Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Ikut Piknik Semua


__ADS_3

"Ayo masuk bus. Berangkat lima belas menit lagi, lho!" seru Pak Adit mengarahkan anak didiknya yang masih mengobrol di emperan supaya masuk bus mencari tempat duduk.


"Tiga serangkai gak ikut nih?" Surya galau sohibnya, Jefri, tidak terlihat di perjalanan jauh yang seru ini.


Tiga serangkai yang disebut ialah Mira, Jefri, dan Awan.


Geng mereka berkumpul di satu titik tengah istirahat setelah sarapan roti bungkus dan susu kotak.


Pak Adit menyuruh mereka datang lebih awal, jangan ngaret. Berangkat jam tujuh, ternyata jalan jam delapan. Jeda satu jam gak tuh.


Irlan berusaha menghubungi Jefri barangkali berubah pikiran.


Dewi tak luput melihat kesetiaan Irlan. Dia menghela napas sudah tiga puluh kali agak kecewa Mira bisa rebahan sedangkan dia piknik disuruh orang tua.


"Mereka gak bakal ke sini, Lan. Stop ngabisin pulsa," kata Dewi pasrah.


Irlan berbalik ke mereka. "Siapa tau." Rupanya berpikir positif padahal tahu hasilnya memang kurang bermanfaat dan pening sendiri.


"Gapapa. Kursi jadi kosong," celetuk Zafran.


Mereka menyalang tajam ke arahnya, dasar tidak tahu diri.


"Lo awas kesurupan di sono, gue buang ke rawa-rawa!" cetus Surya.


"Ngeri," jawab Awan.


"Gue gak setega Surya. Tapi gak ada Jefri usahain jangan kelepasan. Gak ada yang bisa nangani lo, Zaf." Irlan turut memberi pesan sebelum berangkat.


"Kalian malah bikin gue khawatir," ujar Zafran.


"Ya makanya tau diri, njir. Jepri gak ikut bahagia. Kesurupan sampe sono nangis dah lo minta balik." Surya memalingkan wajah.


"Teman-temanku, sudah cukup ngebacotnya ya." Dewi bangkit memegang kopernya. "Ayo masuk sebelum digetok Pak Adit."


Mereka berjalan menuju bus.


Zafran mendorong Surya. "Bus lo yang itu, bego. Beda kelas."


Yang lain menoleh kaget.


"Oiya lupa, anying." Surya menunduk minta maaf lalu ke bus kelasnya.


Irlan berkata, "Cowok lo makin ke sini tambah ke sana, Dew."


"Heran gue juga," sahutnya.


"Siniin kopernya." Irlan bantu masukkan koper Dewi ke bagasi sisi samping bus.


"Thanks."


"Gue sekalian nih," sambar Zafran.


"Laki bukan? Masukin sendiri!"


"Lah. Nolong orang tanggung amat." Zafran mengangkat kopernya sendiri ke dalam bagasi.


***


Setelah melaksanakan solat subuh jamaah di rumah bersama Ratih dan Hana, Mira kembali ke kamar main ponsel sambil tiduran.


"Bersyukur banget gue bisa libur sedangkan temen-temen malah capek di jalan."


Baru mau klik tontonan drama yang semalam diunduh, Mira kaget Awan masuk kamarnya sambil geret dua koper.


"Woi, ngapain?"


Awan membuka resleting satu koper dan melangkah ke lemari Mira.


"Awan? Sehat, Wan?"

__ADS_1


Apa dia kerasukan jin yang mau mengusirnya dari rumah kakek? Tidak mungkin.


"Gak ada waktu. Buruan pilih baju sama perlengkapan yang mau dibawa. Gue mau siapin punya sendiri."


Mira turun dari ranjang mengecek dahi pria itu. "Dibawa ke mana, anjir? Ngigo ya lo?"


Jefri berdiri di depan kamar menatap mereka keheranan. "Belum beres? Cepetan, gak pake lama."


"Apanya sih?"


"Piknik," singkat Awan menepuk lengan Mira.


Mira 'ngeh' atas ucapan mereka. "Kita ikut? Sumpah?" Dia sangat antusias sampai melompat.


"Iya," imbuh Jefri berlalu bersama Awan ke kamar masing-masing.


"Demi apa ini bukan mimpi?" Mira menampar pipinya sendiri dan terasa sakit. "Okay! Waktunya bawa semua buat liburan!" Semangatnya tak tertandingi.


"Lo yang mutusin ini, tanggung jawab lo makin gede, Jef."


"Kan lo juga mikul bebannya."


"Bukan satu dua orang, tapi semua." Awan siap mengeluarkan jurus andalan di sana nanti.


"Okay!"


***


Dewi duduk dekat jendela bersebelahan sama Irlan.


"Galau amat," komennya.


Mata Dewi yang semula suntuk langsung terbuka lebar mendapati penampakan wujud Mira keluar dari taksi yang berhenti di depan gerbang sekolah.


"Halu nih?" Dia menyipitkan matanya.


Bukan halu. Ada Jefri dan Irlan turut keluar taksi bawa koper dan tas mereka bertemu Pak Adit dan Pak Ilman.


Dewi teriak-teriak panggil Mira dari dalam bus membuat orang-orang heran tapi maklum.


"Gue bilang mereka pasti berubah pikiran," gumam Irlan.


Dewi mengetuk jendela berharap Mira menoleh ke atasnya.


Zafran berdiri melongok di tengah jalan antara kursi dua dan tiga. "Alhamdulillah. Ada yang bisa dimanfaatin," lirihnya.


"Datang juga akhirnya. Segera masuk bus ya," ujar Pak Adit.


Jefri mendongakkan kepala melihat Dewi kegirangan heboh.


"Sini kopernya. Saya bantu." Guru muda itu mau bantu bawa koper Mira.


Mira melambai-lambaikan tangan pada sahabatnya.


Awan refleks merebut koper Mira. "Saya aja, Pak. Masih mampu."


"Kamu bawa koper sendiri. Gapapa saya bantu," pungkas Pak Adit.


"Saya bisa."


Mira salah fokus dengan interaksi mereka. "Mereka ngapain sih?" tanyanya ke Jefri.


Jefri pun tidak mengerti.


Kala adu tatap Awan membatin, "Gue tau lo masih muda, tapi jadiin Mira simpenan terlalu sadis. Sekarang lo carmuk? Heh!"


"Gue bisa bawa sendiri." Mira putuskan angkat koper ke bagasi sendiri tanpa bantuan mereka.


Bukan membantu justru rebutan.

__ADS_1


Mereka jalan ke pintu bus. Mira yang ada paling depan merasa aneh diikuti Awan.


Dia berbalik memberitahunya. "Kelas lo bukan di sini."


Awan tersenyum. "Gue anggota VIP di kelas lo. Tujuan kita sama." Dia memakai kacamata hitamnya penuh gaya.


"Awan biar ikut kalian," imbuh Pak Adit.


"Gue bayar dua kali lipat. Buruan naik. Mau jadi kernet lo, Mir?" seru Awan di belakang Jefri.


"Duit dari mana lo?" Mira mulai naik.


"Jasa pengusiran hantu," celetuknya.


"Dih."


"Sono lo duduk sama Zafran. Gue mau sama Mira. Sini, Mir!" Dewi mengusir Irlan dari bangku sebelahnya.


"Astaga."


Irlan mau tak mau duduk di samping Zafran.


"Gue mau ke bus sendiri. Awan aja yang di sini," kata Jefri.


Mira nunduk lihat Jefri di bawah. "Dia aja yang di kelas lo sama Surya."


"Jangan." Jefri sempat memastikan ke depannya tidak bermasalah.


Awan yang masuk bus kelas 11B dan duduk di tengah Zafran dan Irlan.


"Gue seneng seharian main bareng lo." Betapa gembira hati Dewi memeluk Mira.


Awan terkekeh sinis. "Ketawa lo sekarang, Dewi."


"Apa nih maksudnya?" beo Dewi.


"Jangan bilang yang gak enaknya. Biar mereka nikmatin pikniknya," jawab Mira.


"Gue penasaran jadi apa ini kelas."


Plak!


Zafran menoyor kepala bocah sompral itu. "Balik ke rumah aja lo ketimbang nakutin semua orang. Kita piknik cari udara seger, bukan cari setan."


"Kan lo yang dicari mereka!" sahut Awan mengusap bekas toyoran.


"Gue beruntung hari ini. Ada dua pawang yang siap membantu."


"Selama ini gue belum catat tagihan. Lo kudu bayar kita dari awal."


"Silakan. Gue gak pernah khawatir soal duit."


Dewi membuka telapak tangannya. "Wahai Zafran, gue minta jatah sejuta se bulan."


"Asal nyapu ngepel rumah."


"Gak jadi."


Mira bertanya, "Lo bawa duit berapa sekarang?"


"Sekarang? Tuh di belakang duit gue."


"Zafran bawa suruhan bapaknya. Ngikutin sampai tempat penginapan," bisik Dewi.


Pantas saja ada mobil sedan hitam di belakang bus mereka.


"Polisi," tambah Dewi.


"Ah serius?"

__ADS_1


"Iptu Ridwan. Kita pernah ketemu dia. Inget gak?"


"Apa?" Mira melotot kaget.


__ADS_2