
"Beneran, goblok. Pak Adit ember ke Mira. Nih makanya Mira pingsan."
Pak Adit duduk dekat mereka. Surya bisik-bisik ke Jefri tapi nadanya ngotot. Jelas tembus telinga gurunya.
Zafran ikut berbisik ke Jefri. "Kudu diapain? Kirimin setan sekebon, Jef."
Mira menggelengkan kepala tidak heran kelakuan mereka perlu diremedial.
"Geli kuping gue!" Jefri mengusap daun telinganya.
Pas sekali Mirza membalas pesan Jefri. Mereka berkerumun membaca sama-sama.
'Lo tanya gue, gue nanya siapa?'
"Heh?" Alis mereka bertautan.
"Lo inget kenapa bisa pingsan?" Zafran langsung konfirmasi.
"Itu pertanyaan gue. Kenapa gue selalu bangun di ruangan kek gini? Klinik, rumah sakit, nanti di mana lagi."
Sangat menyebalkan tidak ingat apa pun. Mereka enggan memberitahu secara jujur apa yang telah dialami Mira.
"Semua gara-gara Pak Adit. Tanggung jawab, Pak!" perintah Surya.
Pak Adit buang muka dari mereka yang tidak berhenti melempar tatapan aneh. "Saya menolak tanggung jawab. Saya gak apa-apain Mira."
Mira membenarkan gurunya. "Lo sensi banget, Sur."
Surya menunjuk Pak Adit. "Lo pingsan gegara dia, Mir. Bukan gue yang sensi."
"Kita ngobrol di luar, Pak. Zafran awasin Mira sebentar," ucap Jefri.
"Setuju." Surya keluar disusul Jefri dan Pak Adit.
Jefri menutup pintu klinik. "Saya gak ngerti alasan bapak kasih tau Mira tentang Indri. Kita sepakat tutup mulut sampai Mira ingat sendiri."
"Saya udah menduga Mira gak akan ingat," gumam Pak Adit merenung.
"Apa alasannya?" tanya Jefri.
"Iya. Apa alasan bapak bocorin ke dia?" timpal Surya.
"Biar saya kasih tau satu hal... " Pak Adit menyuruh mereka mendekat agar dengar baik-baik. "Lebih baik masuk kelas sekarang sebelum saya alpa. Yang sakit Mira, bukan kalian."
"Wah, ngancem." Surya mengetuk pintu, menyuruh Zafran keluar.
Helaan napas Jefri mewakili emosinya saat ini. Biasa saja kala menerima situasi adalah tindakan tepat.
"Jepri. Orang yang berdusta jangan dilepasin. Umur kita beda berapa tahun doang. Jangan kira- "
"Woi, woi, woi. Udah lah ... Berdamai sebelum diabsen," bujuk Zafran merangkul Surya sekaligus membungkam mulut pria itu.
__ADS_1
"Laki-laki yang dipegang adalah janjinya. Seandainya Mira syok dan masuk UGD lagi kita belum tentu bisa atasi dia."
Pak Adit diam seribu bahasa.
"Saya permisi." Jefri menunduk sebelum pergi.
Jefri turut menarik Surya yang masih tidak terima teriak-teriak di koridor.
"Saya tunggu di kelas!"
"Berisik, anjeng!" seru Zafran membalas tepat di telinga Surya.
Biar dia rasakan gendang telinganya mau pecah diteriaki keras.
"Kok ngegas?" sahut Surya.
"Ya lo yang mulai duluan, bangsat! Kuping gue pengang ******!"
Surya tertawa kencang. "Lo bisa berkata kasar, Jap? Haha!"
"Thanks kasih gue info secepatnya, Sur." Jefri melerai mereka dengan mengganti obrolan.
"Gak sebanding," celetuk Surya.
"Pak Adit bilang gimana?" tanya Zafran.
Surya belum cerita keseluruhan apa yang Pak Adit sampaikan hingga Mira pingsan.
Dia cuma menelepon Jefri bilang Mira pingsan dibawa ke klinik sebelum bel masuk istirahat.
"Gue liat dia buru-buru, jadi gue ikutin lah."
Jefri sekali lagi bersabar menghadapi mereka berdua. Yang satu hobi menghindari pertanyaan, satu lainnya mudah larut dalam pembicaraan.
"Pak Adit bilang gimana? Lo utang cerita ke gue.. " ulang Jefri menabok badan pacar Dewi.
"Sedikit gak masuk akal.. " Surya merangkai kata-kata dalam kepala. "Pak Adit mancing Mira nyari si Indri. Mira jawab dia papasan di depan kantor guru."
Zafran tertawa datar atas keterangan saksi. "Mira papasan sama Indri? Di kantor guru?" Membayangkan itu terjadi oleh dia sendiri.
Jefri kaget mereka teriak histeris berpelukan.
"Apaan sih!"
"Berarti Mira liat arwahnya Indri, goblok!" Zafran menaikkan kaki minta digendong ke kelas.
"Anjim, lo berat jangan naik-naik kakinya!" sembur Surya. "Lo ketemu Indri juga, Jep?"
Saat ini Jefri dibuat memikirkan hal yang tak masuk akal.
"Lo, Jap?" Surya mau memastikan orang terakhir yang sering kesurupan.
__ADS_1
Zafran menggeleng, Surya meraung.
"Sekolah kita udah terkutut, Sur!"
"Gara-gara ada lo, bego."
Zafran melepaskan diri dari pelukan dramatis mereka. "Gue?" beonya meletakkan tangan di pinggang.
Dengan raut sok sedih Surya mengungkit ucapan Jefri, Mirza, dan Awan.
"Siapa yang bawa jurig dari sabang sampai merauke? Siapa yang kesurupan tapi setannya dari tempat lain? Siapa yang punya energi gelap di antara kita?"
"Lo berdua bener-bener.. " Lain kali mungkin Jefri harus belajar aji-aji teleportasi.
Di kala begini pria itu ingin lakukan dua hal. Pindah tempat atau menghilangkan mereka.
"Lo pikir gue mau mancing mereka dari seluruh pulau?"
"Berulang-ulang kali iii, telah kupikirkan ... Dirimu hanyalah menarik si jurig.. " Surya bernyanyi pakai nada lagu sambil goyang.
Jefri jalan di depan mengacuhkan mereka yang terus adu mulut di belakang.
Sudah tujuh hari Indri meninggal, Jefri sama sekali tidak lihat jin qorinnya atau jin iseng yang menyamar sebagai Indri.
Indri adalah tumbal pengganti yang kematiannya bukan saat kerasukan, tapi setelah dirasuki.
Menurut pengalaman orang yang pernah selamat dari tumbal semacam itu, jika tidak dikuasai oleh "pemimpin" di sana, maka jiwanya tak bisa dibawa.
Apakah ada jin yang sengaja menampakkan diri berwujud Indri atau Mira halusinasi di kondisi belum fit.
"Kata gue mending ini sekolah didoain, Jef. Bawa Om Pras, Om Haryo, semua keluarga lo ke sini. Ruwat ini bangunan sampe ke akar-akarnya."
"Tiba-tiba?" Yang ditanya mengusap muka istigfar.
"Sebelum lo hengkang dari sini mereka gak mau pergi. Lo dulu yang minggat ke luar kota kek, pelosok desa, atau ke pegunungan buka praktek "Jasa Pemanggilan Arwah" sekalian. Baru Jefri beserta keluarga berkenan ke sini dan dijamin seratus satu persen! Gak ada gangguan lagi."
"Anjrit lo keseringan chatting sama Juan jadi ngikut watak itu bocah," tutur Zafran.
"Kalian chatting-an?" Jefri baru tahu.
Surya nyengir. "Terakhir kemaren."
Mereka sampai di lantai dua.
"Gak usah terlalu dipikirin. Pak Adit mungkin gak bermaksud buruk. Gue yang harus lebih ngawasin dia," pungkas Jefri sebelum mereka pisah dengan Zafran.
"Yang gak gue ngerti ngapain Pak Adit repot-repot nyari Indri ke Mira. Tuh orang patut diselidiki, Jep."
Zafra dengar suara mereka meski pelan sambil berjalan membelakangi.
"Lo pikir gimana?"
__ADS_1
"Pak Adit naksir Mira kali, Jep.. "
"Ah, lo makin gak waras!"