Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Pasti Ada Penyesalan


__ADS_3

Banyak makhluk astral berkeliaran sepanjang jalan menuju rumah Gilang. Hal seperti ini bisa dibilang biasa atau tidak biasa.


"Fokus, fokus."


Surya berniat pindah dari sebelah Zafran. Zafran terus berbicara omong kosong sendiri.


"Jangan kesurupan di rumah orang!"


Mereka sangat melarang Zafran membiarkan satu dari hantu memasuki tubuhnya.


"Gue kayaknya tunggu dari sini." Zafran berhenti sendiri.


"Lah?" Surya ikut berhenti.


"Gue bakal jaga dia," ucap Awan.


Zafran tersenyum beban. Ah, terlalu banyak yang mendekat. Ia ragu bisa menahan sampai teman-temannya keluar rumah Gilang.


Bendera kuning dipasang sepanjang gang hingga rumah Gilang. Berkat Irlan mereka tiba cepat tanpa macet atau tersesat.


Beberapa kursi di depan rumah terisi tamu. Terlihat anggota keluarga sampai tetangga hadir turut mendoakan mendiang.


Zafran dan Awan ikut duduk sambil istirahat sejenak.


"Doain Gilang," kata Awan bersiap mendoakan teman mereka.


Zafran menganggukkan kepala. Akan tetapi, Awan sudah mau mulai doa mengapa dia masih celingukan bak orang bingung?


"Doa sekarang."


"Sebenernya gue gak tau kudu baca apaan," jawab Zafran agak malu. Dia memang orang kota sekali.

__ADS_1


Awan mengasihaninya. "Terus gimana kalau nanti orang tua lo meninggal?" sarkasnya kemudian membuka tas untuk memberi tuntunan tahlil. Dia ambil dari loker, dibawa tiap hari.


Zafran menggaruk kepala tersenyum tipis. "Kayaknya gue dengerin lo berdoa. Lebih cepet."


"Anjir," desis Awan. Baru dengar orang disuruh doa malah nyuruh orang lain, tapi sendirinya cuma mendengarkan. "Ciri-ciri anak durhaka."


"Ajarin ya."


"Katanya pinter. Baca bentar sehari paling hafal."


Sementara yang sudah masuk rumah Gilang melihat suasana duka lebih dalam. Wanita berusia sekitar empat puluh tahun duduk bersimpuh di sebelah jasad Gilang menangis sesegukan disaat doa warga mengiringinya.


"Permisi." Irlan bertemu adik dari ibu Gilang.


Beliau berdiri dekat pintu memegang gumpalan tisu untuk menyeka air mata. Melihat seragam mereka sama dengan milik keponakannya, beliau menyuruh mereka masuk dan duduk di sudut lain.


"Kalian teman-teman Gilang, silakan duduk."


Irlan mematung sekian detik ke arah tubuh yang diselimuti kain putih. Kemarin Gilang masih tertawa, kini dia terbaring tanpa nyawa.


"Dew, Dew. Sumpah mata gue salah liat geh!" Surya baru duduk sudah heboh.


"Apaan?" Dewi berbisik menghormati ada banyak orang di sini.


Surya menunjuk lorong rumah yang sepertinya mengarah ke dapur atau kamar mandi. "Gue liat bocil seliweran."


Segera Dewi cubit paha pria itu agar tutup mulut. "Ngomongnya nanti pas pulang." Jangan malu-maluin mereka kek.


Jefri lihat Gilang. Posisi Gilang tepat di sebelah ibunya. Dia hanya diam melihat sang ibu menangis. Teruntuk arwah baru, sering terjadi mereka lupa alasan mati.


Irlan mengatakan, "Kami dari perwakilan kelas sangat berduka atas meninggalnya Gilang, Bu."

__ADS_1


"Kami berterima kasih kalian udah jauh-jauh ke sini. Jujur sebagai keluarga dekat kami kaget, nak. Ibunya bahkan pingsan lima kali."


Sebut saja Bulek Tini. Beliau kembali menjelaskan bahwa Gilang ditemukan meninggal di kamarnya dalam keadaan duduk di meja belajar.


Surya membatin, benar dia tidak begitu rajin belajar. Terlalu giat belajar mengakibatkan depresi dan berpotensi meninggal mendadak kayak Gilang.


"Gilang bukan tipe yang giat belajar walaupun nilainya di atas rata-rata, Bu." Dewi menceletuk. Aneh saja baginya.


Bulek Tini melihat mereka bingung. Mungkin karena Dewi blak-blakan.


"Jangan sompral," omel Irlan di telinga Dewi.


Jefri langsung bertanya, "Ada sesuatu yang aneh dari Gilang akhir-akhir ini, Bu?"


Irlan tepuk jidat. Teman-temannya sangat cepat dalam mengajukan pertanyaan di tengah duka. Apa ini yang terbaik?, batinnya.


Sementara anggota keluarga Gilang yang lain sibuk mengurus satu per satu tamu yang datang.


Irlan mengalihkan mata ke pintu tepat di mana Zafran masuk dengan langkah lunglai serta tatapan kosong menuju jasad Gilang.


Irlan belum mengatakan apa pun. Jefri menengok ke belakang mengamati pergerakan Zafran.


Dewi ikut berputar mendapati Zafran masuk rumah. Surya heran, katanya dia tunggu di luar saja karena takut kesurupan.


Awan habis mengejar Zafran. Dia beradu mata dengan teman-temannya sambil mengatur nafas.


Awan cuma tinggalkan Zafran sebentar sebab ada gerobak es tung-tung lewat depan gang namun saat kembali bocah itu sudah tidak ada di kursi. Untung bayangan tasnya kelihatan lewat jendela pas Zafran masuk rumah Gilang.


Mira berdiri masih diam mencerna apa yang terjadi pada Zafran. Jefri dan Awan hanya saling tatap telah mengetahui.


Gilang sama sekali tidak meninggalkan ibunya. Gilang berada di tempat awal.

__ADS_1


Kemudian Gilang merengkuh tubuh ibunya dengan segenap penyesalan dalam hati.


Maksud mereka adalah Gilang ... merasuki tubuh Zafran.


__ADS_2