
Pak Adit terlihat serius menatap layar komputer malam-malam. Mira meminta bantuannya untuk mengecek siswa alumni bernama Rangga Wirsana tetapi justru informasi yang didapat sangat tidak terduga.
Lewat telepon Pak Adit menyebut nama tempat yang harus didatangi untuk membicarakan sosok Rangga Wirsana kepada Mira.
Mira mengiyakan ajakan Pak Adit. Dia ingin tahu siapa Rangga. Waktu istirahatnya bahkan dikorbankan demi mendengar langsung info terkait. Tanpa berdandan Mira langsung menyambar jaket untuk menutupi pajamasnya dan melindungi dari angin malam.
Lagi buka pintu Mira lihat Awan mengobrol sama Putri. Raut wajah mereka berdua seakan tertangkap basah berduaan di teras.
"Lo mau ke mana malem-malem?" Awan basa-basi mengalihkan situasi.
"Ketemu Pak Adit."
Mengetahui nama gurunya disebut Putri hanya menatap Mira tanpa berniat mengulik lebih jauh. Lagipula dekat dengan Awan bukan berarti dekat dengan Mira. Baginya Mira ialah sosok misterius.
"Ngapain?"
Awan berusaha mendapat jawaban akhirnya sia-sia ditinggal Mira naik taksi. Suara derap lari dari dalam rumah setelah taksi melaju sontak mengejutkan Putri.
"Heh, Mira ke mana?" teriak Jefri.
Putri mengerjap sebanyak tiga kali melihat bare face Jefri, seniornya yang dikenal keren seantero sekolah. Wah ternyata memang benar. Rambut acak-acakan masih keren.
Pada saat Awan kembali ke sisi Putri sambil menjawab pertanyaan Jefri, tatapan gadis itu membuat Awan salah paham.
"Ketemu Pak Adit katanya. Kenapa lo liatin Jefri begitu?"
Putri langsung menyadarkan diri. "Kaget ada suara lari."
Sebenarnya Awan tahu Putri terpesona sama Jefri. Alibinya sangat dusta.
"Apa-apaan lagi lo berdua udah malem masih berduaan," cibir Jefri.
"Berisik lo. Ini mau gue anter pulang."
"Dih!" Dibilangin malah begitu si Awan. Tambah kurang ajar.
__ADS_1
Awan masuk rumah mengambil kunci motor di kamarnya dan lekas turun.
Jefri mau masuk juga tidak ada kegiatan di kamar selain tidur dan belajar. Dilihat-lihat kembali Putri ini agak beda pandang dia. Apa penampilannya sangat aneh sekarang?
"Kenapa gak masuk?"
"Di luar lebih adem."
"Banyak setan di luar. Lo mau disuruh berantem sama setan?"
"Hah?"
Awan menyenggol setengah badan Jefri sengaja akibat membicarakan dia. "Permisi!" Jangan lupa tatapan sinisnya yang membuat darah tinggi orang yang lihat kumat.
"Anjir," gumam Jefri mengalah demi citranya di depan adik kelas.
"Saya pulang dulu ... Kak?" Aneh ya panggil Jefri "kak" karena baru bisa bicara sekarang. Kakak kelasnya sudah kuliah pula. "Mas?" Tolong selamatkan Putri dari malu. Dia kebingungan sebut Jefri apa.
"Panggil bapak Jefri atau kakek Jefri," celetuk Awan.
"Cukup nama aja," imbuh Jefri.
***
Memasuki kawasan restoran, Mira dapat melihat mobil abu tua Pak Adit terparkir paling depan. Langkahnya dipercepat hingga keramaian sulit mencari keberadaan Pak Adit.
Dari belakang pundak Mira ditepuk pelan. Pak Adit lebih dulu mendatanginya yang tampak bingung mencari.
"Di sana," unjuknya ke sudut ruang sebelah yang menghadap pemandangan resto outdoor dengan lampu hias kecil-kecil.
Mira mengikuti Pak Adit sambil menjaga pandangannya agar tetap fokus. Di mana-mana ada hantu. Kenapa juga mereka cuma berdiri diam tidak melakukan apa-apa. Kenapa malah ada yang sampai mengikuti pengunjung. Hantu sialan.
Mira duduk di kursi dan langsung melontarkan pertanyaan. "Gimana, Pak? Rangga Wirsana beneran alumni sekolah Binsat?" Binsat adalah kepanjangan dari Bina Satya, SMA mereka.
Pak Adit menyodorkan kertas yang sebelumnya dia lipat menjadi dua kepada Mira, biar lihat sendiri isinya.
__ADS_1
"Apa ini? Biodata?"
"Hm. Biodata singkat," kata Pak Adit.
Dari nama, tempat dan tanggal lahir, nama orang tua, pendidikan sebelumnya, keikutsertaan ekstrakurikuler, hobi, prestasi, hingga catatan komite sekolah.
Rupanya Rangga pernah disidang komite sekolah atas dugaan tindak kekerasan terhadap seniornya dengan alasan yang kosong di kertasnya.
"Ini alasan dia kena sidang kenapa? Kok kosong?"
"Rumornya Rangga berkelahi sama senior yang pernah melakukan pemanggilan arwah," jawab Pak Adit.
Alasan macam apa itu, batin Mira. "Serius?" Meski begitu hanya orang seperti mereka yang bisa memahami.
"Terus sekarang Rangga kerja di mana, Pak?" Setelah bertanya Mira kaget tulisan di bawahnya lagi ada tanggal Rangga wafat. Lho?
"Rangga udah gak ada. Kamu ketemu di mana?"
Mira bahkan mengedipkan mata berkali-kali demi memastikan tulisannya tidak keliru. "Meninggal?" Jadi, yang dilihatnya di pemakaman adalah arwah gentayangan.
"Ini lampirannya." Pak Adit menunjukkan satu kertas lagi.
Mira menarik kertasnya. Dibaca seksama tiap kata supaya lebih jelas. Keterangan kematian Rangga Wirsana akibat tabrak lari mobil di daerah Grogol. Nama pengemudi mobil lagi-lagi sebuah kejutan.
Pak Roni.
Artinya mereka sudah berhubungan sangat lama. Roni sangat biad*b! Selain membunuh Rangga dengan alasan Rangga lalai menyeberang jalan saat mobil melintas. Pria tua bangka yang kini terpendam tanah juga mengorbankan muridnya sendiri.
"Kamu ketemu kapan? Di mana?" tanya Pak Adit.
"Kemarin. Di TPU Menteng."
Pak Adit mengangguk pelan. "Informasinya akurat. Intinya Rangga udah meninggal lama sekali. Dia bilang sesuatu ke kamu?"
Mira jadi was-was sama perkataan Rangga. Katanya ia akan menabur lebih banyak bunga.
__ADS_1
"Rangga cuma memperkenalkan diri sebagai alumni," jawab Mira masih tidak menyangka.
Siapakah selanjutnya?