Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Buku Diari Mirza Mengungkap Banyak Fakta


__ADS_3

Sepekan usai menangani jasad Mirza, mereka sama-sama merenung dan bicara dari hati atas penanganan yang sigap dilakukan Pras dan Haryo.


Di waktu Jefri, Mira, Awan, Dewi, Surya, dan Irlan terisak-isak mengitari mayat Mirza. Juan berusaha menghubungi Haryo, meminta bantuan memindahkan mayatnya ke pemakaman di Bogor.


Atas usulan Haryo, Juan kembali meminta bantuan Ridwan. Polisi yang menjadi rekan keluarga mereka sekaligus tangan kanan Pak Hardi, ayah Zafran, untuk membersihkan sisanya.


Hasil dari keputusan dari komite ialah sekolah ditutup sementara sampai penyidikan berakhir untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.


Seluruh barang bukti di tempat kejadian disita dan berniat dimusnahkan setelah ketetapan akhir. Gudang bekas instalasi listrik di rooftop berencana akan ditiadakan. Jalur tangga ke semua atap akan ditutup, hanya juru kunci yang bisa mengakses pintu.


Kepolisian Pusat ramai menerima keluhan dari warga sekitar sekolah yang menanyakan kasus apa melibatkan pembelajaran dilakukan daring. Para guru bahkan kewalahan terus menerima telepon dari orang tua siswa. Tentang kasus apa sampai kegiatan dihentikan, sampai kapan penyelidikan berlangsung, dan kapan siswa bisa masuk sekolah lagi.


Dari sekian pertanyaan yang masuk, pihak sekolah telah berkompromi tidak memberitahu jika salah satu guru mereka tersangka kasus menyembunyikan mayat. Dan karena hasil autopsi menyatakan Roni meninggal kena serangan jantung, maka tidak bisa didakwa hukuman. Oleh sebab itu sekolah menanggung semua putusan dengan lapang dada.


***


Padahal niatnya hari ini mau jalan-jalan mencari udara segar. Satu alasannya berhenti di tempat ini lagi. Melihat debu-debu mulai bersarang karena tidak berpenghuni, ia hanya melamun tanpa memikirkan apa pun. Kosong.


Mereka berdua terlalu egois berdalih melindungi satu sama lain, namun akhirnya sibuk menjahit luka sendiri.


Terlalu sering melihat ke atas membuatmu selalu merasa puas. Sesekali lihat ke bawah, nikmati apa yang kau miliki, jangan menghitung hal yang tidak ada.


Cklek!


Tubuh Mira tersentak melihat pintu rumah Mirza terbuka dari dalam.


"Kamu." Ridwan membawa kardus kecil berisi beberapa barang bukti yang dapat memperjelas alibi mereka.


Mengetahui keberadaan Mira di depan rumah Mirza, polisi muda yang gagah itu tahu tanpa bertanya.


Mira bergegas hendak pergi, tetapi diajak pergi oleh Ridwan.


"Mau makan siang bareng saya?"


Setelah dipikir-pikir ia lapar juga jalan kaki dari rumah sampai sini. Tak ada alasan untuk menolak ajakan makan.


Mira heran selera Ridwan sangat umum. Ridwan mengajak makan nasi goreng di penjual kaki lima.


Tak heran Ridwan bekerja hanya mengisi waktu luang dan menangkap penjahat. Uang bukan segalanya bagi Ridwan. Sekali sawer bisa buat beli satu unit motor dari majikannya.

__ADS_1


"Saya bawa uang cash dikit doang. Sekarang makan di pinggir jalan dulu, lain kali saya ajak ke restoran mehong," ucap Ridwan diselingi kekehan kecil.


"Gak masalah selama higenis."


Ridwan menarik kursi merah khas yang tengahnya bolong. "Duduk sini."


Mira melirik aneh perlakuan Ridwan terhadapnya. "Please saya bukan anak kecil, Pak. Bersikap kayak biasa aja, yang normal."


Ridwan sengaja meletakkan dus di meja tepat depan Mira supaya dia penasaran selagi pesan ke abang nasgor.


"Mau minum apa?" teriak Ridwan.


Lagi menebak isi kardus, Mira teralihkan. "Es teh tawar. Pedesnya sedeng."


"Anaknya, kang?" tanya abang penjual.


Dalam hati Ridwan menyangkal. Bisa-bisanya dia dikira bapaknya. "Saya keliatan tua ya, bang?"


"Agak mirip. Emang bukan, kang?"


Ridwan memandang sekilas Mira kemudian tersenyum tipis. "Ponakan."


Kembali ke kursinya, Ridwan dapat pertanyaan dari Mira kenapa pesannya lama sekali seperti arisan.


"Bukan apa-apa."


"Bapak-bapak penggibah."


"Kata abangnya kamu mirip saya. Saya dikira bapak kamu."


Mira berdecak sambil geleng kepala. "Ada-ada aja. Saya gak mirip bapak ya. Saya mirip mama saya."


"Banyak yang bilang kita berdua mirip. Saya baca artikel tanda-tanda jodoh salah satunya punya wajah mirip."


"Hoaks itu. Pak, jangan suka saya ya. Saya belum move on."


"Gak bakal. Saya terlanjur ngaku kamu ponakan saya."


Abang nasgor datang menghidangkan pesanan. Dua nasi goreng pedas sedang, satu es teh tawar, satu es teh panas, dan sebungkus rokok.

__ADS_1


Dibanding Ridwan, Mira sebetulnya tidak begitu ingin makan. Nasi goreng Ridwan sudah ludes, punya Mira masih sisa setengah.


"Nanti malam saya pulang ke Jakarta. Ada briefing tim pusat."


Mira mengernyitkan alis. Lalu mengapa pria itu berhenti bicara demi menatapnya tidak melanjutkan ucapannya?


"Pak Ridwan!" Sengaja Mira kageti dia.


"Eh?" Ridwan lupa sebentar. "Kamu masih cuti kuliah, kan?"


"Iya." Mencurigakan sekali si Ridwan ini.


"Barang-barang Mirza mau saya simpan di ruang bukti. Pas pencarian gak sengaja nemu buku diari." Ridwan mengambil buku yang dimaksud. "Kayaknya tertuju buat kamu." Ia berikan pada Mira.


"Buat saya?" Tidak pernah Mirza cerita menulis catatan harian. "Tapi makasih kasih saya ini."


Ridwan menarik napas panjang. "Saya bayar dulu."


Mira membuka asal halaman. Foto dua orang tak asing di matanya. Ia melihat Ridwan beberapa detik, lalu memastikan foto yang ditempel di buku memang dia.


"Kenapa ... dia sama mama satu frame gini?"


Foto itu adalah Ridwan dan Hana sedang berhadapan di halaman rumah. Tanggal yang tertera di sudut kanan bawah adalah 11 Januari 2021.


"Beres. Saya anter kamu pulang." Wajah Ridwan berseri-seri menghampiri Mira.


Tangan Mira bergetar membaca kutipan di halaman samping.


"Peran ayah selalu melindungi anak perempuan mereka. Om Alfian dan orang itu punya tujuan yang sama."


Ridwan berdiri di belakang Mira mau mengintip apa yang dibaca sampai bengong.


"Ikut liat."


Sontak Mira menutup buku. "Kan punya saya. Pak, saya ikut ke Jakarta, bisa?"


Omong kosong yang berkeliaran di telinganya, apa benar? Apa hubungan Ridwan di antara Hana dan Alfian selaku orang tua sah Mira? Apa pula maksud kutipan Mirza di bukunya?


"Bisa," jawab Ridwan. Benaknya bertanya apa yang membuat Mira berubah pikiran.

__ADS_1


Hanya ada satu cara dan satu kali kesempatan menemukan jawaban.


Mari pertemukan Hana dan Ridwan.


__ADS_2