Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Belum Usai


__ADS_3

"Jangan nangis di jalan. Malu gue diliat orang."


"Lah? Gak bisa ngehibur ya gak usah ngelarang gue nangis!" sewot Mira.


Awan menatap pasangan kasmaran yang menunjuk dirinya menganggap buat Mira menangis.


"Cowoknya malah diem doang sih?" kata si cewek.


Pacarnya jawab, "Jangan liatin, biarin."


Awan menjauh sedikit ketika dipandangi orang tua lewat. "Saya sepupunya, Bu. Bukan saya yang nangisin dia, Pak."


Mira melirik tajam. "Pulang sekarang."


"Dari tadi kek!"


Awan kaget uluran tangannya di balas pukulan kencang.


"Gue bukan cewek lo." Lagipula ia bisa bangun sendiri.


"Seharusnya gue tinggal sendirian," gumam Awan menarik tangan dan berbalik menunggangi motor.


**


Masuk sekolah lagi, belajar lagi, pulang, tidur, besok berangkat lagi. Begitu terus sampai dua tahun.


Mira berdiri di depan cermin yang ada di kamar, mendengarkan seluruh cerita dari Sanjaya.


Entah harus ke mana tujuan hidupnya, Mira ragu ia bisa melangkah jauh setelah ini.


"Lo baru bilang setelah dua tahun?"


Wajah Mira memelas. Ia kira setelah Mirza meninggal, usai sudah tragedi mematikan yang terjadi.


"Saya bisa datang karena Jefri ada. Terlepas dari Juan yang panggil saya. Saya tidak tahu selama ini energi saya terkuras oleh Mirza. Begitu penjelasan Haryo."


"Gue belum paham. Gimana maksudnya?"

__ADS_1


"Karena Mirza membutuhkan energi saya untuk hidup. Setelah saya kembali, Mirza tidak bisa bertahan."


"Bukannya lo terhubung sama Jefri?"


"Tidak. Kami mempunyai pusaran masing-masing, tetapi ..."


"Tapi apa? Kepala gue mau pecah denger penjelasan lo, Sanjaya!"


"Sepertinya kemampuan Jefri ikut melemah karena kondisinya tidak stabil." Sanjaya memilih opsi lain. "Saya harus tetap bersama kalian."


"Om Pras bilang lo harus balik, Sanjaya. Gimana ceritanya tetap di sini? Lo takut gue celaka atau- "


"Saya tidak mengkhawatirkan kamu." Sanjaya bersungguh-sungguh. "Energi Jefri harus kembali. Jika tidak, akan banyak entitas yang mendekati kamu berupaya menyerang dia. Kamu mau itu terjadi?"


"Karena gue penghubungnya?" Mira tarik napas panjang dan buang perlahan. "Gini, omongin sama Jefri sekarang. Gak deh, bawa Awan juga. Lo ngomong sama mereka."


"Saya tidak bisa- "


"Gue gak ngerti bahasa lo! Susah dipahami!"


Memang dia habis melakukan apa sampai kehabisan energi?


Kegiatannya habis nongkrong cuma tidur-tiduran menyetel lagu galau di kamar atau ngopi di teras rumah.


"Rasa bersalahnya lebih mendominasi. Kamu belum bicara dengan Jefri hampir dua tahun."


Glegarr!


Mira bahkan dengar suara geluduk di siang bolong. Sudah dua tahun kah?


Benar juga. Mereka tidak bercanda sedia kala usai pemakaman. Tidak banyak yang terjadi. Mira pikir semua baik-baik saja dan Jefri sedang memulihkan diri sendiri. Pria itu banyak menghabiskan waktu di kamar selagi sekolah. Setelah lulus pun Jefri berangkat kuliah pagi pulang sore langsung masuk kamar buat istirahat.


Waktu cepat berlalu. Mereka tanpa sadar mengasingkan diri.


Mira hanya merespon Awan. Waktu mereka juga sedikit.


Sanjaya memandang Mira bengong. "Mira, kamu seakan-akan menghilang dari dunia mereka. Jangan seperti itu. Kembalilah."

__ADS_1


Mira tercengang. "Apa yang terjadi kalau energi Jefri melemah terus? Dia bakal mati kayak Mirza?" Raut mukanya panik.


"Siapa yang bakal mati, hah?"


Jefri diam-diam menguping pembicaraan mereka sebab Sanjaya memanggilnya.


"Lo!" Jefri menunjuk Sanjaya geram. "Doain gue mati. Lo disuruh balik sama Om Haryo, kan? Pulang sana!"


Sanjaya mencari alasan harus tetap bertahan. "Saya ada urusan penting. Beri waktu tiga bulan untuk menyelesaikannya, saya berjanji langsung pulang."


"Tiga bulan?" Mira menghitung jari.


"Urusan apa, hah?" tanya Jefri. "Lo juga. Jangan panggil dia ke sini lagi."


"Lah napa jadi gue yang salah? Dia yang datengin gue!" Mira sewot ke Jefri. "Ngomong gak jelas pula. Ngang-ngong gue gak paham bahasa lo!" Sewot juga ke Sanjaya.


Awan lagi cuci piring langsung melempar spons kuning yang lagi digunakan. "Ribut lagi, ribut lagi! Ah, kapan lo berdua akur?! Abis makan gue yang selalu cuci piring!"


"Mengapa menyalahkan saya? Saya memberi kamu informasi akurat!" teriak Sanjaya.


"Jangan teriak di depan Mira!" balas Jefri teriak.


"Ada orang mencurigakan di sekitar kalian. Apa tidak ada yang menyadari?" kata Sanjaya berubah serius.


"Lo yang lebih mencurigakan deketin Mira melulu," omel Jefri. Jika dia manusia pasti sudah baku hantam.


"Percaya padaku!" Sanjaya membentak mereka. "Lihat dari sudut pandangku."


Srett!


Segala sesuatu yang Sanjaya lihat di rumah Mirza sejak hari pertama datang hingga Mirza meninggal terekam bak video dalam kamera.


Mulai dari sana ... Jefri dan Mira curiga dengan seseorang.


Orang itu membuat tragedi dan berpura-pura menjadi pahlawan yang membantu mereka.


Siapakah dia?

__ADS_1


__ADS_2