
"Dua hari lagi tugas dikumpulkan. Gunakan waktu sebaik-baiknya ..." Juan mengangkat wajah dilihat Awan.
Awan langsung ajak ngobrol Zio. "Ntar kerjain tugas bareng."
"Boleh."
Juan lanjut, "Nilai tugas bisa bantu nilai ujian. Hari ini cukup untuk perkenalan. Kelas selesai."
Para siswi membicarakan pesona Juan. Awan mengintip dari jendela lalu ke luar menghadangnya dekat tangga.
"Gue ke toilet bentar, Zio."
"Oke."
Juan kaget diserobot Awan.
"Kenapa lo mendadak ada di depan muka gue?"
Juan perhatikan sekitar sepi. Ini karena pergantian mata pelajaran, sedikit murid lalu lalang.
"Jobdesk lo sebelumnya guru les, kenapa tiba-tiba naik jabatan jadi guru SMA?" Awan frustasi menanyakan tujuannya kemari.
"Kita bicarain di rumah."
"Kita bicarain di rumah?" Awan meniru gaya bicara Juan. "Harus sekarang!"
"Ada tujuan khusus. Lo gak perlu tau, belajar aja setenang mungkin, ada saatnya gue cerita."
"Lo merusak detik-detik kelulusan gue. Gimana kalau semua orang tau kita sepupuan?"
"Kita bukan agen rahasia. Jangan lebay. Balik ke kelas." Juan menuruni tangga santai.
"Juan! Anjir, Juan!"
Putri kebetulan mau ke toilet juga, dia lihat Awan di pembatas tangga memanggil seseorang.
"Panggil siapa?"
Awan berbalik tegap walau sedikit keseleo tangga. "Bukan siapa-siapa."
"Ohh, oke."
Awan berjalan di depan Putri sambil membayangkan apa jadinya bertemu Juan tiap hari.
__ADS_1
"Juan ngajar di sini, dia tinggal di mana? Gak mungkin serumah, kan ...? Gak ada yang ngomong." Dia bicara dalam hati.
Tidak menutup kemungkinan Juan tinggal di rumah kakek tanpa pemberitahuan. Secara anggota keluarganya paling jarang beri kabar.
Putri mensejajarkan langkah dengan Awan. "Tentang Pak Juan tadi ..."
Awan sigap berhenti. "Dia kenapa?"
Agak kaget mereka di jarak yang begitu dekat, Putri sedikit mundur. "Kita bisa coba cerita sedikit. Gimana pun gue khawatir kalau lo bertindak sendiri tanpa rencana."
Tahu rasanya dikhawatirkan orang yang kita sukai? Jantung Awan sekarang lompat-lompat kegirangan.
"Sebagai teman sekelas, gue gak mau terjadi sesuatu."
"Hm?" Dianggap teman tidak menyakitinya, sungguh. Ini pertama kali Putri bicara lebih dari lima kata, setidaknya ada kemajuan. "Kalau menurut lo, dia bisa dipercaya, gak salah coba."
Putri tersenyum. "Oke."
"Lo temuin dia sendirian?"
"Kalau mau ikut gapapa."
"Ikut lah!" Tidak bisa dibiarkan mereka berduaan meskipun bahas hal penting. Status keluarga masih rahasia. Selagi belum ada yang tahu, mungkin masih ada rasa hormat.
Di balik sikap acuh dan dingin Juan. Kepalan tangan yang dia gunakan memukul orang sangat kuat. Itu yang buat Awan takut.
"Gue gak jadi ke toilet." Awan lawan arah balik kelas.
Dahi Putri berkerut bingung merespon sikap Awan barusan.
***
Juan merasakan banyak energi yang berputar-putar di atas bangunan sekolah. Ketika Jefri, Mira, dan Awan masih di sini ia mendengar banyak tragedi dari sudut pandang Hana dan Ratih.
Beberapa tragedi itu membahayakan nyawa mereka. Bukan satu dua kali, tapi lebih dari tiga kejadian di mana mereka berada di tempat kejadian.
Andai kata Jefri yang mereka incar untuk dihisap energinya buat apa memancing Mira.
Mereka memang tidak mengambil keuntungan dari membisiki manusia melakukan hal jahat, hanya puas berhasil menuntun ke jalan salah. Sejatinya itulah mereka para iblis yang menghuni setiap tempat.
Meja Pak Adit di belakang meja Juan. Awalnya Pak Adit ragu mau mendekat duluan. Namun ada sesuatu yang harus dia tanyakan.
"Maaf, Pak Juan." Akhirnya beberapa kali percobaan, Pak Adit maju membawa kursinya ke depan meja Juan.
__ADS_1
"Ada apa?" Juan kurang nyaman dipanggil "Pak". Juan tersenyum tipis kemudian melanjutkan, "Kita beda dua tahun. Panggil nama saya aja."
"Oh iya juga. Juan, ada yang mau saya tanya. Dijawab gapapa, gak jawab gak masalah."
"Tentang apa?"
"Alamat rumah kamu sebelumnya sama dengan alamat tiga murid saya. Kalian satu keluarga? Nama mereka- "
Juan tahu tanpa disebutkan. "Iya betul."
Pak Adit merasa deja vu. Sikap empat orang ini ada kesamaan suka mengabaikan dan memotong lawan bicara.
"Begitu ..." Pak Adit manggut-manggut.
"Pak Adit satu-satunya guru yang dekat dengan tiga murid dari keluarga saya. Bisa tolong kasih saya biodata singkat siswa yang meninggal sebelum Mirza?"
Eh kok? Pak Adit dibikin tercengang oleh permintaannya.
"Gak perlu sekaget itu," kekeh Juan.
Tidak kaget berarti tidaklah normal. Pak Adit melihat sekeliling memastikan guru lain tidak ada yang mendengar pembicaraan ini.
"Apa ada sesuatu yang bakal terjadi lagi?"
"Saya bukan dukun bisa ngeramal masa depan," jawab Juan. "Saya merasa ada yang mereka lewatkan. Siapa tau bisa mencegah selanjutnya. Kejadian dua tahun lalu berhenti karena pengorbanan satu orang. Sekarang udah lumayan lama, gak curiga minta tumbal lagi?"
Bulu kuduk Pak Adit merinding.
"Bercanda," dalih Juan.
Mau tertawa di situasi ini bukan tindakan tepat. Pak Adit sangat tegang dengar kata tumbal.
"Saya dengar ada sekte rahasia di sini. Bapak pernah dengar juga?"
"Emangnya kita di drama korea, film barat ada begituan?" Pak Adit bisa ketawa sekarang. Lucu saja dengar orang bilang di sekolah ada sekte, tapi ngeri kalau benar.
"Gak mungkin, kan?" Juan belum berperang sungguhan. Dia bisa tersenyum sekarang, tapi nanti yang terlihat hanya kebengisannya.
"Gak mungkin lah," sangkal Pak Adit dengan wajah datar. "Ada-ada aja."
Juan paham kembali melaksanakan tugasnya.
Pak Adit langsung stres ketika kembali ke mejanya. "Itu anak ngomong bercanda tapi mukanya serius."
__ADS_1