Mira ikhlas tinggal terpisah dari sepupu-sepupunya yang sejak kecil bersama?
Getar di ponsel Mira sejak tadi terus berbunyi. Hanya nama pemanggil yang berganti. Jefri, Awan, dan Juan. Ketiga pria itu selang-seling meneleponnya padahal sudah diberitahu akan dihubungi balik.
"Mira izin angkat telepon, Mah."
Mira kaget pas ke luar rumah, motor Jefri dan Juan terparkir di halaman. Mereka bertiga masih nangkring di atas motor. Awan duduk di boncengan motor Jefri.
Yang menghampiri mereka adalah Mira. Tidak enak juga mengobrol di teras. Di dalam ada orang lain. Jika dengar pasti tersinggung. Tahu sendiri Awan ceplas-ceplos, omongan Juan nyelekit, Jefri ... dia banyak diam sih.
"Bunda belum pulang dari pasar, Jef."
"Gue tau." Jefri ke sini bukan mau bertemu ibunya.
Juan melirik pintu dan sandal yang sering terpajang di rak. "Dateng lagi? Bahas apaan?"
Awan melihat Juan. "Om Rudi kan mau mutasi ke Semarang. Lo belum tau?"
Juan mendengus. Tentu dia tahu. "Om? Cepet banget lo udah nerima dia," celetuknya di depan Mira.
"Gue denger sendiri lo ikut mereka. Kapan pergi?" tanya Jefri.
__ADS_1
"Senin depan."
Jefri mengalihkan pandangannya ke rumah yang sempat jadi kontarakan Juan. Saking tidak menyukai Rudi, Juan pindah ke Bogor menikmati waktu jadi pengangguran yang hobi buang-buang duit.
"Waktu lo pas banget pamitan sama kita," desis Juan. "Terus gimana kuliah lo? Udah pilih pindah ke mana? Gak gampang lho."
"Gue bakal urus sendiri."
"Gak mungkenn." Awan hafal karakter Mira. Selalu bilang bisa lakukan apa pun tapi sebenarnya tidak bisa.
"Mulai besok gue bantu urus," ujar Jefri.
Mira cuma tersenyum sangat tipis tahu bakal dibantu Jefri. Tapi lihat Awan matanya langsung sepet. Anak itu merasa paling bontot padahal sudah besar, masih sering menyepelekan orang.
"Terserah deh." Juan berkaca-kaca menghadap pohon. "Gue gak bisa bantu apa-apa. Lagi nyari loker."
"Makasih buat semuanya, Juan." Mira bersungguh-sungguh. "Kalau bukan lo yang mulai cari tau tentang Pak Roni gak ada yang tau Mirza di sana. Makasih juga, Wan."
"J-jangan dramatis!" Awan mengedipkan matanya yang kelilipan bukan karena debu.
Jefri menambahkan, "Semua orang tau. Pergi selagi bisa. Tapi tujuan lo pergi bukan kabur, cuma menghibur diri. Kalau mindset lo kabur, yang lo temuin di depan pasti masalah lagi."
"Simpen kalimat perpisahan buat nanti. Lo gak pergi hari ini juga."
"Bersikap baik sama orang yang mau pergi. Dosa lo ama kita bertiga gak terhitung. Mira pasti bakal lama di sono," ucap Awan menegur sikap Juan yang terlampau cuek.
Juan harap Mira temukan kebahagiaan dan kebebasan di sana. Bukan dengan mereka, tapi dia akan mencari sumbernya.
"Tenang aja. Gue bakal jadi orang pertama yang lo butuhin dan siaga dua puluh empat jam!"
Juan mau gamplong andai Awan anak orang lain. "Jait mulutnya, Jef."
Jefri mendesah tak ada gunanya menjahit mulut Awan. Keburu mencak-mencak lihat jarum.
Awan berubah cool saat Rudi ke luar dari rumah bersama Hana.
__ADS_1
"Kalian di sini? Kenapa gak ajak masuk, Mira?" Hana setengah teriak.
"Cuma mampir, Mah!" Awan menyapa Hana dengan lambaian tangan dan tersenyum pada Rudi yang berdiri mematung lihat mereka. Dengan lirih Awan komentar, "Anjir berasa anak geng motor rebutin satu cewek diliatin Rudi."
Juan berdecak merapikan kerah jaketnya ketika Rudi memakai sandal. "Gue gak bisa pura-pura ramah. Tolong tutornya."
Jefri terus memerhatikan Rudi yang mendekat ke arah mereka. Mira membelalak Awan hormat padanya. Tingkah aneh macam apa yang dia simpan sampai kepikiran beri hormat ke Rudi. Ternyata bukan mulut doang, tapi sikapnya di luar prediksi.
"Pagi, Pak!" Lagaknya seperti murid akademi polisi.
Rudi membalas hormat Awan. "Pagi," balasnya menyambut mereka.
Juan mengumpat ngapain dia gilanya kumat sekarang. Tangannya menurunkan tangan Awan sembari terkekeh datar. Mereka bukan bertemu di tempat operasi tilang pakai hormat segala.
"Saya udah mau pergi. Kalian ngobrol di dalam aja."
Juan malas basa-basi. "Kita di sini bukan nunggu bapak pergi, emang kepengen aja nangkring di motoran liat pohon jambu."
Kan Mira bilang apa. Sekali Juan buka mulut, nusuknya sampai lapisan ketujuh tulang.
Rudi lantas memandang pohon jambu yang dimaksud. "Penunggunya gak baik. Sebaiknya jangan di sini terlalu lama. Saya pamit. Permisi."
Leher Awan memutar sampai Rudi masuk ke mobilnya yang tidak jauh terparkir dari tempat motor mereka. "Seenggaknya dia tau warna aura. Gue tenang."
"Pak Rudi gak bisa diremehin." Jefri geleng-geleng kepala mengherankan mereka selalu menganggap kemampuan orang lain berada di bawah.
"Justru gak baik bikin tamu gak betah," cetus Juan tersenyum penuh siasat.
"Lo yang narik?" selidik Awan. Pas pertama datang cuma wewe gombel. Sekarang ada kunti juga. "Demen amat lo nyari cewek. Haha!"
Juan menyikut perut Awan. "Tutup mulut lo."
Awan mengaduh kesakitan. "Sikut apa gagang sapu njir!"
Jefri kira sekarang waktu yang tepat mengutarakan keinginan mereka semua.
__ADS_1
"Besok gak ada matkul siang. Ayo ke makam Mirza. Lo juga harus pamit karena pergi lama. Ini permintaan gue secara khusus."