
Surya melihat jawaban Jefri.
"Izin nyontek."
Jefri menghela napas dan membiarkan sobatnya. "Nyontek kok izin."
Bukan ulangan harian, cuma soal biasa. Surya bisa kalau mau berpikir. Masalahnya dia lagi malas berhadapan dengan angka.
Lagi enak salin jawaban Jefri, Surya gagal fokus ke jendela tepat sampingnya.
Mereka duduk di pojok, jadi pemandangan dari matahari terbit sampai terbenam biasa ditelan tiap hari.
Di samping gedung A itu gedung B. Tempat ruangan berbagai ekstrakurikuler indoor, contohnya seni tari, paduan suara, dan desain grafis.
Ruangan desain grafis menghadap ke kelas 11G. Si Surya menangkap sesuatu yang tidak lazim.
Hari senin ini kan hari pertama mereka mengikuti jam tambahan khusus matematika. Sekarang masih pukul satu siang, bukan jam tambahan yang notabenenya sore hari.
Jefri pun liat Surya serius natap gedung sebelah. Dia noleh cuma sebentar dan nepuk pipi Surya sebelum ditegur Pak Ilman bengong di pojokan.
"Liat apa, Sur?"
Surya kaget gitu. "Hah?"
"Liat apa?" ulang Jefri.
"Itu anak tari ngapain nari di depan sendirian? Gak kepanasan?"
Jadi Surya melihat perempuan seusianya yang lumayan cantik sedang menari lengkap menggunakan kostum tari dengan selendang merah.
"Jaipongan bukan sih dia?"
Surya sering lihat dari atas setiap junior atau seniornya menggunakan ruang tari. Kelasnya pernah materi tari tapi cuma dua pekan, pakai ruangan itu.
Di sana suara musik bisa sampai ke luar, bukan kedap suara. Jadi Surya memang agak tahu sekiranya mereka belajar tarian apa.
"Mana gue tau.. " kata Jefri.
"Kok lo senyam-senyum mencurigakan sih, njir?" tanya Surya pas menatap Jefri dari samping tersenyum mengartikan sesuatu.
"Senyum doang gak boleh?"
"Si anjir."
Surya masih penasaran ngapain dia nari sendirian di luar tapi sudah tidak ada. Kosong saja di depan kelas tari.
Surya kaget banget Jefri nyangga kepalanya pakai tangan di meja sambil tatap-tatapan aneh. Senyumnya Jefri sekarang bukan senyum biasa.
__ADS_1
Ada sesuatu, Surya yakin banget.
"Itu bukan manusia."
"Ah serius?"
Setengah percaya dan tidak percaya Jefri bilang perempuan nari jaipong di gedung sebelah bukan manusia.
"Manusia, Jep. Cantik gitu."
Terlebih Surya penakut yang sok berani. Detik ini dia percaya ucapan Jefri tapi otaknya menyuruh positive thinking.
"Emang ada jurig cantik? Kata lo banyak yang gak sempurna, paling dasar mukanya ancur."
Jefri mau pegang tangan Surya, tapi dia langsung menghindar.
"Jangan coba-coba isengin gue, Jep."
"Gak sengaja, astagfirullah."
"Gak sengaja apaan. Gue nengok dikit lo mau megang-megang gue," tukas Surya.
Takut diapa-apain Jefri, Surya jaga jarak. Isengnya seorang Jefri bawa-bawa makhluk astral.
Mereka fokus belajar lagi. Intinya tiap Jefri gerak Surya langsung menjauh. Dia takut banget perkara liat hantu lagi.
"Apaan sih, Sur?" Jefri sama sekali bukan niat iseng. Bangkunya memang kurang maju.
"Ntar biasa liat juga, pemanasan doang tadi mah."
Apa, apa? Pemanasan?. "Lambemu, mas."
"Eh mampus."
Surya bukan halusinasi, kan? Dia benar-benar lihat cewek di depan kelas tari lewat kelasnya tapi kayak ngambang.
Surya tutup mukanya dari samping pakai buku. Getaran tangannya bukan kaleng-kaleng.
Jefri cuma diam. Diam-diam perhatikan Pak Ilman di depan papan tulis dan Surya yang ketakutan.
"Kalau bukan manusia jangan deh. Ngeri, Jep. Matanya bolong pas gue nengok senyum ke gue, Jep."
"Kalau takut jangan dibuka dulu bukunya," ucap Jefri.
"Masih ada di depan sono?"
"Pas di depan lo malahan."
__ADS_1
Surya makin nempelin bukunya ke muka dia.
Penari berselendang merah yang terlihat oleh Surya tampaknya menyukai dia.
"Serius, Jep. Bulu idung gue merinding nih."
"Ada bulu di idung lo?"
"Tai banget pertanyaan lo. Udah pergi belum?"
"Lo sering liat cewek-cewek pada nari terus dia juga pengen diliat lo kali, Sur."
"Amit-amit. Gue liat doang, gak niat nyawer. Gak ada uang receh." Makin ngelantur ocehan Surya.
"Katanya dia sering liat lo juga dari bawah. Lo dibilang ganteng tuh."
"Saya emang ganteng, mbak. Tapi kan liat orang, bukan yang lain."
"Demen sama lo, Surya."
Plak!
Tangan Surya melayang ke badan Jefri. "Gue keringet dingin, anjir. Mak tolongin anakmu diusilin Jepri."
"Dah gak ada."
Surya menurunkan bukunya dan menarik napas dalam senderan ke tembok.
"Lo iseng, kan?" tuduh Surya.
"Astagfirullah."
"Astagfirullah, astagfirullah. Gue hampir innalillahi."
"Kan gue bilang, dari ribuan orang yang lo liat dalam sehari itu satu dari mereka bukan manusia."
"Gak mungkin kebetulan liat di sini, Jep."
"Lagi apes aja lo liat yang di sekolah."
Bel pergantian pelajaran berbunyi. Pak Ilman undur diri dari materinya kemudian ke luar.
Surya menutup mata. Lelah sebetulnya berteman dengan anak indihom.
Jefri tersenyum tanpa sepengetahuan Surya.
Pas Surya membuka matanya...
__ADS_1
"Allohumma-- " Surya merem lagi dan air matanya menetes. "Gue gak kuat sumpah. Jepriiii!"
Sosok penari tadi tepat berhadapan dengan Surya sambil menyeringai seram.