Teror Sekolah Baru

Teror Sekolah Baru
Siapakah Sanjaya?


__ADS_3

Jika Jefri ingat-ingat lagi ... Sudah lama dia hilang.


Apa yang membuatnya memutuskan muncul kembali?


"Gue gak berniat berterima kasih- "


"Saya tidak ingin mendengar itu."


Disaat Jefri belum selesai bicara hanya dia yang berani memotongnya.


"Apa tujuan lo datang lagi?"


"Kamu tidak mampu menjaganya."


"Apa? Gue gak mampu? Dari mana lo tau? Selama ini gue lindungi Mira, sampai sekarang dia masih hidup."


"Hentikan ... Jangan membela diri sendiri."


Jefri melotot kesal namun sosok di dalam cermin terkesan pasrah.


"Heh, Jaya!"


"Sanjaya."


"Sama aja. Gue tau lo ngikutin Mira dari lama. Seenggaknya kalau mau menampakkan diri jangan beda kostum. Cakepan dulu pakai hoodie, tutup muka lo gapapa. Sekarang apa-apaan ... Lo mimpi jadi pangeran? Pangeran dari kerajaan mana?"


Pria berwajah mirip Jefri ialah Sanjaya. Dia lelaki ber-hoodie yang pernah muncul didekat Mira beberapa kali.


Menurut Jefri, Sanjaya merupakan sosok menakutkan. Tentu bukan dari segi rupa. Dilihat secara langsung semua wanita tahu dia menawan.


Perbuatan yang pernah dilakukan dia sangat berbahaya. Jefri sempat mengusir dia satu kali.


Gerbang dimensi di hutan rupanya terbuka. Itulah alasan Mira bisa berkomunikasi lagi dengan Sanjaya.


"Jangan kasih pilihan buat Mira. Dia gak bisa memutuskan sesuatu, tanpa gue."


"Percaya diri sekali."


"Tanya gue langsung. Lo mau bawa gue atau dia? Gue yang maju."


"Saya tidak butuh kamu."


"Ya terus kenapa lo dulu nanya ke dia, bangsat." Jefri kelepasan berkata kasar.


"Cuma pemanasan."

__ADS_1


"Lo yang gue bakar biar kepanasan," jawab Jefri dalam hati.


**


"Drama apa lagi ini, Ya Allah? Jefri ngomong sama siapa?" Mira menutup mulut mencurigai pria itu kehilangan akal sementara waktu akibat trauma punya saudara kembar beda alam.


Tok! Tok!


"Jef ... Ri? Maaf ganggu bentar nih. Gue mau menyampaikan. Bunda nyuruh lo buruan keluat buat makan."


**


"Jangan ke mana-mana." Penuh penekanan Jefri bicara.


Sesudah itu dia keluar dan sempat bertatapan dengan Mira.


Gadis itu lumayan kaget. Apa yang merasukinya?


"Kagetan amat."


Bukannya marah karena disinggung. Mira mengusap-usap lengan Jefri sembari bilang, "Selain tenaga ... Pasti mental lo terkuras banget selagi di sana. Ayo makan. Balikin semangat penuh membara di dalam diri lo, Jefri! Jangan tak- "


"Bukan waktu yang tepat buat pidato. Makan, makan aja kali."


"Gue pendem sementara karena agak sengklek," lirihnya ikut bergabung di meja makan.


"Oho ... Muka-muka begini nih yang bikin selera makan anjlok." Awan menjatuhkan sendok dari tangannya.


Hana dan Ratih belum paham.


"Kenapa, Awan?" tanya Ratih.


"Liat, Bun. Muka Jefri menggambarkan kelelahan dan muka Mira menggambarkan kebingungan. Pasti di kepala mereka sekarang telintas burung merpati bawa surat isinya, kapan ini akan berakhir? Iya kan."


Hana menggeleng tak heran.


Omong kosong Awan sudah biasa lewat telinga kanan masuk ke tenggorokan, perut, lalu dibuang lewat kentut.


"Mereka cuma dehidrasi sama kelaperan," ujar Hana. "Di sana mungkin gak bisa makan tenang."


"Bunda denger hari pertama ada kesurupan massal. Jefri, kamu baik-baik aja?"


Jefri cuma mengangguk dua kali.


"Mira gimana?" tanya Hana.

__ADS_1


"Gapapa."


"Awan?"


"Selalu baik, Bun."


"Syukurlah. Kita berdua sempet khawatir. Tapi Bunda bilang selama ada kamu ... Mira dan Awan pasti baik-baik aja."


Bola mata Mira menatap ke atas mengingat apa yang telah Jefri lakukan untuknya.


"Hari pertama Jefri sibuk di kamarnya nangani Zafran. Hari kedua ..."


Awan mendelik tajam.


Ah iya. Dia hilang dan pingsan di hutan.


"Hari kedua sama aja. Aku gak buat masalah. Jadi Jefri ngurusin Zafran."


"Terus Awan aman?" tanya Ratih.


"Awan? Dia pasti aman, Bun. Bisa pencak silat kok! Yang ada hantunya kocar-kacir liat dia ngeluarin jurus kodok terbang."


"Gak lucu." Awan menggigit timun utuh melampiaskan kekesalan.


Ratih dan Hana terhibur. Mereka tergelak.


Suasana tenang dan damai ini tidak berlangsung lama setelah Jefri mendadak memberitahu sesuatu yang tidak disangka-sangka.


Hana memperhatikan ketiga anaknya ada yang berbeda. Termasuk Jefri. Anak itu banyak diam dan cuma menyimak pertengkaran Awan dan Mira.


"Jefri tenang banget dari tadi, kenapa?"


Ratih terhanyut bercanda bersama yang lain hingga kurang perhatian kepada Jefri.


"Kenapa, Han?" Ratih menatap adik iparnya.


"Jefri ketemu Sanjaya."


Ratih menatap Hana. Hana menatap Jefri. Mira menatap Awan. Awan menatap Ratih dan Mira bergantian.


"Siapa Sanjaya?"


Selain Hana dan Ratih yang sudah mengetahui pemilik nama itu. Mira orang pertama yang menyahut. Awan pun tidak kenal siapa Sanjaya.


"Dari kemarin dia muncul."

__ADS_1


__ADS_2