Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Tersendat Sesuatu


__ADS_3

Zio menepuk bahu Awan yang sedang membungkuk di luar kelas pakai teropong buatan dari buku.


"Ngapain lo ngintip di kelas sendiri?"


Udin ketawa. "Gejala gila ya ini."


"Gue lagi pantau orang," ucap Awan lebih serius dari perkiraan.


"Siapa?" Udin ikut jinjit segala.


"Putri kali," celetuk Zio tidak ingat tempat.


"Heh! Bego. Jangan kenceng-kenceng."


Zio tersenyum hambar dengan kelakuan absurd temannya. "Itu dia ... Ngapain lo ngintip ke kelas sendiri, hah?"


"Gak bakal jawab dia." Udin yakin dua ratus persen. "Lo nyari jurig lagi, kan? Selamat mencari dan berpetualang, kita masuk duluan."


Awan bertanya sengaja bikin orang penasaran, "Lo mau tau rahasia harta karun di sekolah?"


Udin dan Zio saling pandang merasa khayalan Awan sudah terlalu jauh untuk dipahami.


"Gak." Zio menggeleng cepat. "Harta karun gak penting. Gue udah punya gedung atas nama sendiri di Jogja."


"Gue minat!" Udin angkat tangan. "Zio ikut!"


"Dih, apaan. Gak, gak!"


"Oke, kabar selanjutnya gue kabarin lewat grup."


Grup chat yang diberi nama "Trio Bloon" telah berdiri sejak tanggal pertama Awan masuk, dibuat oleh Awan sendiri tanpa persetujuan mereka, dan diramaikan oleh dia juga.


Udin kadang gabut suka tanya sedang apa, di mana, jadi bolos atau tidak, tapi seru bagi mereka.


Zio tergolong anak baik tapi random. Zio suka kirim pesan suara ketawanya sendiri gara-gara ngakak baca obrolan mereka. Zio termasuk laknat sering bagikan foto aib teman sekelas.

__ADS_1


"Jangan mengundurkan diri! Lo berdua barusan setuju," ingat Awan.


"Duh perasaan gue gak enak, njir." Zio mengusap dada sembari pikir harta karun sebanyak apa sampai diburu.


"Tenang. Ada gue," kata Udin.


"Ada lo tambah ribet hidup gue! Tuh ada Pak Juan buruan masuk!" Zio mendorong-dorong temannya masuk kelas.


"Juan?" Awan membeo.


"Yang sopan," sahut Juan tatkala berhenti di belakang mereka.


"Mampus!" cerca Udin.


Juan menyahut lagi, "Jaga omongan."


Zio langsung inisiatif minta maaf. "Maaf, Pak."


Zio dan Udin sudah duduk di bangku, hanya Awan yang tertinggal di ambang pintu karena ujung seragamnya ditahan Juan.


"Oke." Awan dilepas Juan langsung duduk di kursinya.


Putri memerhatikan mereka saling komunikasi. Apa yang mereka rencanakan? Apakah butuh bantuannya?


**


Juan beres-beres meja seperti yang dilakukan kebanyakan guru sebelum pulang. Hingga hampir semua sudah pulang, tersisa Juan dan Pak Adit saja.


"Gak pulang, Pak?" tanya Juan.


Pak Adit lagi menilai hasil kerja siswa langsung jawab tanpa menoleh, "Gerak-gerik kamu mencurigakan. Ada sesuatu yang perlu saya tau?"


Juan langsung ingat kata Mira. Pak Adit peka dengan semua orang dan bisa ikut campur jika tidak dilarang lebih awal. Mira bilang jangan biarkan Pak Adit ikut andil.


"Selain konsultasi murid hari ini yang udah saya kasih, gak ada hal lain."

__ADS_1


"Begitu ..."


Selesai kasih nilai Pak Adit menyerong kursinya ke Juan. "Kamu banyak memperhatikan Pak Roni hari ini."


Tanpa sepenglihatan Juan memang Pak Adit senang mengamati dari balkon kelas yang menghadap lapangan dan gedung sebelah.


"Kebetulan itu," alibinya berusaha bersembunyi.


"Ngapain juga kamu perhatiin Pak Roni. Kalian gak kenal karena ngajar beda gedung," kata Pak Adit mengangguk pura-pura mengerti.


Juan menyalakan komputer sambil tunggu Pak Adit pulang.


"Kalau begitu saya pulang."


Pak Adit mengambil laptop yang akan dibawa pulang.


Begitu Pak Adit pergi Juan melancarkan aksinya. Pertama ia hubungi Awan supaya memastikan Pak Roni tidak ke mana-mana.


"Wan, siap?"


Awan mendengar suara Juan, tapi Zio dan Udin ribut rebutan makanan di lorong sekolah.


"Siap. Lo di mana?"


"Masih di ruang guru. Gue denger keributan di situ. Lo bareng siapa?"


"Bestfriend gue harus ikutan. Mereka bisa jadi alasan seandainya rencana kurang maksimal."


Tinggal bilang andaikan gagal saja sulit.


"Jaga mereka," tutur Juan. "Gue bergerak sekarang."


"Oke."


Baru berdiri dari kursi Juan terkejut langsung terduduk lagi karena Putri tiba-tiba muncul.

__ADS_1


"Saya mau bantu bapak."


__ADS_2