Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Kabur ke Mana?


__ADS_3

Mereka melarikan diri dari teror kepala bergelinding.


"ANJING!" Surya lari membalap Irlan. "LEMOT AMAT LO BERDUA!"


Zafran di belakang Irlan berupaya lebih kencang lagi. "ANJIR CEPET BANGET."


Awan di depan Zafran mendadak berhenti.


"Kenapa?" tanya Zafran.


"Lo ikutin mereka," ucap Awan.


"Lo gimana?"


"Gue jaga di belakang. Lari buruan!"


Zafran mendesah berat lalu lanjut mengejar orang-orang di depan.


Di belakang masih ada Jefri, Mira, Dewi, dan Iptu Ridwan tertinggal cukup jauh gara-gara mereka maraton.


"LO GAK BISA HALANGIN MEREKA, JEF?" teriak Dewi mengangkat lengan karena jaketnya merosot.


Berlari saat panik sangat sulit bagi Mira. Dia seperti melewati ombak. Terombang-ambing di atas tanah.


"Masih ada?" Mira bertanya.


"LARINYA DIPERCEPAT!" Iptu Ridwan teriak dari belakang. Dia bisa saja lari lebih cepat tetapi itu artinya meninggalkan anak-anak.


"UDAH PALING CEPET INI!" jerit Dewi. "Bangsat si Surya mana coba?" gumam Dewi mengutuk. Bisa-bisanya dia jalan paling belakang tapi kabur paling depan.


Di tengah pelarian Mira mengucap permintaan maaf. "Harusnya gue gak maksa ikut. Maafin gue, Jefri ..."


Jefri menoleh sekilas. "Kabur dulu. Minta maafnya nanti."


"Hahhh ... Itu Awan!" Dewi menilik belakangnya sebentar. Sudah tidak ada kepala yang mengejar mereka. "Udah gak ada, Jef!"


Jefri berhenti mengambil langkah di depan Mira supaya dia tidak terhuyung ke depan.


Mereka berbalik serempak dengan napas terengah-engah.


Iptu Ridwan mengibaskan kaosnya kegerahan. Syukurlah mereka bisa mengendalikan detak jantung dan deru napas sejenak.


"Yang lain mana?" tanya Dewi.


Awan lantas menjawab ala kadarnya. "Duluan."

__ADS_1


Mira berdiri di antara Jefri dan Awan. Dia memegang bahu Jefri. "Kita udah aman, kan?"


Jefri menyentuh tangannya. "Kemungkinan."


"Gue bejek-bejek yang kabur duluan. Mana mereka? Samperin sekarang!" Dewi menghentakkan kaki kesal.


Baru beberapa langkah, terdengar teriakan dari depan mereka. Suaranya sekejap hilang, sekejap ada.


Dewi sontak merunduk kaget. "Siapa tuh?" Kakinya mundur lagi mendekati mereka.


"Kata lo mereka di depan, depan mana?" Dewi berbalik tanya kepada Awan.


Awan mengerem kakinya. "Jalan di sini cuma satu. Mereka lari sesuai jalur."


Iptu Ridwan melihat seksama apa yang ada di depannya. "Mereka balik lagi."


Surya, Zafran, Irlan, dan Pak Adit. Mereka lari kocar-kacir ke arah mereka sambil berteriak memberitahu sesuatu.


"WOI LARIII! ADA KUNTI!"


"GENDERUWO! PUTER BALIK! LARI KE SONO!"


"BUKAN GENDERUWO!"


"ITEM GEDE!"


Mereka bersahutan teriak sehingga kurang jelas dari pendengaran Awan dan yang lain.


"GOBLOK, BANYAK SETAN DI SINI! WOI ANJENG, KABOR!" teriak Zafran.


"PERKARA MELARIKAN DIRI PALING DEPAN LO, SUR!" teriak Irlan.


"BACOT! LARI AJA!"


"KUNTINYA MAU KAMU, SURYA!" Pak Adit masih sempat membuat lelucon.


"BUAT BAPAK AJA YANG BELUM NIKAH! SAYA IKHLAS!" Surya sih ogah.


"Ngomong apaan mereka ..." Awan menghela napas, fokus melihat gerak bibir Zafran dan mendengar teriakannya saja.


"MAMAKKK!" Surya makin kencang meninggalkan mereka. "KUNTINYA GAK CAKEP BEGO! LO BOONGIN GUE, JAPRAN!"


Mira dengar perkataan mereka dan membisikkan ulang pada Jefri.


"Gimana nih! Di sana kepala gelinding, di situ banyak setan! Jalannya cuma ada satu!" Dewi sengaja dekat Awan.

__ADS_1


"Ada satu cara," kata Awan.


"Apa?" Dewi penasaran.


"Doa."


"Mau gue gibeng?!" tawar Dewi.


"Seriusan," kata Awan penuh yakin.


Mira menepuk badan Jefri bertubi-tubi atas sosok besar yang dia lihat mengejar teman-temannya.


"Jefri."


Jefri mengerjap kemudian menyuruh Awan membawa Mira pergi ke arah sebelumnya di mana banyak kepala bergelinding.


"Lari sejauh mungkin, Wan. Bawa mereka."


Mira mencengkeram jaket Jefri. "Gue mau ikut lo."


Dewi belum paham mereka memutuskan apa sementara teman-temannya makin panik dikejar sosok besar hitam bermata merah api.


Awan terpaksa menarik tangan Mira.


"Dewi, jangan tinggalin Mira. Lo ikutin Awan sama Pak Ridwan," ucap Jefri.


"Kamu gimana?" tanya Ridwan mana mungkin membiarkan Jefri sendiri.


Jefri menatap mereka. "Sekarang lari dulu ..."


Awan menyeret Mira lari.


"Jefri! Lepasin, Wan! Lo tega ninggalin Jefri sendirian! Jef! Gue mau ikut lo aja! Jefri!"


"Alah gak usah drama! Lo mau dimakan mereka, hah?"


"Dimakan? Gak ah!"


Dewi tak punya opsi selain mengikuti perintah Jefri. Dia membawa Mira pergi.


"LO GAK KABUR?" tanya Irlan selagi lewat depan Jefri.


"Duluan," lirih Jefri.


Setelah mereka semua melewati Jefri sambil terus berlari.

__ADS_1


Setelah itu Jefri menundukkan kepala, memandang tanah yang dipijak, dan membaca doa perlindungan.


**


__ADS_2