
Sepulang sekolah mereka langsung tancap gas ke rumah Zafran.
Zafran duduk di depan bersama sopirnya. Mira, Jefri, dan Irlan duduk di tengah. Dewi dan Surya di belakang.
Mereka menyibukkan diri dengan ponsel. Mau ngobrol pun bahas apa? Di kelas, kantin, lapangan, dan belajar pun selalu mengobrol.
"Itu mba sama mas di sebelahnya adik kakak atau kembar?"
Pertanyaan Pak Kim menuai kerutan dahi mereka semua.
"Yang mana? Tengah apa belakang?" jawab Zafran menunjuk antara Jefri dan Mira, atau Dewi dan Surya.
"Tengah."
Mira tersenyum sampai matanya sipit. "Kita sepupuan, Pak. Bapak kita berdua yang kakak adik."
"Oh begitu."
Zafran bilang, "Pak Kim, saya juga pertama ngira mereka kembar. Tapi pas udah kenal langsung, ah gak mungkin deh."
"Kim?" Bola mata Dewi bergerak ke atas mengingat nama artis kesayangannya. "Kim Nam Gil, Kim Rae Won? Kim siapa nih?"
"Kimidri, neng."
"Ealah, Bapak. Kirain nama ala korea gitu.. " Dewi sih tidak berekspektasi tinggi. Bercanda semata.
"Pikiran lo koreaaa mulu. Kita lahir dan hidup di Indonesia!" cetus Surya.
Dewi menatap sinis orang yang selalu marah tiap dia sebut apa pun tentang Korea Selatan gara-gara cemburu saat teleponan Dewi mengakhiri panggilan demi maraton drama.
"Iri, lo gak lebih ganteng dari Ahjussi Rae Won?"
"Halah, si Rawon emang tau lo hidup?"
"Ih lo bener-bener ya."
"Bener dong. Lo nge-fans tapi dia tau gak lo bernapas? Gak tau, kan?"
"Gak bisa gue debat sama orang julid." Dewi mengalah sebab malu ada orang tua yang mendengar perdebatan tak bermutu mereka.
Harusnya kalau cinta rela mengalah. Masalahnya Surya selalu menganggap mengalah itu sama dengan kalah menggunakan bahasa halus.
"Lagu nasional gak apal, lagu ost drama apal semua sampe kamar mandi dinyanyiin. Ckckck."
"Udah ... Jangan buka aib gue sebelum gue tendang ke luar mobil... "
Dewi bersumpah tak akan menahan diri lagi meskipun ada Pak Kim atau teman-teman yang setia mendengarkan keributan mereka.
Surya dipastikan menyesal jika bicara lagi.
"Surya. Pernah ditabok Dewi?" tanya Zafran.
"Tulang doang tapi sakit, bro."
"Dewi kalau nabok pakai tenaga dalam ya, Dew?" Zafran mungkin minta ditimpuk sepatu dari belakang.
"Gue jadi pengen nabok mulut lo berdua biar hening."
Para lelaki memilih diam tidak ingin mulut mereka mencong akibat dislepet Dewi.
Kapan lingkaran pertemanan mereka khususnya Surya, Irlan, dan Zafran bisa anteng seperti Jefri. Ahh, itu mustahil.
Tiba di kediaman Zafran satu per satu turun dari mobil.
Pak Kim tetap lanjut jalan usai menurunkan mereka untuk memakirkan mobil di garasi.
"Anjrit! Istana ini mah!" pekik Surya.
Leher Mira bahkan sampai mentok lihat ke atap rumah Zafran. Lebih tinggi dari rumah Irlan. Ada berapa lantai di dalamnya. Tiga kah?
"Bangga punya temen orang kaya." Dewi menepuk-nepuk lengan Zafran.
"Jangan nabok." Zafran menghindar tetap sakit ditepuk Dewi. "Ayo masuk."
Mereka naik lima tangga untuk mencapai pintu utama rumah Zafran. Pintu pun telah dibuka lebar sebagai sambutan anak-anak.
"Lebih tenang dari biasanya."
Mira dari tadi memang nempel Jefri. Orang lain mungkin tidak dengar karena mereka ada di paling belakang, tapi dia dengar yang Jefri ucapkan begitu memasuki ruang utama.
Lantai marmer mengkilap serta atap berwarna keemasan menjadikan kesan mewah isi dan perabotan pendukung.
"Tenang gimana?"
Jefri mengalihkan ucapan barusan. "Gapapa. Cuma perasaan."
__ADS_1
Tetapi memang tidak banyak entitas tak terlihat seliweran di sini. Seperti yang Mira ketahui, makin besar rumah dan sedikit penghuni maka potensi ditempati makhluk astral pun tinggi.
"Jangan-jangan ngumpet kayak di rumah Irlan, Jef." Mira teringat hantu air di dalam kolam renang rumah Irlan.
Mana Jefri tidak jawab, cuma lihat-lihat sekitar.
"Kalian udah sampai."
Orang tua Zafran berdiri dari kursi menyambut mereka dengan semangat.
Mereka kembali membalas mereka dengan senyum hangat.
Hardinata Raih Kusuma, panggilan akrabnya Hardi merupakan ayah kandung Zafran.
Badannya tegap, berisi, tinggi, berasal dari suku jawa. Sebelum punya rumah di Jakarta beliau lahir dan tumbuh di Kabupaten Batang.
Kebetulan merantau ke Jakarta setelah lulus sarjana dan menikah dengan Gina, istrinya hingga sekarang dikaruniai satu anak.
"Kalian duduk aja," bisik Zafran.
"Tunggu. Kok sedikit banget? Teman kamu cuma lima, Zafran?" tanya Hardi.
Dalam hati Dewi spontan menjawab siapa yang mau berteman dengan orang hobi kesurupan.
Mereka duduk di kursi yang telah diincar saling berdekatan supaya tidak canggung.
"Ya. Lima pun banyak, lebih dari satu."
"Kamu pasti Mira dan Jefri. Om diperlihatkan foto kalian dari Zafran. Ternyata sepupuan."
Mira tersenyum malu sudah dikenal oleh Hardinata. Jefri tidak lebih memahami seberapa Zafran menggemari mereka sampai disebut dua pahlawan yang telah membantunya.
"Tante cantik banget," puji Dewi.
Gina tersipu. "Makasih, loh ... Kamu gak kalah cantik dari tante, masih muda lagi."
Dewi tertawa malu mendapat pujiann balik. "Gak cantik-cantik banget, Tan."
Surya mencondongkan tubuh ke samping Dewi kemudian bicara pelan. "Lo gak lagi menjilat emaknya Japran kan, Dew?"
Dewi mencubit paha Surya. "Jangan ikut campur urusan cewek."
Cubitan Dewi cukup membungkam mulut Surya.
Mereka sudah disiapkan nasi di piring masing-masing, tinggal mengambil lauk pauk sendiri.
Mira kebelet pipis. Dia menyahuti Dewi supaya menemani ke kamar mandi.
"Zafran, toilet di mana?" tanya Mira.
"Di sana. Mau gue anter?"
Jelas mereka menatap Zafran aneh. Mana ada malunya menawarkan diri mengantar perempuan ke toilet.
"Sama Dewi lah!"
Dewi berkata, "Tunjuk jalannya. Gue pembaca denah yang baik, gak bakal nyasar."
"Alah nyasar pas cari jejak di hutan nangis di bawah pohon beringin.. " ledek Surya.
"Surya... " Dewi menunjukkan kepalan tangan.
"Ada di belakang sih.. " Hardi menunjuk lorong lebar terang di sisi kiri ruang makan.
Mira dan Dewi bergandengan ke koridor yang ditunjuk ayah Zafran.
Perkara panggilan alam tidak kenal tempat dan waktu.
"Konglomerat asli si Zafran, Mir. Rumah segede gaban gini impian semua anak .. gue sih betah di rumah daripada hangout."
"Kalau sepi percuma."
Mereka temukan pintu bertuliskan toilet dan masuk bersama.
Mira masuk lagi ke pintu yang di dalamnya ada kloset. Dewi menunggu di wastafel sambil bercermin.
"Emang ya, kaca orang kaya lebih glowing."
"Beda, Wi. Pasti itu kaca dilap sepuluh kali sehari makanya glowing buat ngaca."
"Iya kali."
Dewi mirror selfie seperti kebanyakan perempuan ketika menemukan cermin besar.
Setelah menuntaskan misi Mira ke luar mengajak Dewi kembali ke sisi mereka melanjutkan makan malam.
__ADS_1
Namun tak seperti ekspektasi ketenangan yang Mira harapkan, sekelibat bayangan hitam terlihat melintas dari cermin.
"Apaan tuh!" Dewi sontak merunduk melindungi kepalanya sekaligus menghindar lihat cermin.
"Ya apa, gue juga gak tau!"
"Takut, Mir! Masih lewat-lewat?" Dewi panik.
Mira memberanikan diri menoleh ke cermin dan melihat apakah bayangan hitam itu dari dalam cermin atau lewat dari belakang mereka.
Semakin dekat...
Semakin dekat Mira melihat wajahnya...
Brakk!
Cermin toilet retak dari dalam dan mengerikannya ada wajah gosong nenek tua tersenyum tanpa gigi dan mata.
"Huaaa!" Mira berteriak.
Dewi ikut teriak. "Kenapaa, Miraa! Ada apa woi!" Dia bangun dan melihat cermin pula. "Suryaaa!"
"Jefrii! Jefrii!"
Dari ruang makan terdengar teriakan heboh dari belakang.
"Mereka kenapa tuh?" Surya berdiri lantaran namanya diteriaki Dewi sampai seratus desibel.
Zafran baru mau ke sana mengajak Jefri. "Samperin deh, Jef- eh? Dah pergi duluan."
Zafran mengikuti Jefri yang tidak tahu toilet di sebelah mana.
Surya menahan Gina dan Irlan menghadang Hardi yang mau melihat ke sana juga.
"Tante sama Om duduk aja tunggu mereka balik," kata Irlan.
"Mereka teriak kenapa? Om takut ada apa-apa."
"Gapapa, Om." Surya tersenyum yakin.
"Iya, Tante mau ikut cek."
"Biasa cewek kan emang heboh.. Paling ada kecoa apa belalang terbang," ujar Surya.
"Ngaco kamu. Mana ada kecoa di sini, apalagi belalang." Gina menangkis ucapan Surya.
"Lo pikir rumah Zafran di tengah sawah!" sahut Irlan melotot.
"Ya kan mewah, mepet sawah."
Irlan tersenyum pada mereka. "Maafin temen saya ya, Om, Tante. Omongannya keseringan frontal."
Mereka sudah diwanti-wanti bahwa orang tua Zafran tidak percaya dengan hal-hal mistis.
Zafran pun memberitahu Mira dan Jefri jika melihat atau merasakan sesuatu yang buruk bisa dikatakan sesudah makan malam.
Namun sepertinya penghuni tak kasat mata di sana lebih dulu mengganggu Mira.
"Buka pintunya, Dew!"
Dewi berusaha membuka kunci dalam toilet tapi kesulitan karena panik.
"Sabar! Ini kunci modelnya gimana sih susah banget dibuka!"
Bak hendak menembus cermin, sosok nenek itu mengulurkan tangan hendak meraih wajah Mira.
Mira mencak-mencak ketakutan. "Coba gue buka!"
Mira tarik Dewi supaya bergeser. Gantian Dewi yang histeris.
"Bisa gak sih!"
"Anjrit, lo ngunci pintunya gimana tadi!"
"Aduh, gue lupa!"
"Gue sering bilang tiap ke toilet gak usah kunci pintu! Gini kan jadinya!"
"Jangan salahin gue!"
"Terus gue yang salah!"
Mira dan Dewi melihat cermin bersamaan.
Nenek menyeramkan tersebut berkata, "Kaliaaann telah masuk perangkapkuu. Hihihi!"
__ADS_1