
Dalam kelas Mira berusaha menghindari kontak mata dengan siswi berseragam lusuh terdapat noda bercak darah duduk di belakang Zafran yang ikut mengamati Pak Ilman menerangkan materi.
Zafran serius melihat setiap gerak-gerik Pak Ilman supaya tidak lengah.
Dewi tahu Mira anak yang rajin belajar, tapi kalau Zafran mendadak jadi pendengar materi yang baik dia rada ragu keadaan mentalnya normal.
Aneh saja dia duduk tegap, tangan dilipat di atas meja dan tiap ditanya Pak Ilman selalu bisa jawab.
Biasanya tidak bisa duduk diam, colak-colek Mira sekadar iseng atau nyontek. Boro-boro nyimak materi.
Ketika jam Pak Ilman selesai baru Dewi menutup buku tulisnya sembari duduk menyerong.
"Ada apa ini? Zafran yang gak pernah serius belajar berubah drastis dalam dua jam."
Zafran sibuk mencoret-coret buku dan terpaksa menjawab, "Di belakang gue ada mbak-mbak muanise puolll."
"Eh, eh, coba baca." Mira memberi Zafran lipatan kertas.
Zafran buka isinya. Dewi turut melihat.
"Apa itu?" tanya sosok di belakang Zafran rupanya ikut mengintip dari celah antara dia dan Dewi.
"Kosong, njir!"
Zafran kelupaan nengok ke Dewi tapi tatap mata si sosok hantu siswi lusuh itu walaupun curi pandang ke Mira.
Mira geleng-geleng kepala, mau heran tapi Zafran.
"Kenapa kosong, Mira?" Dewi membolak-balikkan kertas.
Zafran nyeletuk, "Ya sama kayak otak lo, Dewi. Kosong."
"Sembarangan!"
"Aku tau kalian bisa liat aku," kata hantunya lagi tertuju pada Zafran dan Mira yang salah tingkah menatap satu sama lain.
"Heh, Mira. Lo udah diperingatin sama Jefri jangan sampe suka sama Zafran. Malah senyam-senyum begitu. Gue bilangin Jefri ya kalian," sungut Dewi menunjuk mereka.
Dewi lebih seperti mengancam mereka sebenarnya.
Jelas tidak setuju Dewi jika Mira yang baik hati dan tidak sombong terlibat perasaan khusus dengan Zafran yang hobi kesurupan dan absurd.
Si hantu berpindah muncul dari belakang Mira.
"Siapa Jefri? Aku dengar dia disegani hantu di sini."
Mira kaget menoleh ke belakang bertepatan dengan adanya Jefri namun hantu tadi lenyap seketika.
Tangan Jefri menyodorkan botol minum Mira yang tertinggal di jok motor sebelum lari menghampiri Dewi.
Mira cuma sempat menerima botol minumnya dan bilang terima kasih.
"Lo selalu narik hantu dari penjuru arah ke sekolah. Dosa apa yang lo buat, hah?" tanya Jefri kasihan.
"Gue?" Zafran tak sadar.
"Jangan buat gue dateng ke kelas pas jam pelajaran lagi," imbuhnya kepada Mira.
Jefri kembali ke kelas usai menyelesaikan kepentingan di kelas 11B.
Dewi cukup heran dengan sikap dan ucapan Jefri. "Tuh orang selalu ngegantung kalau ngomong. Bertindak pun antara niat dan nggak. Kek semuanya dipaksakan gitu, lho."
Zafran mengelak. "Perasaan lo aja kali, Dew."
Mira membuka tutup botol, begitu lihat isinya bukan air putih melainkan es jeruk dia kaget.
Jefri memang di luar dugaan.
__ADS_1
***
Jeda istirahat dengan jam tambahan terasa lama sebab sore hari waktu bergerak cepat daripada pagi.
Selagi menunggu mie ayam spesial jadi, di sebelah Mira ada Surya membeli makanan yang sama.
"Jepri punya gebetan baru, udah tau belum?"
Mira tak begitu peduli awalnya. "Gak tau. Jefri gak pernah cerita."
"Cewek kelas 11D, namanya Indri."
Mira diam tapi ekspresinya lain dari sebelum ini. Hatinya kesal tapi pikirannya menyangkal.
Sesudah menerima mangkuk mie ayam Mira melempar tatapan sinis kemudian berbalik ke meja.
Bersama Dewi dan Irlan. Zafran tidur di kelas, Jefri bilang nanti menyusul.
Dewi dan Irlan lagi ketawa bahas sesuatu mendadak senyap merasakan hawa Mira datang.
"Muka lo napa, Mir?" Irlan bertanya dahulu.
Surya bawa nampan ke meja mereka. Ada mie ayam untuknya sendiri dan dua batagor buat Dewi sama Irlan, mereka berempat bawa minum masing-masing.
Sambal, saos, kecap, Mira tambahin ke atas mie ayam terus diaduk-aduk belum rata pun dilahap mirip orang kelaparan.
Irlan makan pun tak tenang menyaksikan Mira menyantap rakus begitu.
Dewi meletakkan lagi garpu yang hampir masuk ke mulutnya. "Ada apa, Mira sayangku?" Dia rayu sahabatnya yang berwajah masam.
Dengan tatapan ke arah Surya, Dewi menepuk tangan pacarnya.
"Kenapa Mira ngambek, Sur?"
Surya mengunyah dengan nyaman. "Gue cuma kasih tau, Jepri ngegebet Indri."
"Ck, kelas 11D. Indri yang rambut panjang pirang pake kacamata."
Irlan tahu Indri. "Dikenalin lo?"
"Nggak. Mereka kenal sendiri. Pas olahraga kelas gue selesai Jepri nemu hape di kursi deket lapangan, punya Indri. Akhirnya kenalan mungkin jadi deket."
Surya mengambil tisu dan mengelap asal sekitar mulut Mira yang belepotan kena kuah.
"Gak keselek makan segaban?" tanya Dewi.
Irlan menambahkan, "Setahu gue, Indri baik-baik aja reputasinya."
Surya mendongak. "Kan, nempel mereka berdua."
Indri itu manis, tidak bosan dilihat wajahnya. Dia mengikuti Jefri di belakang mendekati meja mereka.
"Gue- "
Baru Jefri ngomong, Mira langsung menatap Jefri tanpa ampun sambil tetap mengunyah.
Jefri lihat miris. Dia mengusap wajah Mira yang perlu dikondisikan.
"Apa?" sahut Jefri menaikkan alis bersamaan.
Gadis itu hanya melirik Indri.
"Lagi PMS?" Jefri kurang sreg Mira badmood.
"Udah lewat!" ketus Mira.
"Kenapa merengut ngelirik gue sinis gitu? Punya masalah sama gue? Gara-gara air putih diganti es jeruk?"
__ADS_1
Mereka menunggu jawaban Mira. Pertengkaran keduanya telah lama dinantikan dan baru akan terjadi hari ini.
"Bukan."
"Nanti lo pulang sama Awan," pungkas Jefri. "Gue ada janji sama Indri pulang sekolah."
"Mau mejeng ya lo berdua?"
Antusiasme mereka hilang setelah Mira menundukkan kepala sembari memegang dada kirinya.
Irlan beringsut bangun memeriksa Mira. "Lo sakit, Mira?"
Jefri ikut menanyakan hal serupa. "Sakit kenapa lagi?"
Di pendengaran Mira terselip nada kesal Jefri bertanya.
Jefri baru mau menyingkirkan tangan Mira, gadis itu langsung mengerjap menahan rasa sakit yang menyerang dadanya barusan.
"Gapapa."
"Serius gak apa-apa?" Dewi khawatir.
"Bisa tiba-tiba gitu sih," heran Surya.
Merasa Jefri belum pergi dari belakangnya, Mira menoleh.
"Iya nanti gue pulang sama Awan. Cuma itu, kan?"
Jefri dan Indri saling tatap.
"Kalau Mira sakit, kita bisa tunda lain kali kok." Indri tidak masalah hari ini batal.
"Lo pikir gue berpenyakitan parah? Mau pergi, pergi aja."
Jawaban Mira membuat Jefri tak enak hati dengan Indri.
Mira sadar perkataannya sangat ketus, tapi dia masih baik-baik saja dan tidak mau menghalangi kepentingan mereka.
Dewi, Surya, dan Irlan ingin tahu alasan Mira sensitif di depan Jefri. Selama ini mereka akur-akur saja.
"Dia bilang gapapa, gak usah khawatir."
Jefri pula menganggap Mira tidak bermasalah. Akalnya memungkinkan Mira sedang badmood sebelum ke kantin jadi masih terbawa emosi.
"Okay." Indri lega jika mereka saling memberitahu.
Mira terus melihat mereka berjalan beriringan. Ingin rasanya mencobak-cabik Indri. Pulang sama Awan sama dengan uji nyali jalanan.
Awan sering ngebut, beda sama Jefri yang hati-hati.
"Gue sama Dewi duluan ke kelas ya," kata Surya.
"Gapapa, kan?" tanya Dewi pada mereka.
"Banyak kata gapapa ya hari ini," colek Irlan. "Duluan aja."
Mira akhirnya menempuh jalur lain. "Lan, boleh mampir ke rumah lo gak pulang sekolah?"
"Ngapain? Dadakan lagi."
"Gue gak aman dibonceng Awan. Kalau sama lo kan naik mobil, hehe."
"Bukan anterin ke rumah lo tapi mau ke rumah gue?" tanya Irlan sekali lagi memastikan tujuan Mira.
"Gue mau minta anterin, tapi rumah kita kan beda arah. Mending gue main ke rumah lo sambil nunggu urusan Jefri sama Indri selesai, baru deh gue minta Jefri jemput."
"Akal-akalan cewek kadang kreatif," timpal Irlan. "Yaudah boleh."
__ADS_1
Irlan senang Mira mau berkunjung ke rumah.