Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Setiap Detik Yang Berharga


__ADS_3

Mira sudah tahu Mirza datang ke Jakarta cuma mau basa-basi. Dia izin bermalam di rumah. Diizinkan pula.


Jelas Mira ragu ke luar kamar gara-gara Mirza masih di ruang tamu bersama Jefri dan Awan. Tidak tahu mereka bertiga bahas apa. Pokoknya dia kesal mau ke mana-mana bingung.


"Sepertinya Mirza tidak datang sendirian."


Ini lagi bocah menjengkelkan. Ngapain muncul sekarang coba.


"Terus sama siapa kalau bukan bayangannya?"


Kepala Fani menembus ke luar pintu agar bisa melihat Mirza. "Aku yakin kok. Ada sesuatu yang menjaganya, tapi tidak tahu apa."


"Lebih baik tutup mulut lo ketimbang bikin gue keder."


"Diam. Aku sedang mendengar pembicaraan mereka."


Mira ikut mendekat ke pintu. "Apa? Mereka gibahin gue? Bahas apa sih?"


Kepala Fani masuk lagi. "Menggibahi kamu?" Dia tidak berselera jika benar. "Dengarkan saja sendiri. Aku sibuk."


"Yah! Gak asik banget ah. Dengerin dulu bentar."


"Aku cuma dengar mereka menyebut Sanjaya." Tiga detik kemudian Fani menutup mulutnya seolah terkejut. "Aku tidak boleh menyebut nama itu. Dia pria menakutkan."


"Ganteng gitu lo bilang menakutkan? Perlu gue colok mata lo?"


"Tidak, terima kasih."


Terbesit ide kreatif dari otak Fani. Untuk membuat Mira ke luar kamar hanya satu.


"Mira, aku tadi dengar mereka tertawa."


"Ketawa kenapa?"


"Mirza punya perempuan baru."


"Apa?" Mira mengepalkan tangan kuat-kuat. "Lo gak ngadi-ngadi, kan? Ohhh, jadi ini alasan dia mutusin gue. Ini alasan dia gak mau balikan. Ternyata punya gebetan baru."


Betul kata Fani. Mira mengambil kemoceng dari cantolan paku dekat pintu dan keluar dengan amarah meluap.


"Mirzaaa!"


Ketiga pria menengok serentak. Awan ternganga Mira menodong kemoceng ke arah Mirza.


"Woi mau lo apain anak orang?!"


Jefri menghalangi Mira dari depan. "Apaan sih? Bawa kemoceng segala!"


Mirza melirik kanan kirinya kikuk. Dia bergerak mundur tanpa beranjak dari kursi.


"Lo gak mau balikan sama gue karena ada cewek lain? Jawab sekarang!"


Lagi dan lagi mereka tercengang. Mira sedang apa sebenarnya?


"Lo tau dari Mirza sendiri?" sarkas Jefri.


Mira terdiam. Bukan lah.


"Lo deket sama siapa lagi?" Awan bertanya.


"Gue gak lagi deketin siapa pun." Mirza terlihat lebih pucat dari kedatangan awal. Dia sedang tidak enak badan ditambah Mira halusinasi dia ada wanita lain. Kepalanya mendadak pening.

__ADS_1


"Dia jujur." Awan percaya. Lantas mengapa Mira menuduhnya tanpa bukti?


Mulut Mira komat-kamit dibohongi Fani. Lihat habis ini, tamat riwayatmu, dasar hantu kurang ajar.


Jefri memberi Mira nasihat. "Lo gak sambut Mirza pas dateng, tiba-tiba rusuh. Gak liat dia lagi sakit?"


Mirza masih sakit? Mereka terakhir telepon kondisi Mirza juga sakit.


"Parah banget?" bisik Mira.


"Duduk atau masuk kamar."


Mira perhatikan Mirza lebih pendiam. Pria itu tidak menatapnya sekarang. Apa sakit mengubah perilaku seseorang? Menjengkelkan sekali.


"Mau sakit parah gue bukan pacarnya lagi."


"Bisa-bisanya lo bilang gitu ke Mirza- "


"Dia yang mutusin gue duluan!" teriak Mira menyentak mereka. Sial malas sekali harus membuang energi pagi-pagi. "Ini kan yang lo mau?" Mira menatap sinis Mirza yang bersikukuh diam. "Gue gak mau tau urusan lo bertiga ... Jangan urusin gue juga. Paham lo semua?"


"Mir. Mira!" Panggilan Awan tak digubris.


Tidak satu pun buka suara sampai Jefri duduk lagi.


"Jangan terlalu keras. Dia gak salah," ucap Mirza dengan suara parau.


"Gak salah bukan berarti yang dia lakuin selalu bener," imbuh Jefri.


"Gue ke sini atas keinginan sendiri. Intinya tadi, gue mau pamit sebelum nanti- "


Awan langsung memotong. "Lo gak bisa pamit sekarang. Urusan lo sama Mira belum tuntas." Dia sengaja mengulur waktu Mirza. Dia menahan kakinya yang gemetar setelah dengar cerita dari Mirza.


"Sanjaya. Dia bilang sesuatu?" tanya Jefri.


Di akhir kalimat senyum teduh pria itu menggores luka baru bagi yang mendengar.


"Jef?" Mirza bingung mereka cuma bergeming. "Dimaafin gak nih?"


Awan tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia pergi ke teras untuk berpikir sambil menenangkan diri.


Jefri memegang tangan lemah Mirza. "Gue bakal cari semua cara. Lo harus optimis."


Mirza menangkup balik tangan Jefri. "Gue gak menyesal walaupun nyawa gue melayang asal Mira selamat. Ini gak seberapa dibanding luka kalian semua."


"Jangan pergi terlalu jauh."


Mirza mengangguk.


Prangg!


"Kalian ngomong apa sih? Mirza, lo mau pergi ke mana?"


Mirza melihat ke bawah sebuah bingkai foto hancur berkeping-keping.


Mira berniat mengembalikan foto Mirza yang dia foto diam-diam dan dipajang di kamar.


Apa maksud Mirza rela mati asal Mira selamat? Mira butuh penjelasan namun,


"Lo bilang barusan sakit lo gak sebanding sama luka kita semua. Lo mau tau seberapa banyak lo nyakitin gue?"


Apa Mirza sungguh mengatakan itu demi menghibur mereka dan dirinya sendiri?

__ADS_1


Awan masuk menarik Mira ke kamarnya. "Lo gak bisa begini. Tetep diem di kamar!"


Mira membelalak pintu dikunci dari luar.


Brak! Brak!


"Awan! Buka pintunya! Berengsek! Gue aduin ke mama sama bunda ya! Awan, buka gak!" Mira menggedor pintu sangat keras sekalian melampiaskan marah.


"Dia belum ngerti. Biarin aja." Jefri setuju Mira dikunci supaya tidak salah paham lagi.


Dugh! Dugh!


"Lo bertiga bener-bener! Buka pintunya!"


Mira menyerah. Mereka tidak akan membuka pintu sampai dia nangis darah. Dia memanggil Fani dalam hati dan berbalik karena biasanya langsung hadir.


Sayangnya yang hadir bukan Fani, melainkan entitas lain.


Bentuk apa itu?


Wah, ini tidak benar.


Mira mendorong gagang pintu dan teringat dikunci dari luar.


"Jefri, Jefri! Bukain pintu sekarang, Jefri!" Mira panik sosok itu berterbangan di atas kamar.


Mirza merasa tubuhnya aneh. Perutnya tambah sakit secara mendadak.


"Apa lagi sekarang?" Awan berniat duduk.


"Kuncinya!" Jefri teriak.


"Nyantol di pintu," kata Awan.


Jefri memutar kunci dan langsung menarik pintunya.


Alangkah terkejutnya dia melihat Mira tertelungkup di lantai dengan lantai berdarah.


Ratih ke luar kamar usai anak-anaknya ribut sekali.


"Ada apa sih, Jef?" Begitu sampai di belakang sang anak, Ratih menahan napas kemudian menangis kencang melihat hal mengerikan. "Ya Allah, Mira!"


Awan bimbang harus pergi ke mana. Mirza tampak menahan kesakitan. Ratih dan Jefri terpaku usai melihat kamar Mira.


"Mirza, sakit lo kambuh lagi?"


"Hubungi mamanya Mira, Jefri! Sekarang!" teriak Ratih. Beliau terduduk lemas menangis histeris.


"Mira kenapa?!"


"Gue gak tau!" Jefri gemetar hebat sampai tidak bisa membuka lockscreen ponselnya.


Mirza menyuruh Awan bantu Jefri yang kesulitan bertindak. Awan kaget pertama kali lihat kamar Mira sangat berantakan dan lantai ada bercak darah.


"Bangsat, apa lagi sih!" Awan frustasi menjambak rambut depannya.


"Telepon ambulans sekarang," ujar Mirza.


Jefri masuk kamar dan mengecek urat nadi leher Mira. Mengapa tidak ada?


"Gak, Mira. Jangan." Jefri menepuk wajah Mira. "Lo tadi baik-baik aja. Kenapa ... Kenapa bisa gini, hah? Mira!"

__ADS_1


Jefri meraung tidak bisa terima ini terjadi hanya dalam beberapa detik. Tuhan, apabila engkau berniat mengambil salah satu dari mereka, Jefri rela mengganti dengan nyawanya.


Mereka tidak salah apa-apa. Mengapa harus mereka yang menerima cobaan begitu berat?


__ADS_2