
"Gue rasa temen lo udah gila ngajak setan ke mall," cibir Awan tengah beriringan dengan seseorang.
"Tumben lo mau diajak pergi," ujar Irlan. Kebetulan senggang punya waktu banyak selagi hari libur.
Mereka bertiga dipaksa menemani Mira ke mall mencari kesenangan dengan berbelanja.
"Dia ngajak Fani?" Giliran Irlan bertanya.
"Bukan. Ada yang baru."
"Siapa?"
Mereka berdua berhenti di depan toko pakaian. Selagi Awan melihat Mira mencocokkan baju di cermin, dia menyebut Sanjaya.
"Sanjaya? Gue baru denger."
"Gue pun baru tau." Sungguh Awan pasrah memandang kegilaan sepupunya. "Ngapain ngajak dia coba belanja kemari? Nyusahin gue aja." Dia mengajak Irlan masuk untuk mengeluarkan Mira dari mall.
"Sanjaya... " Irlan bergumam tidak mengetahui informasi apa-apa.
Awan menggandeng tangan Mira ke luar. "Gue mau ngomong sebentar."
"Eh, eh. Kenapa sih?" Mira menggantung baju lalu mengikuti pria yang menariknya. "Awan! Ada apaan?"
Sesampainya di lobi, ada Irlan juga di belakang Mira. Mereka bertiga saling tatap bergantian.
"Jangan menyakitinya," ujar Sanjaya.
Irlan memisahkan tangan Awan dari Mira. "Jangan tarik dia begitu."
Mira cukup senang dibela mereka berdua. "Sakit tau!"
"Gue mau ngobrol sama Mira. Lo bisa pergi dari sini?"
Awan mengusir Sanjaya, namun Irlan merasa dia bicara padanya.
"Gue?"
"Bukan lo," imbuh Awan.
Sanjaya pergi membiarkan mereka menyelesaikan sendiri.
"Lo gila ngajak Sanjaya ke sini?" Awan langsung memarahinya.
"Gue gak ajak dia. Dia yang nawarin diri buat ikut. Menurut gue gak salah kok!"
"Gak salah dari mana? Kita gak tau apa tujuan dia deket-deket lo. Lo percaya dia baik?"
Mira berusaha menepis kecurigaan Awan. "Jefri baik. Sanjaya pasti baik juga."
"Bukan karena muka mereka sama, sifat mereka juga sama. Lo sadar dia bukan manusia!"
Irlan menyadari orang yang lalu lalang sempat menoleh ketika Awan meninggikan suara tepat di kalimat "Dia bukan manusia" .
"Pelanin suara lo. Ada banyak orang di sini. Kita obrolin di tempat sepi," pinta Irlan.
"Ck. Jalan."
Awan hendak meraih tangan Mira lagi, namun Mira menghindar dan memilih menggandeng Irlan.
"Lo jalan duluan. Gue sama Irlan di belakang."
"Ribet amat lo jadi cewek!"
"Awan kok jadi emosian sih?" lirih Mira bertanya-tanya. Sebelumnya temperamen dia tidak separah Juan. Mengapa sekarang kebalikan?
"Dia begitu semenjak lo mati suri di hutan," ujar Irlan pelan.
Mira mencubit pinggang pria itu. "Udah dibilangin gue gak mati suri. Cuma pingsan."
"Pingsannya lo lewat alam lain, anjir."
"Sekarang gimana? Gue takut Awan marah lagi."
"Dengerin aja dulu. Ada gue, dia gak bakal berani bentak."
"Siapa yang jamin?"
Irlan memasang tampang polos. "Gue?"
"Ini tempat yang lumayan sepi." Awan menuntun mereka ke lahan parkir motor. Selain motor berjejer, jarang orang lewat.
__ADS_1
"Panas, Wan." Mira usaha menghindari Awan dengan memutar badan.
"Diem di tempat."
"Oke .." Dia siap diceramahi mumpung bukan sama Jefri atau mamanya.
Awan memasukkan tangan ke saku jaket dan mulai bicara. "Jangan terlalu baik sama Sanjaya sampai dia ceritain semua. Jefri juga gak izinin dia kalau buat lo dalam bahaya."
"Tapi gue rasa dia bisa ngelindungi gue. Kayak Jefri."
"Jefri manusia. Sanjaya bukan. Sampai sini paham maksud gue?"
Irlan paham lebih dulu. "Lo sama Sanjaya beda dunia. Jangan samain dia sama Jefri."
"Gak tau ngapain gue di sini, njir. Lagi panas-panasnya malah ke mall ngabisin waktu."
Dasar pria sialan. Kalau mau pulang bilang saja tidak usah menyalahkan segala! Mira menggerutu sendiri.
"Lo berdua balik bareng. Gue mau mampir."
"Gue ditinggal?" Nasibnya selalu berujung tidak baik. Apa dosanya sangat banyak?
"Lo yang bikin gue tega ninggalin."
Awan menemukan motornya dengan mudah dan pergi meninggalkan tempat parkir.
"Gak guna punya sepupu!"
Irlan menutupi kepala Mira dengan satu tangannya karena matahari semakin terik.
"Mobil gue di parkiran samping sana." Irlan menunjuk sebelah kanan gedung mall yakni berlawanan dengan tempat mereka berdiri. "Panas-panasan bikin gak enak badan. Ayo balik."
"Beruntung gue punya lo, Irlan. Ditelantarin sodara sendiri, kurang ajar. Gak Jefri, Awan, Juan, tiap marah pasti ninggalin gue! Sebel banget."
Yang masuk di pendengaran Irlan adalah Mira mengandalkan dia setelah mereka.
"Panas banget sih hari ini."
Irlan membukakan pintu untuk Mira, kemudian dia masuk. "Jalan, Pak."
Sopirnya tetap berada di mobil sampai Irlan kembali. Mereka langsung menuju jalan pulang.
Irlan membuka kardus yang ada di kursi belakang. "Minum."
Matanya berbinar melihat minuman isotonik hitung-hitung mengembalikan tenaga. "Sejak kapan lo stok minuman di mobil? Makasih!"
"Dari lama." Irlan agak gugup. "Iya, udah lama."
"Lo juga minum," ucap Mira.
"Hm. Btw, Mira ... Gue mau tanya sesuatu."
Selesai meminum setengah botol Mira balik bertanya, "Tanya apa?"
"Lo sama Mirza ada peluang balikan?"
Mira tidak sakit hati lagi ketika nama itu dibahas. Berkat Awan selalu mengolok-olok matanya yang tiap bangun tidur sembab habis nangis. Sekitar tiga harian Mira biarkan Awan menertawakannya, dia balas dengan cara mengadu ke Om Pras.
Setelah itu Awan dimarahi habis-habisan. Rasakan itu.
"Gak ada." Dia yakin. "Kecuali Mirza yang ngajak gue balikan."
"Lo mau?"
"Pas mutusin gue, dia mantap banget. Buat ngajak balikan sih gak mungkin."
"Kalau ada yang deketin lo, gimana respon lo?"
Mira malah menggodanya. "Siapa? Lo?"
Sontak Irlan kaget langsung menjauh. "Bukan gue. Ya siapa kek yang berniat deketin lo."
Mira justru sadar meraih Irlan tidak mudah. Secara status sosial mereka sudah beda jauh bak bumi dan pluto.
"Belum kepikiran buat pacaran lagi."
Cukup Mirza memutuskan hubungan, meninggalkan dia di taman. Pria kejam itu bahkan tidak mengantarnya pulang sebagai teman. Malah suruh Jefri ke sana.
"Mirza percaya dia bisa menempatkan gue ke dalam bahaya. Bahkan tanpa dia hidup gue selalu berbahaya. Seenggaknya lindungi gue sampai akhir, bukan ninggalin."
"Laki-laki mikirin semua sepenuhnya pakai otak, Mir. Beda sama perempuan yang pakai perasaan."
__ADS_1
"Itu bisa dimengerti ..."
"Kita udah jarang ketemu Mirza. Kapan dia main lagi?"
"Lo aja yang chat dia."
"Mendingan lo. Kita berdua gak begitu deket."
"Apa bedanya udah jadi mantan," desis Mira. "Nanti gue kontak dia kalau gak lupa."
"Makasih."
"Pembahasan hari ini agak aneh. Lo gak deket sama Mirza tapi tumben nanya kabarnya."
"Biasa aja."
Mira lantas segera menghubungi Mirza untuk menyampaikan pesan Irlan sebelum lupa.
Bukan balasan pesan, Mirza meneleponnya.
Ekspresi Mira berubah cemas mendengar di seberang sana batuk-batuk.
"Mirza, lo sakit?"
"Sudah sampai, neng."
"Nanti gue kabarin, Lan. Makasih, Pak." Mira buru-buru keluar.
Irlan merasa mereka masih menyimpan rasa.
"Kok lo bisa batuk gitu sih? Udah periksa ke dokter belum?"
Samar-samar namun jelas Irlan mendengar kekhawatiran Mira lewat sambungan telepon.
"Gapapa apanya. Lo sakit gak pernah mau minum obat sebelum dipaksa. Sebelum gue samperin ke Bogor ... Besok harus sembuh. Dengerin gue gak?"
"Mana ada orang sakit besok sembuh," jawab Mirza.
Mira menoleh, mobil Irlan sudah tidak ada. Cepat sekali perginya.
"Kayaknya nunggu disamperin lo deh," celetuknya.
"Gausah ngayal!"
Bertepatan dengan keluarnya Awan dan Jefri dari dalam rumah duduk-duduk di teras, panggilan mereka berakhir.
"Irlan gak mampir?" Awan basa-basi. Yang dia dapat lirikan sinis.
"Lo apain si Mira?" selidik Jefri.
"Dia emang ngambekan."
Mira baru masuk langsung mundur menatap tajam mereka.
"Tau gak persamaan lo sama Mirza?" Mira tanya Awan.
"Gak ada persamaan."
"Kalau gak niat pergi gak usah ninggalin! Lo berdua tega ninggalin gue di tempat umum!"
Awan menunduk dilihat Jefri. "Gue marah makanya milih pergi. Gak berniat ninggalin lo. Gimana kalau gue terlalu emosi? Lo bisa nangis di sana."
"Tahan emosi lo," perintah Jefri.
"Lo juga!"
Jefri tersentak turut disalahkan.
"Gara-gara Zafran, sekarang lo fokus sama dia doang! Di vila waktu itu lo gak pernah cari gue. Hari pertama Pak Ridwan yang nemenin gue balik ke kamar! Pas gue hilang di hutan lo gak cari gue!"
Tidak ada yang berani menjawab. Para pria menganggap menjawab ucapan perempuan saat marah berarti melawan.
Fani muncul tanpa diprediksi dari balik pintu. "Jangan menangisi mereka."
"Pergi lo! Muncul segala!"
Fani merengek. "Aku tidak salah apa-apa."
"Jangan kayak anak kecil. Kebiasaan muncul di saat kurang tepat. Rasain tuh diusir!" ketus Awan.
"Sabar," imbuh Jefri.
__ADS_1