
Merasa telah berakhir semua beban yang tersangkut di punggungnya, berkunjung menemui Mirza lagi Mira lakukan seorang diri. Hanya dengan melihat namanya di batu nisan sudah tidak semenyakitkan dulu.
"Maaf baru kuat sekarang." Ia menarik napas dalam-dalam menghapus air di sudut mata. "Mama ikut Pak Rudi. Udah liat belum? Mereka berencana menikah. Awalnya gue mau ikut tapi kalau jadi, gak bisa sering ke sini."
Lagian Mira terbiasa menempel Jefri. Bisa apa ia tanpanya. Bagian tersulit adalah menyingkirkan ingatan buruk saat sendirian. Energi Mirza luar biasa. Itu alasan Roni menggali kuburan dan membawa tubuhnya ke sekolah untuk benteng pertahanan. Selama hampir dua tahun tidak satu pun menyadari bahwa makam ini kosong dan kini terisi kembali.
Tuhan menunjukkan jalan untuk mereka. Waktu yang ditentukan memang lama, namun tepat saat mereka hadapi.
"Gue langsung pulang ya."
**
Mira berjalan sambil main hape di sepanjang pemakaman sampai tidak sengaja menabrak badan orang yang berlawanan arah membawa kembang dan air mawar untuk ziarah.
"Maaf, mas. Ya ampun, maaf ya." Dalam hatinya untung tidak tumpah.
Pria yang memakai topi hitam untuk menjaga kepala dan pandangan dari sinar matahari langsung mendongak setelah mundur dua langkah menjauh dari Mira.
"Gapapa kan, mas nya?"
Setelah diberi anggukan satu kali, Mira mengucapkan permisi mau lewat lagi. Belum jauh pergi, ia dengar pria itu bicara sesuatu.
"Belum selesai."
Sebagai orang yang menabrak duluan Mira jelas segera balik badan dan minta maaf lagi.
__ADS_1
"Saya minta maaf, mas!" Kalau belum selesai ngapain ngangguk tadi pas ditanya? Aneh banget.
Pria aneh juga berbalik tersenyum lebar. "Bukan tentang lo nabrak gue."
Lalu apa lagi kalau bukan itu, pikirnya kebingungan. Semakin tidak biasa orang itu kala menghampiri Mira dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
"Kedepannya lo lebih sering nabur bunga."
Kernyitan dahi Mira pasti mewakili semua orang saat mendengar perkataan omong kosongnya. Kalimat lebih sering menabur bunga langsung mengarah pada banyak orang meninggal.
"Lo kenal gue?" Mira ikut bicara nonformal.
"Gak mungkin gak kenal." Dia mengenal Mira dari banyak mulut. Tangan kirinya terangkat lurus meminta jabat tangan. "Alumni 2021 SMA BINA SATYA ... Rangga Wirsana."
Beberapa detik Rangga menarik tangannya yang tidak kunjung diterima. Lagipula niatnya datang ke pemakaman dan kebetulan menabrak gadis berpengaruh pada masanya tidak mungkin dapat ulasan positif.
"Keluarga lo cepat juga selesaiin semuanya," kata Rangga terselip nada aneh.
"Gimana?"
"Kemampuan kalian bukan main. Dari tiga jadi empat, terus lima."
"Apanya?"
Rangga menyunggingkan senyum. "Pembuka dimensi. Efek kalian berdua masuk lumayan berpengaruh sampai buka gerbang lain. Bukan buka sih, lebih tepat disebut merusak. Lagian bukan salah kalian karena gak tau apa-apa soal Bina Satya soal ngebuka gerbang lain. Masalahnya kalian terlalu membatasi Zafran. Sebetulnya Zafran gak akan kenapa-kenapa walaupun kesurupan setiap hari, itu efek mata batinnya yang sensitif. Gue dulu begitu. Alangkah baiknya kalian biarin dia, kenapa? Karena itu bentengnya lawan Roni. Johan, Hadi, Indri, bukan target Roni."
__ADS_1
Tiap kata demi kata Mira masukkan ke kepala. Rangga mengetahui segalanya.
"Semua itu bisa dicegah?"
"Gak bisa. Lo bukan Tuhan."
"Lo setahun di atas gue. Kenapa saat itu gak kasih tau lebih awal? Kita bisa cegah Roni saat itu juga!"
"Lo menyesal karena Mirza jadi korban tumbal, kan?"
"Lo tau semuanya ..."
"Dia beda dari arwah lain. Mirza gak tersesat kayak korban sebelumnya. Hal yang patut lo syukuri."
"Gue gak ngerti lagi kenapa lo cuma diem liat kita bertarung sama hal gak jelas padahal tau apa yang kita lakuin."
Rangga menatap kosong arah lain. "Karena gue cuma bisa liat saat itu."
Mira menghela napas berat. Lalu buat apa Rangga mengatakan ini sekarang. Di saat semua telah lewat menjadi masa lalu, empat orang tak bersalah meninggal dunia.
"Lo bilang gue bakal lebih sering tabur bunga. Apa ada lagi yang meninggal?"
"Hm, banyak." Rangga memberi informasi secara percuma.
"Gue udah gak bersangkutan lagi di SMA BINA SATYA."
__ADS_1
"Bukan di sana. Tapi orang sekitar lo." Rangga hanya bisa mengingatkan Mira. "Tetap waspada."
**