Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Mau Pulang Malah Mogok


__ADS_3

Keberangkatan dari vila pukul sembilan malam. Semua murid kelas sebelas mulai berbenah. Sampah dibuang semua ke tempatnya.


Mereka memang enggan terlalu lama di sini. Menunggu satu hari seperti satu minggu. Ada saja masalah selama menginap. Terkadang keran dan lampu mati bergilir, kesurupan massal, dan terakhir Mira hilang.


Intinya bukan istirahat yang didapat justru gangguan aneh. Siapa yang betah?


Dewi memerhatikan Mira setiap waktu. Kalau masih hilang berarti salahnya.


"Lo mau di sini aja, Mir?"


"Gak lah."


"Terus ngapain bengong?"


"Mikirin hidup gak boleh?"


Dewi menghela napas resah. Dewi terlalu khawatir gara-gara kejadian semalam.


Mira pun ikut bingung mereka selalu bertanya dan tidak membiarkan dia melamun sebentar saja. Sejujurnya, Mira bukan melamun ke arah yang tidak baik. Dia merenung kok hidupnya begini-begini saja.


"Lo tukeran deh sama Jefri biar gak khawatirin gue mulu," kata Mira.


Dewi melirik tenang. "Lebih bagus begitu." Dia berdiri menggeret koper ke kerumunan geng pacarnya, ada Jefri juga.


Mira tak sengaja adu mata sama Awan, dia langsung mengalihkan pandangan ke Zafran dan Irlan.


"Laknat lo, Wan. Berani cuekin gue di rumah entar gue cabik-cabik muka lo," geramnya bicara sendiri.


Dewi menoel lengan Jefri. "Lo pindah di bis gue, Jef."


Surya jawab, "Sono, Jep."


Jefri mengangguk lalu duduk di samping Mira yang mau nangis.


"Awan mah ntar baikan sendiri. Gausah ditangisin."


Dari kecil selalu bersama mestinya Mira tahu Awan kalau sudah marah pasti lama.


"Gak nangis," sanggahnya mengusap sudut mata.


"Pas pulang periksa ke rumah sakit. Gue denger semuanya dari Dewi. Katanya lo sempet gak napas selagi pingsan," ujar Jefri.


Jefri bilang pingsan, kan?


Betul, kan? Dia tidak mati suri.


"Gue gak tau pingsan di mana. Ngerasanya nih ya, gue tuh tetep sadar pas jalan masuk ger- "


"Ayo masuk anak-anak! Mau pulang gak nih!" Suara teriakan Pak Ilman menggerakkan mereka bangkit dari duduk santai dan naik bus ke kursi yang diduduki saat berangkat.


"Pulang dong!"


"Bapak aja barangkali mau stay di sini, Pak!"


"Ngejawab lagi kamu! Buruan duduk!"


"Cepetan bangun." Jefri naik duluan ke bus.


Mira mendesah, memang bukan waktunya dia cerita ke mana perginya malam itu sampai tiba-tiba bangun dikelilingi tangisan Dewi, Awan, dan Zafran.


Disangka mati suri pula.

__ADS_1


"Gue mau tidur. Mumpung otw malem," ujar Zafran.


"Tidur sampe mabok dah lo," timpal Irlan.


Grek! Grek!


"Woi kenapa nih?"


Bus yang ditumpangi kelas 11G tersendat dan mati mesin. Beruntung sopir menepi dari tengah jalan, bus-bus di belakang maju duluan.


**


Dewi memukul badan Surya. "Bangun. Itu bisnya Mira mogok."


"Iya gue liat. Terus gimana?"


"Perasaan gue gak enak."


"Lo gak solat makanya berprasangka buruk mulu."


"Kita berdua turun di depan, Sur. Bareng mereka," kata Dewi tanpa menunggu persetujuan Surya minta turun ke sopir bus dan join ke bus belakang. "Pak, saya mau ke bus belakang berhenti ya."


"Lho, bus itu mogok kayaknya, neng."


"Gapapa, Pak. Saya mau bareng temen aja."


Pak Ilman yang duduk dekat jendela bertanya, "Kamu mau turun?"


"Yoi, Pak." Dewi sama sekali tidak ragu. Daripada sampai Jakarta hatinya mengganjal, mendingan dia ikut tunggu sampai busnya normal.


Surya capek putar balik jalan kaki, tapi Dewi terus menyuruhnya lebih cepat.


"Masa kalah sama gue!"


"Udah malem jangan teriak-teriak!"


"Lo sama."


Dewi mematung tunggu Surya dekat, baru mereka beriringan.


"Lo tau gak kenapa gue nyuruh cepetan?" tanya Dewi.


"Jawab aja, gak usah nanya."


"Lo liat nih kanan kiri kita gelap banget. Pohonnya gede tinggi lagi."


"Gak ngomong juga gue paham, Dewi. Ini nih yang gue gak suka, lo dikasih cobaan malah dicobain."


"Banyak bacot lo. Buruan jalannya ah!"


Dewi menarik leher Surya berlari di saat hampir dekat.


"Mira, masih lama?"


"Eh!" Mira kaget lah ada suara Dewi dari belakang.


"Lah, lo ngapain di sini?" Zafran senyum meledek ada Surya datang. "Bespren gak tuh nyamperin kita, Lan."


Irlan melihat tidak ada bus yang berhenti di depan mereka. "Lo ke sini jalan dari depan?"


"Si Dewi anjim emang," cecar Surya memukul angin. Matanya memindai situasi sekitar dan terpaku dengan pemandangan tak biasa.

__ADS_1


Paham siapa yang dilihatnya, Irlan menyuruh abaikan saja.


"Buset." Surya mendekat ke Awan yang santai sekali bersandar di bawah pohon sambil minum kaleng cola. "Gue kira lo di bis gue, Wan!" serunya setelah mengingat-ingat.


"Ngapain di bis lo? Sodara gue di sini semua."


"Anjir."


"Masih lama gak?" Dewi tanya lagi.


"Gak tau. Bilangnya sih dua jam."


"Sini duduk." Dewi capek jalan, akhirnya duduk di sebelah Awan.


Awan membiarkan mereka duduk di dekatnya. "Lo nelpon siapa, Jef?"


"Bapak lo," celetuk Jefri.


"Ngapain?" Giliran Mira belum nyambung.


"Gue bisa nunggu lama di sini. Gak buat lo bertiga ya," cetusnya rada ngotot menunjuk Zafran, Mira, dan Awan.


"Gue?" Awan belagak polos.


"Apa gue bilang, Dew? Harusnya gak ke sini nih kita. Ada si Japran, kang kesurupan. Tempatnya berpotensi besar gini lagi." Surya menyesal ikut turun.


"Ya udah sana lo pulang sendiri!" usir Dewi muak. "Baru handle satu orang ngeluh mulu. Gue nih, ada dua manusia beban!"


"Beban? Astagfirullah, Dewi mulutmu sangat berbisa." Zafran mengusap dada dibilang beban.


Dewi menunjuk Zafran. "Awas lo ya. Jangan ngelamun!" Dia menunjuk Mira pula. "Lo juga. Liat apa-apa langsung bilang Jefri noh!"


Mira mengangguk patuh. "Jangan marah-marah."


"Akhirnya ada yang gak tahan selain gue," gumam Jefri.


Pak Ridwan bersama Pak Adit berkumpul dengan yang lain di satu titik tanpa mereka.


"Gabung ke sana yuk," ajak Dewi.


Jefri mundur dua langkah kemudian membungkuk, melihat ke kolong bus lalu menatap Awan yang tersenyum mengartikan sesuatu.


"Kenapa lagi ... Gue baru dateng ini," ucap Dewi merinding.


Mira berdiri memukuli punggung Jefri. "Lo ngapain ngelongok ke kolong, hah? Sengaja?"


"Sakit! Gak sengaja."


Awan menyaksikan di posisi nyamannya.


Surya menempel ke Dewi.


"Lo berdua ..." Mira melirik tajam efri dan Awan. "Duduk anteng gak usah mancing yang lain dateng."


"Cerewet," cibir Awan.


Mira sengaja menyandung kaki Awan. "Gak usah ngomong sama gue."


Awan kesakitan mengusap tulang keringnya.


Jefri berpikir. "Kalau duduk bukannya tambah jelas liat yang gelantungan di bawah?"

__ADS_1


__ADS_2