Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Bagian Dua : Sekali Lagi Terlambat


__ADS_3

Juan turut menyaksikan siapa yang ke luar dari lorong. Awan mundur terbata dengan mata membelalak.


"Jefri."


Juan maju selangkah kemudian menggeleng pelan. "Bukan. Itu Sanjaya." Kendali tubuh Jefri sepenuhnya diambil alih Sanjaya.


Pupil mata Jefri sekian detik berubah warna menjadi kebiruan. Cara dia menatap mereka berbeda.


Selain meminjam raga Jefri, rupanya Sanjaya menyeret seorang untuk diperlihatkan pada Juan dan Awan.


"I-i-itu Pak Roni. Sa-sanjaya, lo apain dia?"


Bukan secara hidup-hidup Sanjaya membawa Roni. Betul, pria yang diketahui dalang di balik kasus bunuh diri siswa sekaligus musuh dalam selimut yang dicari malam ini ditemukan telah tewas mengenaskan.


Kondisi Roni sangat ironis. Sanjaya dengan entengnya menyeret salah satu kaki Roni dan dilemparnya ke hadapan mereka.


"Dia melanggar perjanjian dengakn iblis. Jiwanya sudah diambil dan dibawa pergi. Saya menemukan jasadnya di dalam sana dan menunggu kalian datang."


Awan melihat Juan sambil bertanya, "Dia nyerahin mayat ke kita?"


"Kabar buruknya, ada tubuh lain di dalam sana."


Juan seakan tahu tubuh siapa yang Sanjaya bicarakan, ia gelisah saat meminta bantuannya.


"Siapa?" Awan butuh jawaban, bukan adu mata.


Sanjaya menjawab dengan suara berat, "Teman kalian. Mirza."


***


Tiga tahun yang lalu ...


"Bun, ayah pernah kepikiran tutup mata batin?"

__ADS_1


Suatu hari Jefri bertanya pada Ratih selagi mereka senggang duduk di teras rumah.


"Bukan ayah aja. Semua keluarga kita maunya begitu, Jef."


Selama ini Jefri menganggap dirinya tidak bersyukur dianugerahi penglihatan istimewa. Mungkin menurut orang lain yang tidak punya dan ingin lihat rupa dan wujud mereka mau menantang adrenalin.


Jika boleh jujur, Jefri tidak juga menyebut penglihatannya adalah sebuah kutukan. Itu tidak benar. Meksipun terkadang melampaui batas kemampuan, selama ini dia menikmatinya.


"Gak sembarang cara bisa nutup selamanya. Om Pras pas SMP pernah coba-coba ke paranormal, bilang mau tutup mata batin. Awalnya ayah kamu, ayahnya Mira, kaget gak ada yang berani bilang ke kakek. Tau sendiri gimana respon kakek. Sebulan kemudian Om Pras sering kesurupan dan susah diobatin, hampir satu bulan gak masuk sekolah dan terancam dikeluarin."


"Terus gimana sembuhnya?"


"Sembuh aja. Om Pras janji gak neko-neko lagi. Kapok katanya."


"Gak ada cara lain, Bun?"


Ratih menatap penuh kasih sayang putra tunggalnya. "Apa kamu mulai tersiksa, Jefri? Kamu jarang cerita empat mata sama Bunda."


"Jefri, selama ada gerbang pertama dan gerbang terakhir di keluarga kita, kamu baik-baik aja. Sebelum mengganggu kamu, memang Mira dulu, tapi setidaknya ada gerbang terakhir. Pemisah dimensi, Juan."


**


Awan menangis tersedu-sedu menatap jasad Mirza digunakan dan dimanfaatkan jadi persembahan iblis.


Roni menggali kuburan Mirza dan memindahkan jasadnya menggunakan mobil pas tengah malam. Tubuh Mirza diawetkan menggunakan formalin agar tidak membusuk dan berbau khas mayat.


Kala Juan mendekat, kakinya berat dan lemas. "Mi-mirza ..."


Awan menutup wajahnya dengan siku. Sebagai teman dia menyesal tidak menyadari bahwa arwah atau roh Mirza tidak terlihat sejak dia meninggal. Mirza tertahan di tempat terkutuk dan ditahan oleh orang biadab.


"Kasian Mirza, Juan. Kenapa harus dia yang ada di sini?" Awan bahkan takut tangan penuh dosanya menyentuh jasad Mirza.


Pantas selama dua tahun terakhir sekolah baik-baik saja tidak gempar berita bunuh diri lagi.

__ADS_1


Ada Mirza sama dengan ada Juan. Tidak sepadan namun mereka mencegah entitas asing masuk wilayah tertentu.


Sanjaya menjelaskan bahwa, "Keputusan Roni membawa jasad Mirza sangat salah. Mirza masih bisa menghalangi persekutuan mereka sehingga iblis murka dan menuntut korban lebih banyak. Alih-alih menargetkan nama dalam daftar, energinya terkuras habis."


Suara gerudukan dari luar sama sekali tidak mereka hiraukan.


"Pemisah dimensi telah hilang. Mereka pasti datang," ucap Sanjaya.


Ketika Mira, Dewi, Irlan, dan Surya tiba di tempat ada berbagai ekspresi terkejut.


Dewi sampai tidak bisa berdiri, dia jatuh ke lantai menyaksikan wajah pria malang yang ia temani di peristirahatan terakhir justru berada di sekolah ini.


Pemandangan di hadapan Mira seolah blur, tidak jelas. Dalam hati ia harap semua ini hanya mimpi buruk dan berkali-kali batinnya berontak meminta bangun dari bunga tidur.


"Mirza kenapa di sini?" Mira bertanya pada ketiga lelaki itu. Tangisan pilu Awan sangat menusuk hati hingga sendinya. "Juan, kenapa Mirza ada di sini?!"


Juan ikut menangis, rasa bersalahnya semakin besar telat bertindak. Setelah dua tahun Mirza terjebak, ia menyesal.


Ketika Sanjaya ke luar dari raga Jefri, bahkan saat Sanjaya memberi penglihatannya tadi, hanya air mata Jefri yang berbicara.


Surya langsung mengecek ponselnya yang dikirim video cctv ruang tunggu. Tidak ada gambar yang terlihat, hanya layar gelap yang menandakan cctv mengalami trouble. Hanya saja, kertas itu memang ada di bawah gelas hingga keesokan hari. Menurutnya, Mirza berusaha memberi tanda.


Irlan merasa hatinya kosong, tidak tahu harus apa di situasi kini. Mereka menangisi penyesalan dan semua hidup yang dijalankan susah payah. Pada akhirnya benar bahwa semua kehidupan kita akan terulang dan itu sudah menjadi hukum alam.


Akan tetapi, Tuhan, mereka terus mengalami mimpi buruk dalam satu kehidupan. Ini sangat tidak wajar.


Mira menggenggam erat tangan kaku dan dingin milik Mirza. Betapa malangnya Mirza sendirian di ruang gelap kedinginan.


"Maaf gue terlambat lagi."


Kalimat yang Mira lontarkan sesungguhnya mewakili semua orang di sana.


Sebenarnya apa tujuan mereka hidup? Apa perbuatan mereka sangat buruk hingga diterpa berbagai cobaan?

__ADS_1


__ADS_2