Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bus Hilang dan Mereka Kesasar


__ADS_3

"Saya ada mobil. Ayo kita pulang ke Jakarta dulu," kata Ridwan pada Zafran.


Geng mereka tertegun mendengar ucapan Iptu Ridwan.


Zafran menghitung. "Satu, dua, tiga, kelas kita ada lima belas orang."


"Mending lo pulang duluan," ucap Dewi lebih ke mengusir. "Kelas sebelah kasian nunggu bis kalau kita pulang duluan."


Iptu Ridwan mengulang fakta. "Saya di sini cuma jaga satu orang."


"Ada polisi gitu," cibir Mira.


"Saya bukan polisi sekarang. Jangan bawa-bawa pekerjaan."


"Pulang sana sendiri!" sentak Mira.


"Sabar woi sabar." Surya melerai perdebatan mereka sebelum melebar. "Kita tunggu bareng. Anteng aja, jangan banyak bacot, jangan banyak gaya."


Dari kejauhan lampu menyorot ke arah mereka. Sebagian mendekat ke pinggir jalan memperjelas penglihatan kendaraan apa yang lewat.


Pak Adit menyetop mobil bak terbuka dan menanyakan ke mana arah tujuan bapak tersebut.


"Maaf, Pak. Bapak mau ke mana ya?"


"Mogok?" tanya bapak itu.


"Iya, Pak."


Telinga Jefri berdenging panjang.


Mira menepuk bahunya. "Kenapa?"


Jefri menutup telinga dan berbalik setelah bilang baik-baik saja.


"Gapapa."


"Serius?"


Iptu Ridwan sempat melihat Jefri sesaat dan bersedekap menunggu percakapan Pak Adit dan bapak pengemudi mobil bak.


"Saya ke arah Jakarta. Kalian mau ikut saya, ikut saja. Muat kalau cuma sedikit," jawabnya melihat mereka satu per satu.


Pak Adit tersenyum. "Kayaknya gak muat kalau semua naik. Gimana kalau sebagian?"


"Satu, dua, tiga ... Sedikit kok. Sembilan orang duduk di belakang semua."


"Sembilan?" Pak Adit bergeming. Mereka ada puluhan, mengapa cuma sembilan?


Jefri membuka mata. Bus serta anak-anak lain tidak ada alias menghilang tanpa jejak.


Hanya mereka dan mobil Iptu Ridwan yang menabrak pohon hingga bagian depannya timbul asap.


Jefri mendekat ke mobil usai penasarannya membuncah.


"Mau ke mana?" Mira menahan lengan Jefri. Dia memekik usai mata kepalanya melihat hanya mereka di jalan ini. "Yang lain mana?! Busnya ke mana!"


Dewi ikut menoleh ke belakang, matanya seketika melotot lebar.


"Anjir kok ilang? Gue bilang apa, Dew! Jangan turun, jangan turun!" ucap Surya mengomeli Dewi.


Dewi memukul mulut Surya. "Diem dulu. Biar gue berpikir jernih."


Iptu Ridwan mendekat ke mobilnya.


Awan masih terdiam di bawah pohon di antara kebingungan teman-temannya. Dia sudah tahu telah terjadi sesuatu di luar nalar tapi baru tampak sekarang.


Jefri merasa ada energi negatif di sini.


Pengemudi mobil bak pun langsung tancap gas secara tiba-tiba dan banting stir menabrak pohon.


Brak!

__ADS_1


Para gadis menjerit terkejut sekaligus takut.


Pak Adit kehabisan oksigen untuk dihirup. Beliau berlari diikuti Iptu Ridwan mengecek keadaan sopir.


Awan berdiri memindai sekitar. "Jef. Ada yang nuntun kita ke sini."


Dengung di telinga Jefri berangsur membaik. "Gimana?" Dia kurang dengar.


Mira menarik-narik lengan Jefri. "Jef, yang lain mana? Kenapa cuma kita yang ada di sini? Busnya ilang juga."


"Bangsat, bapak tadi kesurupan apa nabrakin diri gitu?" celetuk Surya.


Dewi menghampiri Zafran. "Zafran! Lo daritadi di belakang gak tau mereka ilang sekejap mata?" desaknya bertanya.


Zafran menggeleng cepat. "Gue gak tau!"


Irlan turut mengingat kejadian sebelumnya agar tidak menerka-nerka.


"Gue gak tau kita bisa begini, tenang aja dulu." Jefri memberi tatapan penenang.


Namun tidak mempan bagi Mira. "Gimana gue bisa tenang!"


Awan mengguncang bahu Mira. "Sementara dengerin Jefri dulu! Kita berdua lagi mikir!"


Mira menangis kencang. Dari hari pertama sudah tidak betul piknik ini. Harusnya dia tidak usah bebal minta ikut kalau tahu kejadiannya seperti sekarang.


Iptu Ridwan membuka pintu pengemudi, anehnya tidak ada orang. Betul-betul kosong.


"Kosong, Pak."


Pak Adit memeriksa bagian belakang sampai kolong mobil bak.


Iptu Ridwan bahkan masuk dan memang kosong. Ke mana bapak tadi yang menyetir?


Dewi menggigit bibir bawah. "Gue pernah baca novel horor ... Apa kita dihipnotis hantu?"


"Lo pikir mereka belajar ilmu begituan di sana?" sahut Zafran.


Awan dan Jefri menatap mereka cukup serius setelah menduga teori-teori.


"Kita dihipnotis?" Mira mengulang bagian yang menurutnya masuk akal.


Awan lantas melirik Jefri kemudian memarahi mereka. "Tutup mulut lo berdua. Kalau gak ada Jefri gue bisa langsung percaya sama teori konspirasi kalian!"


Surya berbisik. "Disuruh diem, Dew." Ngeri juga Awan saat marah.


Iptu Ridwan dan Pak Ridwan memilih kembali pada anak-anak.


"Bapak yang nyetir tadi gimana?" tanya Jefri.


"Gak ada. Kosong."


"Kosong?!" sentak Dewi.


"Kita balik ke vila dulu," pungkas Jefri.


"Ayo," jawab Awan mengikuti.


"Ngapain balik lagi?" tanya Zafran.


"Lo mau di sini terus?" sahut Awan sinis. "Udah malem, gue gak mau ada kejadian janggal lagi." Terlebih Mira sangat ketakutan.


Jefri menunduk, Mira memegangi tangannya sejak tadi. "Kita jalan aja. Biar tau sebetulnya kita dihipnotis kayak menurut kalian atau bukan," lanjutnya.


Iptu Ridwan mengasihani nasib mobilnya.


"Sabar ya, Pak. Semua kejadian ada hikmahnya," ujar Pak Adit.


"Saya belum lunas."


Pak Adit tambah iba. "Ya Allah. Kasihan sekali, Bapak. Saran saya hubungi pihak asuransi supaya biayanya ringan."

__ADS_1


"Mobil gak penting. Nasib kita dipermainkan ini," tutur Zafran.


"Kamu mau tanggung jawab?" protes Ridwan.


"Bapak Hardi banyak duit."


"Kalau begitu saya gak terlalu kepikiran," kata Ridwan menepuk bahu Zafran, menaruh harapan padanya. Dia mungkin keren menjadi polisi, tetapi gajinya tidak bisa menutupi biaya kerusakan mobil karena untuk bertahan hidup.


"Terlalu banyak drama," ketus Dewi lewat di tengah mereka.


"Mau pulang gak?" seru Surya di belakang Dewi.


"Diam kamu, Sur."


Mereka sudah berjalan menuju vila.


Awan mencolek Mira. Dia tidak tahu Mira mudah kaget.


"Apa sih!"


"Jangan pegangin tangan Jefri gitu, sakit dianya."


Jefri menengahi. "Biarin, Wan."


Dewi melirik tangannya. "Berlaku buat lo juga, Sur. Tangan gue sakit."


"Gue harap lo sama pengertiannya kayak Jefri," balas Surya tetap memegangi tangan kekasihnya.


Pak Adit yang berada paling belakang menjaga anak didiknya tak luput memerhatikan sekitar.


Iptu Ridwan memimpin jalan di garda depan. Pengakuannya hafal jalan sangat diandalkan anak-anak.


Zafran dan Irlan di depan Pak Adit saling diam membatin masing-masing.


Hampir satu jam mereka jalan tetap belum sampai tujuan. Keringat mengaliri seluruh tubuh mereka.


"Pak, betul kan jalannya?" tanya Jefri.


"Hm, betul." Iptu Ridwan yakin.


"Terus kenapa lama banget? Kita kayak muter-muter doang di hutan," kata Awan.


"Kita nyasar?" Mira kacau sekali. Rambutnya basah keringat, mukanya pucat.


Andai mereka bawa tas yang ada di dalam bus, ada air minum di sana. Awan miris sekali melihat Mira dehidrasi.


"Berhenti sebentar deh."


"Jangan. Kita harus tetap jalan," kata Iptu Ridwan.


"Jangan megang gue mulu! Berat ah!" Dewi menangkis tangan Surya. "Gue rasanya mau muntah. Masih lama gak sih?!"


"Lo mau muntah. Gue sekarat, Dew." Zafran sudah duduk di sebelah Irlan.


"Stop dulu, Pak. Kasihan anak-anak," ujar Pak Adit.


"Sepuluh menit." Iptu Ridwan memberi waktu singkat.


"Gue takut kita gak bisa pulang," lirih Mira.


Jefri dan Awan yang duduk di sisinya langsung mengalihkan pandangan.


Awan mendesah lelah. "Kita rame, gak kesasar sendiri."


Jefri menepuk punggung Mira tak berikan sepatah kata.


"Anjir, napas gue berasa terbatas banget." Surya mengibaskan tangan berharap ada angin lebih supaya bernapas bebas.


Irlan meluruskan kakinya. "Gak lo doang, Sur. Jangan nyusahin Dewi. Dewi gak nyusahin lo."


"Gue cuma mau cepet pulang."

__ADS_1


__ADS_2