
Semilir angin di siang bolong dicurigai sebagai pertanda buruk. Matahari terik tetapi adem nan teduh disertai rintik hujan deras mengganggu konsentrasi beberapa orang.
Dagu Dewi menempel ke meja. Badannya membungkuk malas memiringkan kepala menatap jendela.
Tiba-tiba dia memikirkan Surya sedang apa di kelas. Ada dua kemungkinan kalau tidak sedang belajar pasti main game di bawah meja.
"Ngapain?"
Mira menyangga sebelah wajahnya memerhatikan Dewi bermalas-malasan.
"Gue mau pulang."
Tambahan mata pelajaran sangat menguras tenaga mereka. Tentu bukan Dewi saja yang ingin pulang. Mira bahkan ingin menghilang supaya cepat rebahan sampai rumah, kalau bisa.
Mira melirik hapenya di laci meja karena menyala bergetar dapat pesan dari Mirza.
'Gue ada urusan di Jakarta ntar mlm ... Lo ada waktu senggang gk? Kalau kecapekan gue gk maksa'.
Dewi ikut semangat membaca pesannya. "Lo mau ketemuan?"
Daripada bingung lebih baik iyain saja kalau kata Dewi.
"Ada urusan apaan lagi di sini?" gumam Mira bertanya-tanya.
Sebagai pelajar bukankah terlalu sering dia bolak-balik antar kota.
"Alah cuma alesan doang. Mirza mau ketemu lo."
"Ngapain?"
"Ngapain lagi. Jalan lah."
Iya atau tidak. Mira capek ... tapi di rumah pun kegiatannya membosankan. Dia dan Awan terlibat cekcok satu masalah. Dengan Jefri masih kesal dan bimbang.
"Kelamaan lo."
Dewi merampas ponsel Mira dan membalas pesan Mirza.
'Dtg aja'.
Anehnya Mira tidak seruangan mengomel. Dia diam saja bak renungan malam.
"Tumben lo gak protes." Dewi meletakkan kembali ponsel Mira di lacinya.
"Perubahan Mirza terlalu signifikan."
"Lo pacarnya, bukan peneliti. Pake kata signifikan lagi. Berubah gimana emang? Jadi ultraman, power rangers, atau satria baja hitam?"
"Lo tau gue sama dia gak pacaran betulan."
"Rejeki gak boleh ditolak ..."
Bukan main pusingnya tentang hubungan asmara.
"Lagian lo gak kunjung ngaku sekarang. Heh, mereka gak bisa dibohongi kelamaan." Mengenai ingatan lampaunya.
"Gue gak berniat lama-lama!"
__ADS_1
"Wah, gue lebih suka lo pas amnesia."
"Apa?"
"Gak penting. Sebagai sahabat gue mau kasih semangat ... Mira, putusin hubungan kalian. Lo gak pernah suka Mirza. Gue kasian sama dia. Sumpah."
"Ketimbang gue?"
"Lo yang inget masih pacarnya dia."
"Gue gak tau apa-apa!" kesal Mira.
"Maka dari itu. Lebih cepat lebih baik."
Lagi diam menyusun rencana pertemuan Mira dicolek Zafran.
"Apaan sih?" Mira menoleh sembilan puluh derajat lalu menjerit. "Kaget gue!"
Anak-anak yang mengantuk langsung sadar.
Dewi spontan balik badan. "Kemasukan setan lagi?"
Zafran kesurupan dua kali hari ini.
Mumpung tak ada guru dan Zafran dalam keadaan tidak sadar Dewi getok kepalanya pakai tempat pensil yang bentuk persegi panjang.
"Keluar gak lo."
Alin di ujung sudah biasa menonton mereka. Mereka bahkan tidak takut lagi betapa seringnya Zafran bertingkah aneh.
"Setan dimasukkin setan. Hetdah."
"Apa? Gak denger. Gue budek," tukas Dewi.
"Dia ... takut ..."
"Dia bilang lo takut," ucap Dewi menyampaikan ke Alin.
"Kok tau sih." Alin tegang.
"Kenapa colak-colek tadi? Kaget saya," ujar Mira.
"Kamu ... itu ... kenal laki-laki yang ..." Zafran memeragakan menusuk perut sendiri.
"Ah, dia?" Dewi 'ngeh' siapa yang dimaksud. "Pacarnya nih." Dia tepuk bahu Mira memperkenalkan ke sosok yang tidak tahu bagaimana wujudnya.
"Pacar?"
"Kekasih. Pujaan hati. Satu-satunya di hati." Dewi menjabarkan arti lain.
Zafran mengangguk paham.
"Paham juga lo," imbuh Dewi.
"Kenapa tanya dia?" Mira mau tahu alasan dia mempertanyakan Mirza.
"Dia ... terang sekali, tetapi, redup saat di itu ..."
__ADS_1
Zafran kembali mencontohkan Mirza tertusuk waktu itu.
"Saya tau," jawab Mira.
"Gue gak tau," sambar Dewi penasaran. "Kalau boleh tau apanya yang terang dan redup, Pak, Mas, Om?" Dia lupa nanya siapa yang merasuki Zafran. "Mir, manggilnya siapa?"
"Kakek saja ..."
Pantas suaranya pelan-pelan serak, batin Dewi. Lantas dia ada panggilan khusus. "Kakek yang baik hati dan ganteng sekali."
"Kakek saja ..."
Mira tabok badan Dewi. "Nambah embel-embel sih lo. Dibilangin kakek aja."
"Kasihan."
"Mirza?" beo mereka.
Namun, Zafran menunjuk mukanya sendiri.
"Gak perlu dikasihanin, Kek. Anak ini ... pewaris anti bangkrut tujuh turunan. Dia mayan ganteng, rendah hati, meskipun rada ngeselin tapi banyak baiknya."
"Sangat kasihan."
Kakek berambut putih itu tampak sedih membahas Zafran. Mira jadi terbawa emosi.
"Anak ini kenapa?"
"Gelap."
"Kok bener?" Dewi sempat kaget.
"Apanya yang gelap?"
"Seluruhnya."
"Kenapa bisa gelap?"
"Dia ... tidak tahu apa-apa, tapi kami tahu apa itu."
"Ngomong apaan sih? Mira. Kayaknya jelmaan ini. Tipu muslihat." Dewi sering diberitahu Jefri mengenai jin yang berdusta kerap mengelabui manusia.
"Apa yang kalian tau?"
Dewi lihat Mira tertarik akan pembahasan ini.
"Kami tidak bisa- " Sosok kakek mendadak keluar dari tubuh Zafran. "Astagfirullah!" Zafran istigfar memegang dadanya yang sesak. Dia mengomel, "Lo berdua bukan bantuin malah ngajak ngobrol!"
Mira mencari ke mana perginya kakek itu justru sadar gerimis berhenti dan hawa sekitar panas kembali.
"Lo yang gak tau diri. Kesurupan dua kali udah kayak minum obat!" Dewi marah.
"Dari mana?"
"Di sini aja," jawab Zafran.
"Bukan lo."
__ADS_1
"Mana gue tau."
Mengapa kakek berkata aura Zafran gelap? Apa yang mereka ketahui?